
"Pria itu berambut cokelat terang dengan mata biru sepertimu sedangkan istrinya berambut pirang dengan riasan yang sangat mencolok waktu itu. Aku tidak akan lupa pada dua sosok itu," terang Tuan Maguiere dengan sorot serius.
Mata tua itu sama sekali tidak menyiratkan kebohongan sama sekali, membuatku merasa benar-benar yakin bahwa aku mengenal pasangan suami istri itu dengan baik seperti yang sebelumnya pernah diungkapkan oleh mantan pengasuhku dulu, Bibi Liana.
Kalau sudah begini, aku hanya tinggal mencari siapa mekanik itu dan mendapatkan barang bukti lain untuk menjerat pasangan suami istri itu agar mereka bisa segera menuai akibat dari perbuatan keji mereka kepada kedua orang tuaku.
"Apa mekanik yang Anda maksud itu masih hidup dan tinggal di kota ini, Tuan?" tanyaku mencoba mengorek informasi lebih dalam.
Pria sepuh itu menganggukkan kepalanya.
"ya. seingatku dia sekarang tinggal di salah salah satu apartemen yang letaknya tak jauh dari kantor polisi."
"Siapa namanya, Tuan?" kini gantian Louis yang bertanya dengan tangan yang sibuk mencatat keterangan dari Tuan Maguiere.
"Charles White. segera temukan dia jika kalian ingin kasus kecelakaan yang janggal itu terungkap dan terselesaikan dengan baik, maaf aku hanya bisa membantu sebatas ini," ujar Tuan Maguiere dengan wajah menyesal.
"Terima kasih, Tuan. Anda sudah cukup banyak membantu," balasku dibubuhi seulas senyum.
Tuan Maguiere mengusap punggung tanganku, lalu memberikan aku dua lembar foto.
"tentu, Nona Winters. Aku harap kehidupanmu akan menjadi lebih baik setelah kasus ini benar-benar tuntas dan pelakunya diberikan ganjaran yang setimpal."
...****************...
Asap pembakaran dari pekarangan mansion terlihat membumbung tinggi namun beraroma sedap malam ini, membuat perutku terasa semakin lapar. Zayn sang pelaku utama yang membuat perutku keroncongan sedang sibuk membakar daging ayam dengan api unggun sambil bernyanyi dalam bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti.
"Apa kau masih lama masaknya?" keluhku sambil duduk, memeluk perutku yang rasanya sudah benar-benar kelaparan.
"Bukankah kau tahu kalau memasak makanan enak itu perlu proses yang panjang?"
Ah, sepertinya Zayn sengaja mengerjai aku!
Aku memutuskan tak menjawab ucapannya, mengalihkan pandanganku pada sepasang hamster berwarna putih salju yang untungnya masih bisa hidup dengan sehat itu.
Sepasang mamalia mungil yang lucu itu sibuk berinteraksi dengan begitu manis, membuatku sedikit lupa akan rasa kesalku pada Zayn.
Keduanya saling membelai lembut, membuatku jadi iri sendiri. Hei, bagaimana bisa hewan menjadi lebih romantis ketimbang aku dan kekasihku?
"Enyahkan wajah cemberutmu itu dan kemarilah," titah Zayn yang sedang sibuk memotong ayam bakar yang sudah matang, memindahkannya ke atas piring.
"Kenapa sih kau tidak seromantis hamster jantan itu?" gumamku dengan bibir mengerucut.
Zayn menghela. "apa aku juga harus berubah menjadi hamster sekarang?"
"Bukan begitu!"
"Dan ini bukan waktunya bagi kita untuk memperdebatkan hal yang tidak perlu. Mari kita makan dulu aku tahu kau kelaparan," cerocos Zayn yang membuatku tercengang.
Ya. Zayn yang sedikit manusia salju itu bisa mengoceh panjang kali lebar?
Lebih mengutamakan kepentingan perutku, tanpa pikir panjang aku langsung menikmati makan malamku seraya duduk bersebelahan dengan Zayn hingga perutku merasa cukup kenyang.
"Sayang, aku menunggu di kamar. Nanti bantu aku melakukan retrokognisi lagi."
