
Melati menghela nafas panjang begitu masuk ke dalam kamar kostnya. Melati memejamkan mata dan berusaha mengatur nafasnya yang mendadak sesak tadi. Dilihatnya tangannya yang masih gemetar tapi tidak separah saat di kampus tadi.
Melati pulang diantar Rara. Rara tidak membiarkan Melati pulang sendirian hanya untuk mendengar lebih banyak gossip-gosip murahan itu. Rara sangat khawatir saat melihat wajah pucat dan tangan Melati yang gemetar hebat. Dia tidak bisa meninggalkan Melati sendirian saat ini.
Dengan langkah pelan Rara duduk di kursi belajar Melati. Ini pertama kalinya Rara melihat wajah Melati yang begitu pucat dan juga tangan yang gemetar hebat. Rara takut kalau Melati dibiarkan sendiri akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kamu mau minum sesuatu?” Tawar Rara, Melati hanya mengangguk. Rara kemudian menuang air dingin ke dalam gelas dan memberikannya pada Melati. Setelah dirasa Melati mulai tenang Rara pun memulai penyelidikannya.
“Kamu udah baikan?” Tanya Rara
Melati memaksakan senyumnya kepada Rara. “Makasih ya” Ucap Melati
“Aku sahabat kamu, ini bukan apa-apa untuk aku” Ucap Rara. “Mungkin ada sesuatu yang mau kamu bagi dengan aku?” Tanya Rara ragu
Melihat Rara entah kenapa Melati sedikit malu. Selama tinggal di ibukota hanya Rara satu-satunya tempat Melati mengadu. Rara yang selalu menemaninya kemana saja, membawanya ke tempat yang belum pernah dikunjungi, mengajarinya berdandan, dan tidak lupa hadiah-hadiah serba mahal itu juga.
Mungkin ini saatnya berbagi. Tidak ada salahnya menceritakan kisah memilukan itu dengan sahabat yang sudah memberikan begitu banyak hal bagi Melati.
“Aku gak tau setelah mendengar cerita ini kamu bakal bereaksi seperti apa” Melati memulai ceritanya. Rara langsung duduk tegap untuk menyimak semua hal yang akan disampaikan Melati.
“Saat kelas 2 SMA aku dikerjai oleh kakak kelasku. Mereka iri karena banyak teman-teman cowok yang dekat denganku. Mereka memfotoku dalam keadaan setengah telanjang, mempostingnya ke media sosial dan memberi caption yang tidak pantas.” Melati menghentikan ceritanya sejenak, memandang ke arah Rara untuk melihat reaksinya. Melihat Rara yang masih fokus mendengarkan, Melati menarik nafas panjang dan memulai kembali kisahnya.
“Saat itu bang Mario yang pertama kali menemukan aku di ruang lab dan langsung membawa aku pulang. Sampai di rumah sudah banyak ibu-ibu tetangga yang berkumpul di teras rumah. Mereka mencaci, menghina, dan memojokkan aku. Di depan semua orang itu ayah menamparku. Tidak ada siapapun yang menolongku waktu itu, termasuk keluargaku sendiri.” Melati kembali menarik nafas. Ada perasaan berat untuk melanjutkan ceritanya.
“Kalau kamu belum siap, kita bisa lanjutkan lain kali” Ucap Rara tulus melihat Melati yang mulai ragu untuk melanjutkan cerita. Melati menggeleng dan tersenyum menatap Rara.
“Ibu-ibu itu juga menghakimiku. Mereka berpikir kalau aku gadis nakal, jadi mereka membawa aku ke rumah sakit yang mereka percayai untuk diperiksa. Mereka memaksaku untuk memeriksa apakah aku masih suci atau tidak” Mendengar hal itu Rara membelalakkan matanya tidak percaya. Itu merupakan sebuah aib besar bagi perempuan manapun.
“Aku benar-benar takut saat itu. Sendirian dihadapkan dengan situasi seperti itu membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Keluarga ku seperti membuang dan mencampakkan aku. Aku sendiri juga jijik dengan diriku. Jadi saat itu satu-satunya hal yang ada dipikiranku adalah mengakhiri hidupku.” Melati menghentikan ceritanya dan menatap Rara.
“Kamu gak apa-apa Ra?” Tanya Melati. Mata Rara tampak mulai berkaca-kaca saat ini.
“Aku gak apa-apa.” Jawab Rara pelan
“Mau aku lanjutkan?” Tanya Melati lagi. Rara mengangguk cepat.
“Saat aku sadar semua keluarga ku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada seorang pun yang membahas kejadian itu. Mereka juga memutuskan untuk memindahkan aku dari sekolah tanpa sepengetahuanku. Semua teman-temanku menghilang begitu saja. Aku benar-benar seperti dibuang. Dan aku kembali mencoba mengakhiri hidupku. Kata dokter aku mengalami trauma hebat.” Melati berhenti sejenak dan mencoba menenangkan dirinya. Membuka kisah itu kembali membuat Melati masih merasa sesak. Setelah dirasa sanggup, Melati mulai bercerita lagi.
