
"Tenanglah, aku akan dengan senang hati mengantarmu jika kau ingin pergi kemana pun itu."
Ucapan Zayn memang terdengar sederhana seolah tidak mengandung makna berarti namun itu sungguh menggetarkan hatiku, membuatku hanya bisa mengulas senyum sambil menyapukan pandangan kepada kelap-kelip lampu dari arah perkotaan yang nampaknya sudah semakin dekat.
"Terima kasih, Zayn."
Zayn hanya berdeham menanggapi, membuatku memilih untuk menikmati pemandangan indah dari ketinggian yang tersaji di hadapanku kini.
Semilir angin yang menubruk wajahku menimbulkan sensasi sejuk menyenangkan yang membuat perasaanku terasa jadi lebih membaik.
Perlahan namun pasti, keramaian kota Kopenhagen di musim dingin yang begitu aku rindukan mulai datang menyapa tatkala aku dan Zayn mulai memasuki kota Kopenhagen yang menjadi tujuan utama kami malam ini.
"Genggam tangan kananku, Ada. kita harus terbang lebih tinggi agar orang-orang itu tidak melihat kita," imbau Zayn saat menyadari masih begitu banyak orang yang berlalu lalang dengan berjalan kaki meski malam sudah semakin larut.
Aku mengangguk, meraih tangan kanan Zayn lantas menggenggamnya erat.
Dia kemudian membawaku terbang lebih tinggi dengan radius yang sekiranya lebih aman.
"Kota ini sangat cantik, kurasa wajar kalau kau begitu merindukannya."
Aku berpaling, memandang kepada Zayn dengan seulas senyum tipis di bibirku. "ya, bagiku tak ada kota yang lebih indah di Eropa dari pada Kopenhagen, tempatku lahir."
Zayn mendengus geli. "aku memang belum pernah berkeliling Eropa tapi aku setuju kalau tidak ada kota di tepi sungai yang bisa sangat menawan seperti kota ini."
Bangunan-bangunan di kota Kopenhagen kebanyakan bergaya arsitektur abad pertengahan dengan atap yang tinggi serta dinding batu yang kokoh dengan cat beraneka warna.
Air tenang yang mengalir dari sungai Sont juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Kopenhagen sehingga aku tak pernah bisa melupakan kota yang menjadi tempat kelahiranku itu sejauh apa pun aku pergi.
'KRUYUUUKKK...'
Pipiku kontan berubah menjadi merah padam saat menyadari suara memalukan itu berasal dari perutku yang menjadi kembali lapar setelah terbang cukup jauh dari hutan ke kota ditengah cuaca yang memang masih cukup dingin walau tak lagi membuat air di sungai Sont membeku.
Zayn kontan tergelak dengan cukup keras.
"apa tiga potong besar ayam yang dengan susah payah aku panah tadi tak juga membuat perutmu kenyang?"
Aku benar-benar malu, namun aku tidak bisa mengelak bahwa aku memang sebenarnya lapar. Lagi pula siapa yang bisa menahan lapar ditengah dinginnya cuaca terlebih saat sedang terbang seperti seekor burung begini?
"Maaf aku jadi lapar lagi," cicitku malu-malu dengan pipi yang memanas dan aku yakin pipiku sekarang sudah semerah udang rebus!
Tawa Zayn semakin keras, namun ia perlahan-lahan menurunkan ketinggian terbangnya seperti sedang mencari tempat pendaratan yang aman. Beberapa saat berlalu hingga akhirnya Zayn dan aku berhasil mendarat di belakang sebuah bangunan bertingkat tiga yang sepertinya merupakan sebuah apartemen dengan biaya sewa murah dengan jarak beberapa ratus meter saja dari pusat kota.
"Di depan sana sepertinya banyak yang menjual makanan, jadi kau mau makan apa?" tawar Zayn sambil menunjuk ke arah beberapa kios makanan cepat saji yang terletak tak jauh dari kami.
Aku mengusap dagu dengan ibu jari dan telunjuk, menimbang makanan apa sebaiknya yang aku makan untuk menyelamatkan diri dari kelaparan yang melanda kali ini.
Zayn dengan sabar menunggu aku berpikir, kedua manik indahnya memandangi diriku lamat membuat aku semakin salah tingkah.
"Bagaimana dengan Polser?" tanyaku kepada Zayn setelah mataku menemukan salah satu kios makanan yang menjajakan Polser.
"Baiklah."
Zayn tanpa pikir panjang langsung menarik tanganku menuju kios Polser yang aku maksud.
Dari segi penyajian, Polser memiliki tampilan yang mirip dengan makanan khas Amerika yaitu hot dog yang diisi dengan daging sosis, saus tomat, dan mustard. Namun, resep polser tradisional biasanya ditambahkan ketimun, bawang cincang, dan acar.