Apa? Zayn memanggilku dengan sebutan sayang?!
Apakah telingaku ini salah?!
Aku yang masih berdiri di ujung tangga kontan terbengong-bengong memandang punggung lebar Zayn yang berjalan mendahului.
"Kepalanya habis terbentur atau bagaimana? Dari mana dia mendengar kata seperti itu?" gumamku heran sambil melangkahkan kaki menapaki satu demi satu anak tangga menuju kamar utama yang dimaksud oleh Zayn.
Zayn mengambil posisi duduk bersila, tubuhnya menghadap ke barat. Sepersekian detik berikutnya cahaya yang sangat menyilaukan menyelimuti tubuhnya pertanda bahwa Zayn akan kembali ke wujud aslinya yakni seorang Elf.
Kulit di sekujur tubuh Zayn berubah warna menjadi putih pucat dengan garis-garis berwarna kelabu samar yang juga timbul di beberapa titik di tubuhnya, telinga Zayn juga berubah bentuk menjadi runcing.
Berhubung aku sudah sering melihatnya berubah wujud seperti itu aku sudah tidak terkejut lagi.
Berdasarkan buku-buku yang aku baca secara diam-diam selama ini mengenai Elf, ternyata Elf juga memiliki tingkatan keistimewaan dan Zayn adalah Elf yang paling istimewa karena dapat mengubah wujudnya menyerupai manusia.
"Apa yang kau temukan hari ini sama seperti yang kau pikirkan?" Zayn bertanya setelah aku menyerahkan dua lembar foto pemberian Tuan Maguiere padanya.
Aku mengangguk yakin. "ya. seperti yang tertera di foto ini sudah jelas bahwa pelakunya adalah orang yang aku sangkakan selama ini."
Zayn memejamkan matanya, fokus pada dua lembar foto dalam genggaman tangannya.
Dalam diam aku mengamati Zayn yang tengah melakukan retrokognisi, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di balik foto itu.
"Yang selama ini dikatakan oleh pengasuhmu itu benar, Ada. Beliau mendengar sendiri dengan kedua telinganya dan sudah pernah beberapa kali mencoba memberitahukan hal itu kepada orang tuamu," ungkap Zayn.
"Tapi karena orang tuamu terlalu baik hati serta naif ya mereka memilih untuk tidak mempercayai Bibi itu dan ya akhirnya maut yang malah menjemput mereka lebih dulu," tambah Zayn.
Tangisku pecah setelah mendengar penuturan dari Zayn, sungguh aku tidak menyangka bahwa harta bisa menjadi pemicu manusia tega menghabisi manusia lainnya tanpa memikirkan dosa.
Zayn menelisik dua buah foto itu dengan seksama.
"seperti yang pernah kamu simpulkan sendiri, motif utama mereka nekat melakukan semua itu adalah harta. Beruntung sekali kamu bisa mendapatkan bukti yang sangat kuat seperti ini."
"Ya. Aku berterima kasih banyak kepada semua orang yang membantuku sampai sejauh ini."
Tangan putih milik Zayn terulur, merengkuh bahu sempitku ke dalam rangkulannya.
"kalau sudah ada bukti kongkret dan saksi kunci yang kuat aku yakin kita bisa menjerat mereka berdua. apalagi kau mempunyai relasi di kejaksaan dan polisi."
Aku tersenyum tipis. "aku beruntung mempunyai kakak seperti Louis dan Liam yang bisa aku andalkan tanpa perlu aku minta."
"Aku akui mereka sangat hebat dan total dalam membantumu. Sekarang pun mereka sedang sibuk mencari bukti tambahan untuk menjerat Paman dan Bibimu yang berhati iblis itu," Zayn berujar dengan penuh penekanan, dapat aku rasakan bahwa ia juga turut merasakan emosi yang meluap-luap.
Aku sangat sedih sekaligus kecewa setelah menemukan fakta bahwa Paman dan Bibiku sendirilah yang tega merencanakan pembunuhan kepada kedua orang tuaku waktu itu.
Mama, Papa, aku mohon tunggulah sebentar lagi aku akan melakukan hal yang semestinya aku lakukan sebagai anak kalian yang pintar.