
Sebulan berlalu sangat cepat bagi Mama Melati. Tidak ikhlas untuk melepas kembali kepergian putri kecilnya ke ibukota.
Hari-hari Mama Melati lalui seperti roda yang berputar amat cepat. Melihat bagaimana putri kecil kesayangannya terus bertumbuh membuatnya tidak rela jika harus berpisah lagi, walau hanya untuk beberapa bulan.
Wajah Mama Melati sudah cemberut sejak pagi sebelum mengantar Melati ke bandara. Melati memilih hari Sabtu untuk kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu. Hari minggu akan dihabiskannya untuk beristirahat. Karena memilih hari sabtu untuk kembali maka hanya Mama Melati yang bisa mengantar ke bandara. Ayah dan abang Melati tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka.
“Kamu ingat yang Mama bilang kemarin kan? Jangan pikirkan ayah dan abangmu, pokoknya Mama akan selalu mendukung setiap keputusan kamu. Baik maupun buruk. Kamu akan tetap sama di mata Mama.” Mama Melati tampak tak mau melepas pelukannya
“Melati sedang berusaha Ma” Ucap Melati
Panggilan memasuki pesawat membuat Mama Melati dengan enggan melepas pelukannya. Menatap dalam ke bola mata Melati dan menarik garis senyuman di pipinya.
“Langsung telpon kalau sudah sampai di sana.” Melati hanya tersenyum dan mulai melangkah menjauh dari Mamanya.
Sampai Melati menghilang dari pandangan, Mama Melati masih tetap setia berdiri di tempatnya. Mengingat bagaimana Melati bisa sampai pada titik ini membuat Mama Melati bersyukur. Dia sempat mengira akan kehilangan satu-satunya putri kesayangannya.
\*\*\*
Melati berdiri dengan dua koper di sampingnya. Karena ulah sang Mama, Melati harus menambah sebuah koper lagi untuk membawa semua barang-barangnya. Sambil terus mengecek handphone Melati berdiri menunggu taxi yang sudah dipesan.
Selama perjalanan menuju kost, Melati terhanyut dalam lamunan. Matanya terus menatap ke arah jalanan yang macet. Ingatan akan pesan abangnya sebelum pulang membuat Melati berpikir keras.
Dia tidak baik-baik saja selama ini. Dia hanya berusaha tampak baik. Kenangan akan air mata yang menetes dari mata indah Mamanya membuat Melati sadar. Bahwa bukan hanya dia yang menanggung beban berat. Keluarganya juga mengalami hal itu.
“Kamu sudah baik-baik saja kan?” Tanya Mario saat Melati tengah sibuk menyusun pakaian di koper.
Melati ingat hanya tersenyum menjawab pertanyaan abangnya itu. Senyum yang sudah terbiasa dilakukannya selama empat tahun belakangan. Senyum yang seolah menyatakan tolong jangan ingatkan aku lagi soal itu. Senyum palsu yang Melati sendiri kagum akan keahliannya menyembunyikan segala perasaan yang membebani hati. Melati hanya ingin melupakannya saja.
Sampai di kost Melati langsung membersihkan kamar. Mengganti alas tempat tidur, membersihkan debu yang menempel di perabotan, menyapu, mengepel, dan terakhir membongkar isi kedua kopernya.
Kamar yang ditinggalkan selama sebulan membuat tidak sedikit debu yang menempel. Melati senang saat melihat keadaan kamarnya yang sudah kembali bersih. Melati menyemprotkan banyak pengharum ruangan untuk menghilangkan bau pengap. Melati membenci bau udara pengap di ruangan manapun dia berada.
Dering ponsel membuat Melati menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut. Setelah selesai membersihkan kamar, Melati langsung mandi dan akan tidur. Tapi dering tadi menandakan bayangan Melati akan indahnya tidur lenyap.
“Aku tunggu kamu di café dekat ujung jalan. Jam lima sore. Jangan sampai gak datang. Aku bawa oleh-oleh dari New Zealand.” Isi pesan dari Rara
Melati melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Berarti dia harus bersiap-siap sekarang. Bukan mengharapkan oleh-oleh yang ditawarkan oleh Rara. Tapi Melati memang benar-benar merindukan sahabatnya itu.
Melati membuka lemari pakaian dan menatap baju baru yang di belikan Mamanya waktu itu. Tidak ada salahnya kan membuat Rara terkejut dengan penampilan baru, pikir Melati. Melati menarik baju atasan berwarna biru muda dan celana jeans.
Melati memperhatikan dirinya sendiri di depan cermin. Tersenyum senang karena melihat pakaian yang sangat pas dikenakannya. Melati akan membuat Rara terkejut dengan penampilan barunya. Rambut lurus sepinggang sudah dipotong menjadi sepunggung dan ditambah lagi dengan poni manis.
Setelah dirasa cukup Melati mematut kembali dirinya di depan cermin.
“Kalau segini kayaknya masih kurang” Ucap Melati dan melirik pada seperangkat alat make up yang tersusun rapi di meja.