Rasanya nikmat sekaligus unik dengan nutrisi yang terbilang lengkap walau dengan porsi sedang.
"Paman, pesan Polser dua porsi," ucapku kepada pria paruh baya pedagang Polser.
"Tunggu sebentar ya, nona manis. Paman harus menghangatkan roti dan sosisnya dulu agar kalian berdua bisa makan dengan lebih nikmat," sahutnya sambil menyalakan panggangan berukuran sedang di depannya.
Aku mengangguk. "kami menunggu di bangku taman itu ya, Paman."
"Apa kau akan makan dua porsi itu sendirian?" tanya Zayn dengan nada mengejek.
Zayn tersenyum, mengambil posisi duduk lebih dulu di bangku taman berbahan besi yang berada di tepi sungai. "lalu siapa yang akan membayarnya?"
Aku mendelik, benar-benar lupa kalau selama di hutan aku memang tidak pernah mempunyai uang.
Zayn malah tertawa lepas dengan wajahnya yang menyebalkan membuatku sangat ingin menjambak rambutnya!
"Untuk apa kau menyuruhku makan kalau kau tidak punya uang?" tanyaku sebal.
Tawa Zayn pelan-pelan mereda. "siapa suruh kelaparan di tengah perjalanan begitu?"
Aku mengerucutkan bibir, kesal dengan kelakuan Zayn yang malah semakin menyebalkan.
"Nona, ini pesanannya sudah siap."
Aku benar-benar merasa tidak enak hati kepada Paman itu yang sudah susah payah menghangatkan sosis serta roti untuk Polser tetapi aku malah sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar makanan nikmat buatannya.
Dengan berat hati, aku harus mengatakannya.
"maaf, Paman-"
"Berapa semuanya, Paman?" Zayn dengan cepat memotong kalimatku, membuat aku lagi-lagi bingung dibuatnya.
"Totalnya jadi sepuluh krona, Tuan, " jawab si Paman dengan santun.
Zayn merogoh saku celananya, lantas menyerahkan selembar uang kertas kepada si Paman.
"ini, Paman ambil saja kembaliannya."
Seulas senyum merekah di wajah si Paman terlihat begitu bersyukur menerima uang dari Zayn.
"terima kasih banyak."
Sepersekian detik setelah si Paman sudah kembali ke kiosnya, Zayn mengarahkan atensinya kepadaku.
"jika kau lapar maka kau hanya perlu bilang. kalau bosan berburu di hutan, aku bisa mengajakmu makan di kota seperti ini."
Debaran jantungku jelas langsung menggila, seolah ingin melompat dari tempatnya belum lagi pipiku yang rasanya kini sama panasnya dengan dua buah Polser yang ada di tanganku.
"Makan sendiri atau mau aku suapi?" ejek Zayn yang sepertinya tahu kalau aku sedang salah tingkah.
"Hentikan itu, Zayn!"
Zayn menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku taman, mengambil satu Polser dari tanganku. "kalau begitu aku akan menyuapimu lalu kau menyuapi aku."
Walau sejujurnya aku masih ingin protes namun apa boleh buat, rasa lapar membuatku melupakan logikaku begitu saja.
Alhasil aku dan Zayn saling menyuapi satu sama lain hingga Polser kami masing-masing habis. Usai makan dan minum, aku langsung mengajak Zayn untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Zayn kembali membawaku terbang dengan arahan dariku, mengikuti arah jalan menuju rumahku.
"Itu rumahku, yang atapnya berwarna hitam," aku menunjuk rumah besar yang memang menjadi tempatku menghabiskan masa kecil.
Zayn lantas terbang menukik, membuatku dapat mendarat dengan aman di atas atap rumahku yang cukup licin. Setelah merasa pijakanku benar-benar stabil aku langsung memutuskan untuk duduk sambil mengenang masa kecilku yang sangat indah.
"Zayn, apa kau tahu apa yang paman dan bibiku lakukan sekarang?" tanyaku dengan seulas senyuman getir.
Zayn tertawa sarkas. "tentu saja, orang tamak akan tidur tanpa rasa bersalah di atas hak milik orang lain."
Malam memang sudah sangat larut, wajar kalau pasangan suami istri itu sudah terlelap di alam mimpi tanpa rasa bersalah berbeda denganku yang harus berjuang keras dulu hanya untuk sekedar makan lebih dari sekali sehari.
Ditengah dinginnya hembusan angin malam kota Kopenhagen, tangan besar nan hangat milik Zayn menggenggam tanganku dengan tatapan dari kedua netra indah miliknya yang begitu jernih --sukses membuat akal pikiranku menjadi tidak jernih!
"Aku yakin cepat atau lambat keadilan akan segera terungkap, Adaline."