Before 25

Before 25
Bab 21 Salahkah Aku



Sepulang kuliah Melati langsung menuju salah satu ruang kelas yang kosong. Malam tadi Silvi kembali mengirim pesan meminta bertemu dengan Melati. Melati sengaja datang sendiri. Dia ingin berusaha menyelesaikan masalahnya kali ini. Bukan menjadi penakut yang selalu berlindung dibalik pundak orang lain.


Dengan segenap kekuatan hati Melati melangkah menuju ruang kelas yang berada di pojok bangunan kampus mereka. Ruang kelas tersebut merupakan kelas tambahan. Jarang sekali dipakai kecuali ada kegiatan organisasi atau mata kuliah tambahan dimana semua kelas lain sedang dipakai.


Melihat ruang kelas yang berada jauh di pojok bangunan dan suasana yang sepi, Melati kembali teringat kejadian kelam itu. Semuanya tepat seperti sekarang ini. Sore hari dimana sebagian besar mahasiswa sudah pulang, atau kalaupun masih ada pasti berada di bagian depan kampus. Tidak ada yang berkeliaran ke bagian paling belakang kampus ini kalau bukan karena ada kegiatan penting.


Sejenak Melati ragu untuk melanjutkan langkahnya. Tidak ada siapapun yang tahu Melati ada di sini. Baik Rara maupun Adnan. Kalau terjadi sesuatu yang buruk, tidak akan ada siapapun yang menolongnya. Rasa ragu itu kemudian berubah menjadi rasa takut. Bagaimana kalau mereka melakukan sesuatu yang lebih buruk dibandingkan dulu. Melati tidak akan sanggup untuk menghadapi hal itu lagi.


Melati berhenti sebentar dan mengeluarkan handphonenya. Dengan cepat Melati mengetikkan sesuatu dan berharap orang tersebut bisa cepat menyusulnya. Mungkin dia belum terlalu jauh, pikir Melati.


\*\*\*


Suasana yang sepi membuat rasa takut semakin melingkupi hati Melati. tapi ini bukan saatnya untuk itu. Melati teringat janjinya dengan Bu Mirna, hanya dua hari tersisa untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Silvi. Melati harus bertanggung jawab dengan perkataannnya tempo hari.


Menghilangkan semua rasa takut Melati lalu melangkah masuk ke ruang kelas yang pintunya tidak tertutup itu. Melati merasa sangat lega karena mendapati hanya Silvi seorang yang berada di situ.


“Apa yang mau kamu bicarakan?” Tanya Melati dan membuat Silvi menghentikan aktivitasnya bermain handphone.


“Aku mau kamu pisah dari Adnan” Ucap Silvi


“Kenapa aku harus?” Tanya Melati lagi


“Karena aku suka sama Adnan” Jawab Silvi, nada suaranya sedikit bergetar menjawab pertanyaan Melati.


“Tapi Adnan gak suka sama kamu” Ucap Melati datar. Silvi memandang Melati dalam diam. Pandangan itu sulit diartikan sekarang bagi Melati.


“Kenapa kamu harus hadir ditengah-tengah kami? Sebelum kamu datang aku dan Adnan baik-baik saja. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Karena kamu sekarang semua orang menghindari aku” Suara Silvi yang bergetar kini bisa dirasakan oleh Melati.


“Apa ada yang salah sebelum kami bertemu? Kenapa dia seperti ingin menangis?” Batin Melati. Melihat Melati yang diam saja, Silvi merasa diabaikan. Silvi merasa marah saat ini.


“Jawab aku. Kenapa kamu harus datang ke kehidupan aku? Selama ini aku gak pernah berbuat jahat sama orang lain, tapi karena kamu aku harus melakukan hal-hal kotor yang aku sendiri sangat membencinya.” Ucap Silvi frustasi


“Aku ingin bertahan hidup” Ucap Melati pelan. Silvi yang mendengar itu menjadi kebingungan sendiri. Raut wajah Melati langsung berubah muram saat mengatakan itu.


“Bertahan hidup maksudnya?” Gumam Silvi


Melati lalu tersenyum dan menatap langsung ke bola mata Silvi. “Aku harus melakukannya demi bertahan hidup. Aku butuh orang-orang yang bisa mengerti tentang aku, aku butuh orang-orang yang bisa selalu ku andalkan, aku juga butuh perhatian dari banyak orang. Aku adalah manusia egois yang saat ini sangat mengharapkan kehadiran banyak orang disekitarku. Aku benci saat aku harus selalu mengurung diri sendirian sedangkan banyak orang diluar sana sedang asyik dengan teman-temannya. Aku pantas bertahan hidup bukan?” Ucap Melati masih tersenyum.


Senyuman itu terlihat menakutkan bagi Silvi. Bagaimana bisa ada orang yang mengatakan kelamnya kehidupan sambil tersenyum seperti itu.


“Tapi kenapa harus dengan Adnan?” Silvi mengumpulkan kekuatan untuk kembali memaksa Melati berpisah dengan Adnan. “Kamu tahu kan aku suka sama Adnan”


“Dari awal aku hanya ingin mencari banyak teman, bergaul dengan banyak orang. Aku tidak tahu kenapa sekarang aku malah menjalin hubungan dengan Adnan. Aku juga tidak pernah berniat untuk menjadi penghalang cinta kamu dengan Adnan. Semua terjadi begitu saja” Jawab Melati tenang


“Kalau begitu tidak ada alasan kamu untuk mempertahankan hubungan kalian bukan? Kamu dan Adnan bisa berpisah saat ini juga bukan?” Tanya Silvi memastikan


Silvi yang sangat berfokus kembali keheranan karena Melati sudah tertawa terbahak-bahak sekarang. Melati bahkan melap air mata yang sempat keluar dari sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.


