
Rasa yang dipendam itu tidak baik untuk kesehatan jiwa.
Tanpa mereka sadari sejak awal Silvi menatap Melati tajam. Saat tau bahwa Adnan akan datang bersama Melati, Silvi langsung menunjukkan rasa tidak suka. Senyuman yang ditampilkan pun penuh dengan kebohongan. Dalam hati Silvi terus memaki tidak suka pada Melati.
Silvi merasa tidak adil. Sudah lama dia memendam perasaan pada Adnan. Awal ikut pada acar kumpul-kumpul ini pun didasari pada rasa penasaran akan sosok Adnan yang sebenarnya. Silvi ingin mencari tahu lebih banyak tentang lelaki itu. Dengan mengikuti acara kumpul-kumpul ini akan memudahkan niat Silvi serta bisa membuatnya lebih dekat dengan Adnan.
Tapi saat dirinya belum memulai langkah apapun. Dengan hanya berpura-pura fokus menjadi gadis lugu tanpa ada menunjukkan perasaan khusus. Gadis itu datang. Silvi berpikir bahwa Melati bukanlah pesaing atau apapun yang dapat membahayakan hubungannya dengan Adnan. Tapi dia salah. Baru dua kali Adnan bertemu dengan Melati tampaknya dunia Adnan sudah teralihkan sepenuhnya.
Tampak sejak datang tadi Adnan tidak pernah melepaskan pandangannya dari Melati. Meskipun Melati terlihat sedang mengacuhkan Adnan. Tapi Silvi tahu betul, Melati juga sedang berusaha mencari perhatian Adnan. Setiap kali Melati tersenyum, maka Adnan akan melemparkan sejuta binar kebahagiaan dari matanya. Itu membuat Silvi jengah.
Dan saat ini kedua manusia itu tak lagi tampak di mata Silvi. Tadi setelah kembali dari toilet Silvi sudah tak menemukan keberadaan mereka berdua. Bertanya pada Rara, Rara hanya mengatakan urusan pribadi.
“Urusan pribadi apa yang mereka miliki sampai menghilang lebih dari sejam” Maki Silvi dalam hati.
\*\*\*
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi suasana café malah tampak semakin ramai. Malam minggu rupanya memberikan dampak yang cukup besar bagi muda mudi untuk bertahan lebih lama di luar rumah.
Karena udara yang semakin dingin membuat Adnan dan Melati memutuskan kembali berkumpul dengan teman-temannya.
Mereka juga merasa tidak enak karena sudah pergi terlalu lama. Saat sampai di meja pandangan dari teman-temannya semua berbeda. Ada yang tersenyum manis, ada yang menatap malas, dan ada pula yang marah. Marah. Membuat Melati semakin merasa tidak enak.
Acara ini adalah acar kumpul bersama. Tidak seharusnya dia menghilang dalam waktu lama atau bahkan tidak seharusnya dia pergi meninggalkan teman-temannya. Teman yang susah untuk digapainya.
“Apa setelah ini mereka akan menolak kalau aku ingin bergabung” Batin Melati sedih.
“Lama ya, sampai lupa waktu” Sindir Ridwan
Melati meringis mendengar sindiran Ridwan.
“Maaf ya” Ucap Melati pelan. Menyadari nada suara Melati, Ridwan jadi merasa tidak enak. Dia hanya bercanda.
“Ya ampun Mel, gak apa-apa kali. Kalau kalian mau pulang duluan juga gak masalah, aku cuma bercanda tadi” Ucap Ridwan gelagapan
“Udah deh, jadi gimana ni Mel. Ada peje gak buat kita malam ini?” Seru Mona
“Peje apaan sih. Ngawur lo semua” Adnan akhirnya angkat bicara karena Melati hanya diam saja.
“Nih peje nya” Ucap Rara sambil menyodorkan banana cake di hadapan mereka semua.
“Wih gercep juga ni Melati. Baru juga balik dari berduaan, peje nya dah nongol depan mata” Ucap Dodi dan segera mencomot sepotong kue.
Mata Melati juga berbinar senang. Itu adalah kue kesukaannya. Ingin rasanya tangan Melati langsung meraih kue-kue itu. Namun rasa malu langsung menyelimutinya. Masa baru kembali langsung ambil kue orang sembarangan.
“Gak mau?” Tawar Adnan yang sudah menguyah sepotong kue.
Melati tidak menjawab Adnan, dia malah mengedarkan pandangannya memperhatikan mereka satu per satu. Setelah di rasa aman Melati lantas mengambil juga sepotong kue.
Senyum yang terbit di bibir Melati menutup cerita malam mereka.
\*\*\*
Melati baru bangun saat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Semalam dia baru sampai rumah pukul 11 malam lewat. Syukur dia tinggal jauh dari orang tua dan abangnya yang super overprotektif itu. Kalau tidak sudah dipastikan Melati tidak akan muncul di kampus lagi besok.
Dengan malas Melati meraih handphone yang diletakkan sembarangan di tempat tidur. Membuka aplikasi pesan dan melihat ada banyak pesan di sana. Ada dari Rara, Adnan, dan juga satu nomor baru. Melati membuka pesan dari Rara terlebih dahulu dan isinya sudah dipastikan adalah godaan. Setelah membalas pesan dari Rara, Melati lalu membuka pesan Adnan.