“Setelah keluar dari rumah sakit aku pindah sekolah. Setiap tiga kali seminggu aku harus menemui psikiater. Dan begitulah aku sampai lulus SMA. Tidak ada yang mengungkit masalah itu lagi. Bahkan seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi. Dan inilah aku sekarang. Semenjak kejadian itu aku trauma berhubungan dengan banyak orang. Aku selalu berpikiran negative saat bertemu dengan orang baru atau orang yang sekedar aku lewati. Aku berpikir mungkin mereka sedang membicarakanku, mengejekku, atau menertawakanku.” Ucap Melati
“Maaf mel” Ucap Rara dan langsung menghambur kepelukan Melati. Air mata mulai membasahi pipi cantik Rara.
“Kenapa kamu minta maaf?” Tanya Melati bingung
“Aku gak tau kamu punya masa lalu seperti itu. Tapi aku sering maksa kamu untuk melakukan hal-hal yang mungkin gak kamu suka” Jawab Rara diiringi isak tangisnya.
“Astaga Rara. Aku gak pernah sekalipun gak suka saat kamu ajak melakukan apapun. Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu selalu ada untuk aku, menemani, dan mengajari aku hal-hal baru. Tanpa kamu aku gak mungkin bisa seperti sekarang ini. Terima kasih banyak Ra” Ucap Melati tulus.
Rara melepaskan pelukannya dan menatap dalam ke mata Melati. Rara sungguh bersyukur Melati sudah mau membuka diri. Menceritakan kisah yang pasti akan membuat luka di hati Melati kembali terbuka. Meninggalkan rasa sakit dua kali lipat dibanding saat mengalaminya langsung. Karena saat ini Melati harus kembali membongkar semua ingatan itu, menyaksikan potongan-potongan cerita yang terkubur jauh di memorinya, dan membaginya dengan orang lain.
“Oh iya kalau aku boleh tau Mario itu siapa? Tadi kamu sempat nyebut nama itu.” Tanya rara
“Abang aku” Jawab Melati
“Abang kandung?” Tanya Rara memastikan
“Iya. Bukannya aku pernah bilang kalau aku punya abang?” Melati balik bertanya.
Radar di kepala Rara langsung menyala.
“Kalau adiknya cantik kayak Melati berarti abangnya ganteng juga dong” Batin Rara sambil tersenyum
“Mel, boleh aku menginap malam ini?” Tanya Rara
Alis Melati bertaut tajam. Semua cerita Melati hari ini membuat Rara melupakan sesuatu.
“Sekarang sudah jam empat sore, dan seingatku harusnya kamu pergi makan malam dengan mama kamu jam enam sore” Ucap Melati mengingatkan Rara.
Malam ini Rara dan mamanya diundang dalam perjamuan makan malam salah satu rekan bisnis mama Rara. Rara sudah menolak permintaan mamanya untuk hadir di acara tersebut, baik secara halus maupun kasar. Tapi mama Rara tetap bersikeras bahwa satu-satunya penerus perusahaan harus mulai hadir di acara-acara seperti itu.
“Astaga aku lupa. Mama bisa merajuk kalau aku sampai tidak datang. Lagipula apa mereka tidak punya hari lain untuk membuat acara makan malam. Coba kamu pikirkan Mel, siapa orang di dunia ini yang membuat acara jamuan makan malam di hari senin” Celoteh Rara
“Rekan bisnis mama kamu” Jawab Melati polos
“Arghh..” Keluh Rara. Sahabatnya masih terlalu polos. Rara harus mengajarkan sesuatu yang baru lagi untuk Melati lain kali.
Dengan langkah buru-buru Rara mengambil tasnya dari atas meja belajar Melati, memakai sepatunya dan berlari buru-buru keluar kamar. Sampai di mobil Rara menurunkan kaca jendela mobil.
“Besok kita ada kelas. Kamu juga harus ketemu dosen pembimbing kamu, belum lagi buku yang kamu cari belum semuanya terkumpul. Aku akan jemput kamu jam 9” Teriak Rara. Rara hanya ingin memastikan besok dirinya dan Melati masih dapat bertemu.
Melati sadar akan maksud dari perkataan Rara. Melati tidak pernah lagi punya niatan untuk melukai atau mengakhiri hidupnya. Dirinya sudah membaik saat ini. Dan Melati nyaman akan hal itu.
Dengan senyuman manis Melati melambaikan tangannya ke arah Rara. Menunggu sampai mobil Rara tidak kelihatan lagi, baru Melati masuk ke dalam kostnya.
\*\*\*
Sejak di kampus tadi Rara mematikan handphone milik Melati. Alasannya tentu saja agar Melati tidak membaca isi grup kelas yang sibuk bercerita tentang gossip tidak berdasar itu. Dan benar saja saat Melati mengaktifkan kembali handphonenya ada ratusan pesan yang di dominasi oleh grup kelas dan angkatannya.
Melati mengabaikan semua pesan-pesan itu dan memilih mencari kontak Adnan. Tadi Melati harusnya pulang bersama Adnan. Tapi karena gossip itu, Rara memaksa untuk mengantar Melati.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dan juga pesan dari Adnan. Semuanya menanyakan dimana posisi Melati dan apakah Melati marah padanya.
Dengan senyuman Melati mengetikkan pesan untuk Adnan.
“Maaf aku pulang duluan tadi. Besok apakah kita bisa pergi bersama lagi”