“Apa yang salah dengan orang ini?” Batin Silvi


“Kamu tidak berhak ikut campur dengan kehidupanku. Kamu bukan siapa-siapa, untuk ku dan juga Adnan. Jangan pikir aku akan menuruti kata-kata kamu, mengangguk seperti hewan peliharaan. Aku sudah melalui begitu banyak hal di dunia ini, melebihi yang bisa kamu bayangkan. Jadi kalau saat ini kamu masih berpikir untuk menjelek-jelekan aku, kamu harus berhenti” Nada suara Melati berubah rendah


“Aku bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk dari yang kamu lakukan saat ini. Aku bukan orang yang pemaaf asal kamu tahu. Selama ini aku diam karena aku kasihan dengan kamu. Kamu terlalu berharap banyak dari orang lain. Belajarlah untuk tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain. Hidup kamu akan sangat menyedihkan” Silvi terkejut dengan nada suara Melati yang rendah tapi sarat akan ancaman. Silvi bahkan sampai merinding mendengar semua perkataan Melati. Tak pernah Silvi sangka bahwa Melati akan mengeluarkan kata-kata yang begitu menyeramkan seperti ini.


“Kamu bilang pada orang-orang kalau aku ini perempuan tidak benar. Aku bisa tunjukan pada kamu bagaimana sebenarnya perempuan tidak benar itu. Atau haruskah kamu yang langsung mempraktekkannya? Ucap Melati dengan penuh penekanan


“Berhenti mel.” Teriak Silvi. Silvi benar-benar tidak sanggup lagi mendengar semua kata-kata yang diucapkan Melati. Silvi adalah gadis yang baik. Semua ini terjadi hanya karena rasa cemburu semata. Tidak pernah sekalipun dalam hidup Silvi mengganggu kehidupan orang lain. Dan kali ini Silvi benar-benar takut, pandangan Melati seperti orang yang putus asa dan bisa melakukan apa saja. Silvi benci untuk mengakuinya, tapi sepertinya Silvi harus merelakan Adnan.


“Kenapa? Bukannya kamu yang bilang sendiri. Melati adalah gadis simpanan, semua hal yang Melati miliki sekarang adalah hasil Melati merayu om-om. Aku bisa buat kamu jadi gadis seperti itu. Mau aku ajarkan?” Tanya Melati


“Stop. Aku bilang berhenti. Aku gak akan ngomong kayak gitu lagi. Tolong berhenti bicara seperti itu dan juga jangan menatap aku dengan pandangan menakutkan itu. Aku akan menjauhi kalian berdua. Aku mohon” Ucap Silvi memelas


“Aku tidak pernah bilang seperti itu, tapi kamu sendiri yang memintanya. Jadi baiklah, aku akan melakukan sesuai apa yang kamu minta” Melati mengedikkan bahunya tidak perduli


“Baik, sekarang aku akan pergi. Jangan beritahu ini pada siapapun” Ucap Silvi dan langsung bergegas untuk keluar.


“Tunggu.” Langkah kaki Silvi langsung berhenti. “Tentang aku dan Adnan. Mungkin kami seperti takdir” Ucap Melati, Silvi tidak mau ambil pusing lagi. Dengan cepat Silvi langsung pergi meninggalkan Melati sendiri di kelas itu.


Di pertengahan jalan Silvi melihat Adnan berjalan ke arahnya.


“Jangan ganggu Melati lagi. Aku kan sudah bilang tadi” Ucap Adnan dingin


“Kalian berdua sama-sama menyeramkan” Ucap Silvi dan berlalu pergi


\*\*\*


Melati duduk di salah satu kursi yang kosong. Adnan mungkin datang sebentar lagi.


Begitu melihat Adnan memasuki ruang kelas, Melati langsung berdiri dan menghambur kepelukan Adnan. Adnan yang terkejut hanya bisa membalas pelukan Melati.


“Aku ingin semuanya.” Ucap Melati lirih


“Maksudnya?” Tanya Adnan bingung


“Semua hal tentang kamu” ucap Melati dan menatap Adnan dengan penuh pandangan cinta. Melihat itu Adnan tidak bisa mengendalikan dirinya. Dengan cepat Adnan mencium bibir Melati lembut. Melati terkejut bukan main, tapi merasakan bagaimana lembutnya Adnan memperlakukannya. Melati hanya bisa mengikuti alur baru yang diberikan Adnan untuknya.


“Manis” Ucap Adnan saat melepaskan tautan bibir mereka. Adnan masih setia memeluk tubuh Melati. “Wajah kamu mungkin akan mengeluarkan api sebentar lagi” Ledek Adnan, Melati langsung melepas pelukan Adnan.


“Ayo pergi” Ucap Melati terbata


Adnan lalu mengikuti langkah kaki Melati. melihat Melati berjalan di depannya.


“Maaf mel. Mungkin aku akan menjadi laki-laki brengsek nantinya bagi kamu” Batin Adnan