Melati sudah terbiasa memakai make up, bukan untuk dirinya tapi untuk Rara. Rara sengaja mengajari Melati menggunakan semua alat kecantikan itu. Alasannya agar Melati bisa membantu Rara untuk mendandani wajahnya. Tapi itu semua hanya alasan klise. Rara hanya ingin Melati menjadi seorang gadis imut nan menggemaskan yang pandai merias diri.
Melati menatap bangga akan hasil karya nya. Melati menambahkan perona wajah dan lipstick yang kemarin dia beli bersama sang Mama. Hanya dua benda itu saja sudah mampu memancarkan kecantikan Melati berkali lipat.
\*\*\*
“Orang-orang akan berpikiran aneh” Ucap Melati, Rara yang tersadar langsung memundurkan wajahnya dan berdehem kaku.
“Kamu baik-baik aja kan Mel?” Tanya Rara ragu
“Apa aku kelihatan gak baik-baik aja Ra?” Melati balik bertanya. Rara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
“Kamu baik-baik aja. Malah sangat baik. Aku bersyukur kamu pulang ke rumah. Sebulan di rumah membawa dampak yang amat sangat positif buat kamu” Celoteh Rara
“Dan aku harap kamu juga baik-baik aja setelah berbicara panjang lebar gitu” Melati menyodorkan segelas jus apel yang ada di hadapan Rara. Rara langsung menyambar gelas tersebut dan menyeruputnya panjang.
“Aku harus rajin-rajin nyuruh kamu pulang ke rumah tiap ada kesempatan. Itu sangat bagus untuk kita berdua” Ucap Rara
“Kenapa kita berdua?” Tanya Melati bingung
“Soalnya dengan kemajuan kamu seperti ini akan membuat aku juga ikut maju. Kalau kamu bisa sedikit saja lebih terbuka, bakalan banyak cowok-cowok di luaran sana yang datang mendekat. Siapa tahu salah satunya jodoh aku yang ikut terpesona sama kecantikan kamu” ucap Rara panjang lebar.
Melati hanya tersenyum mendengar perkataan Rara. Rara pasti sedang dalam mode senang luar biasa. Suasana hati Melati ikut naik melihat Rara yang masih terus berceloteh.
“Oleh-oleh” Rara mendorong sebuah kotak berwarna pink ke dekat Melati. “Buka sekarang aku pengen lihat kamu pakai” Sambung Rara
Melati membuka kotak yang hanya berukuran 5x5 cm itu dengan perlahan. Isinya sebuah gelang emas berukirkan bunga-bunga kecil. Gaya yang sangat sederhana tapi entah kenapa kelihatan berkelas. Gelang kecil yang kalau dipasangkan di tangan Melati pasti akan menambah kesan imut.
“Aku gak bisa terima” Ucap Melati
“Itu harus diterima Melati. Oleh-oleh kali ini bukan dari aku tapi dari papa. Harganya murah kok, gaun hitam yang aku kasih waktu ulang tahun kamu lebih mahal dibandingkan gelang ini” Ucap Rara
Melati mengernyit tidak enak. Rara memang anak keluarga kaya raya. Kedua orangtuanya sama-sama menjalankan perusahaan besar. Dan Rara adalah anak mereka satu-satunya. Kesibukan akhirnya membuat kedua orang yang saling mencintai itu memutuskan berpisah.
“Jangan pandang aku dengan tatapan seperti itu Melati. Kalau kamu gak suka ya udah, biar aku kembalikan sama papa” Rara hendak menarik kotak di hadapan Melati. Tapi Melati dengan cepat membawa kotak itu ke pelukannya.
“Aku terima” Ucap Melati.
Melati tidak bisa membiarkan Rara mengembalikan gelang ini pada papanya. Melati pernah berjumpa sekali dengan Papa Rara. Dan Papa Rara sama persis seperti anaknya.
Mereka akan menggerutu dan membahas soal itu terus-menerus tanpa henti. Membayangkan Rara yang akan membahas gelang seminggu penuh membuat Melati bergidik ngeri. Apalagi jika ditambah dengan Papa Rara. Perlu diketahui Papa Rara menyimpan kontak Melati. Dan setidaknya sebulan sekali akan menghubungi Melati menanyakan tentang Rara.
Melati langsung memakai gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Terlihat sangat manis dan imut. Gelang berwarna keemasan itu tampak sangat kontras dengan kulit putih Melati.
Melihat Melati yang sudah mengenakan gelang pemberian papanya membuat Rara sangat senang. Rara meraih tas kecilnya dan bangkit berdiri. Membuat Rara menoleh kebingungan.
“Aku melakukan semua ini demi kebaikan kamu. Jangan marah sama aku” Ucap Rara cepat dan segera berlari meninggalkan Melati yang masih duduk keheranan.
Seseorang tampak langsung menempati kursi bekas Rara duduk tadi. Melati terkejut setengah mati melihat orang yang sekarang sedang tersenyum manis dan duduk di hadapannya.
“Aku harap kamu gak langsung pergi meninggalkan aku. Aku sudah menunggu sebulan penuh” Ucap Adnan.