“Ahhhh” Senyum langsung terkembang di wajah Melati, saking senangnya Melati sampai berguling-guling di tempat tidur dan memekik tertahan. Wajahnya dibenamkan ke bantal sementara kaki nya sibuk menendang-nendang kasur.
“Hai Mel, aku cuma mau ngabarin aku udah sampai kost” Isi pesan pertama Adnan
“Aku senang hari ini bisa jalan bareng kamu. Rasanya kayak mimpi tau gak. Tadinya aku udah siapin kejutan kecil buat kamu. Tapi karena keteledoran aku, rencananya gagal. Tapi aku tetap senang Mel, karena keteledoran itu aku bisa lebih dekat sama kamu. Aku juga bisa belajar hal baru dari kamu. Aku harap kita bisa lebih dekat lagi. Selamat malam Melati”
Melati tidak bisa lagi menahan senyum yang sedari tadi muncul. Rasanya panas dan ada gejolak aneh dihatinya. Perasaan berdebar, perasaan nyaman dan dilindungi. Membuat Melati lupa bahwa Adnan adalah orang baru yang tiba-tiba merangsek masuk dalam pola kehidupannya.
Setelah lama menimbang-nimbang apakah perlu membalas atau tidak pesan Adnan, Melati memutuskan untuk tidak membalasnya.
Melati tidak tahu harus mulai dari apa, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana kalau rasa nyaman ini semakin menjalar dan mengakar kuat di dasar hatinya. Melati tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Mengabaikan membalas pesan Adnan, Melati lanjut membaca isi pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.
“Ini gue Silvi. Gue gak suka lo dekat dan sok cari perhatian sama Adnan. Sejak lo datang Adnan jadi cuekin gue. Gue harap lo sadar diri”
Senyuman yang sejak tadi terkembang perlahan memudar. Rasa nyaman yang tadi menyelimuti, yang memberi kedamaian pada relung hati mendadak menghilang. Melati merasa sesak membaca pesan itu.
“Aku merusak semuanya” Ucap Melati.
Dengan kasar dimatikannya benda persegi itu dan menimpanya dengan bantal.
Diam sejenak, Melati memandang kosong pada langit kamar. Dan air itu menetes dari sudut matanya. Dia baru menyelesaikan satu dari empat to do list nya. Dia tidak ingin mengacaukan semuanya. Dia tidak mungkin mengulang semua dari awal lagi.
Merenungi kejadian di waktu itu dan mengingat kembali hal-hal baru yang dilakukan belakang ini, Melati sadar akan satu hal. Dirinya terlalu memaksakan diri. Memaksa masuk pada lingkaran pertemanan dan menjadi objek baru di tengah-tengah lingkaran itu.
Lingkaran yang semula bulat sempurna kini sudah berganti bentuk. Dengan satu objek baru di tengahnya. Melati tidak menginginkan itu semua terjadi. Dia memang masih harus mewujudkan semua to do list nya tapi bukan dengan menjadi pengacau.
\*\*\*
“Kamu lihat Melati gak?” Tanya Adnan pada salah seorang mahasiswi. Gelengan kepala membuat Adnan semakin frustasi. Sudah sebulan penuh Melati menghilang. Pesan dan juga telpon dari Adnan diabaikan. Melati bahkan tidak pernah lagi hadir di acara kumpul-kumpul mereka.
Adnan sudah berulang kali bertanya pada Rara. Jawaban Rara selalu sama. Tidak tahu.
Rara sudah mengatakan sulit sekali untuk mencari tahu urusan kehidupan Melati. Bahkan bagi diri Rara sendiri. Satu-satunya orang terdekat Melati di kota ini.
Melati memang tidak menghindari Rara secara langsung, tapi Rara juga merasa bahwa tingkah Melati sudah di luar batas kewajaran. Dan Rara memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini. Dengan Melati menolak ikut di acara kumpul-kumpul mereka yang berlangsug 2 kali sebulan, sudah cukup menjadi alasan kuat bagi Rara.
Salah satu dari mereka berenam pasti membuat Melati tidak nyaman. Sehingga Melati memutuskan untuk pergi.
\*\*\*
Ujian semester ganjil telah selesai. Melati juga telah memesan tiket penerbangan untuk pulang ke kota tempat tinggalnya. Setelah sampai di kost Melati hanya harus mandi dan langsung berangkat ke bandara.
Saat tengah berjalan sendiri menuju kost. Melati dikejutkan dengan hadirnya Ridwan, menghentikan langkah kaki Melati yang semula berjalan dengan cepat.
“Buru-buru banget Mel. Mau aku antarin sampai kost?” Tanya Ridwan dari atas motor
Melati yang kaget langsung menolak halus tawaran Ridwan. “Gak usah, aku gak apa-apa kok”
“Jangan gitu mel. Kita kan teman. Masa teman gak boleh cuma sekedar antar sampai kost. Ayo, lagian panas banget loh” Ucap Ridwan dan menyodorkan sebuah helm.
Melati yang merasa bingung harus menolak dengan alasan apa kemudian mengangguk. Memakai helm dan naik keboncengan Ridwan.
\*\*\*
“Ternyata hanya menjauhi aku ya Mel” Ucap Adnan dari kejauhan