
Helaian rambutku perlahan tersingkap oleh hembusan angin yang menerpa lembut wajah serta rambutku. Hari belum sepenuhnya terang, namun kini aku sudah berada di atas sepeda motor yang tengah dikemudikan oleh Zayn.
"Apa kau lapar?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Zayn sukses membuyarkan lamunanku, pikiranku sejak tadi tidak berada di tempatnya sibuk memikirkan berbagai hal terkait cara menuntaskan sampai akhir kasus kematian orang tuaku.
"Sepertinya begitu, perutku sudah mulai keroncongan. bagaimana denganmu?" aku balas bertanya, mengingat perjalanan kami menuju tempat tujuan masih sangat jauh.
"Ya. mari cari sarapan lebih dulu," putus Zayn seraya menambah kecepatan sepeda motornya.
Jalanan yang aku lalui bersama Zayn terpantau lengang, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Selama kami menyusuri jalanan ini, hanya ada beberapa mobil yang berpapasan dengan kami.
Zayn juga tidak begitu banyak bicara kali ini sepertinya ia juga sedang memikirkan sesuatu.
Langit biru dengan hiasan awan-awan kecil menaungi kami, sedikit membuat perasaanku terasa lebih tenang.
Sepersekian menit berlalu hingga akhirnya sepeda motor milik Zayn menepi di sebuah kedai sederhana di pinggir jalan. Kedai itu cukup menarik perhatian dengan sebuah pohon Wisteria berwarna merah muda cantik di sebelah pintu masuk kedai.
Nampaknya kedai itu menyajikan berbagai jenis makanan mulai dari yang ringan hingga makanan berat yang terbuat dari olahan tepung dan gandum.
Zayn memimpin jalan masuk ke dalam kedai setelah memastikan sepeda motornya terparkir dengan benar di depan kedai. Kedai tersebut berdinding batu dengan ornamen sederhana, sebagian besar furniture yang dikenakan oleh kedai itu adalah kayu dengan tatanan yang sangat rapi.
"Kau mau makan apa?" tanya Zayn seraya menyodorkan daftar menu kepadaku.
Aku menerima uluran tangan Zayn, mengambil daftar menu darinya.
"bagaimana dengan panekuk dengan topping madu? kurasa aku akan cukup kenyang jika memakan satu porsi panekuk."
Zayn mengangguk. "lalu kau mau minum apa?"
"Teh manis hangat sepertinya boleh juga," sahutku sambil membetulkan ikatan rambutku yang sedikit melorot.
Zayn lalu beringsut menuju kasir, nampaknya memesankan makanan yang aku inginkan sekaligus memesan untuknya juga.
Usai memesan, Zayn kembali menghampiriku lantas duduk.
"Apa yang kau pesan?" tanyaku kemudian.
"Aku sedang malas berpikir, jadi aku memutuskan untuk memesan makanan yang sama denganmu."
Aku tergelak. "kau bercanda?"
Zayn tersenyum lembut. "aku serius. pikiranku sekarang hanya fokus memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menemukan pemilik bengkel itu."
"Maaf sudah menyusahkanmu, Zayn," lirihku sambil menunduk.
"Hei," Zayn menepuk pundakku lembut. "aku sama sekali tidak merasa dibuat susah olehmu."
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Zayn, pria Elf dengan hati yang luar biasa jernihnya.
Tak hanya wajahnya yang menawan, Zayn juga sangat baik terlepas dari sikapnya yang terkadang lebih lebih dingin ketimbang es di kutub selatan.
"Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa padamu," cicitku.
Zayn menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. "kau akan tahu dengan cara apa bisa membayar kemurahan hatiku ini."
Merasa perkataan Zayn sungguh ambigu, aku kontan memandangnya bingung. Namun bukannya mendapatkan jawaban yang jelas pria itu hanya menyunggingkan senyum penuh arti.
...****************...
Sinar matahari yang semakin meninggi membuat suhu udara terasa kian panas. Aku menghela napasku dalam-dalam mencoba menenangkan diri setelah pencarian kami yang sudah memakan banyak waktu serta tenaga belum juga membuahkan hasil.
Kini aku dan Zayn beristirahat di salah satu rumah kosong tak jauh dari rumah si pemilik bengkel yang kami cari tadi.
"Kau baik-baik saja?" Zayn bertanya sambil mengulurkan segelas es limun segar padaku.
Aku tak punya pilihan lain selain menerimanya.
"aku harus tetap baik-baik saja walau perjalanan sejauh ini belum juga membuahkan hasil."
Aku merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa sang pemilik bengkel itu sudah tidak lagi tinggal di alamat yang tertera di kantor direktorat pajak.
Menurut informasi dari warga sekitar yang dulunya merupakan tetangganya, pria itu sudah sangat tua dan sakit-sakitan sehingga dia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah namun sayang tiada yang tahu kemana perginya pria tua itu.
"Kita harus bagaimana, Zayn?" tanyaku lesu setelah mengambil beberapa teguk es limun pemberian Zayn.
Zayn memandang lurus ke arah jalan yang sepi, nampak sedang berusaha berpikir jernih mencari solusi untuk masalah kali ini.
Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku.
"Yang pasti kita harus bersabar. tidak semua hal bisa selalu berjalan sesuai keinginan kita," jawab Zayn dengan suara menyejukkan bagai embun pagi, merangkul bahuku dengan lembut.
Pencarian ini ternyata tidak semudah yang kubayangkan membuatku hanya bisa menghela napas lesu berusaha menghibur diri agar tidak putus asa begitu saja.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini?
Bagaimana bisa aku menemukan petunjuk selanjutnya jika langkahku buntu sampai di sini?
Langit yang tadinya berwarna biru nan cerah kini bertukar menjadi kelabu akibat awan mendung yang mulai menutupi langit sore itu membuatku memutuskan untuk mengajak Zayn pulang takut-takut kalau nanti hujan mengguyur kami di tengah jalan nanti.
"Kau yakin ingin pulang?" tanya Zayn sekali lagi.
Aku mengangguk. "ya. lagi pula kita harus menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke rumah."
Zayn lantas bangkit dari duduknya, menyalakan mesin motornya. Suara gemuruh guntur sudah mulai terdengar samar-samar dari kejauhan menambah suasana mencekam, membuatku makin ingin segera pulang.
"Ayo berangkat, pakai dulu mantelmu. angin mulai bertiup kencang," titah Zayn sambil mengancingkan mantelnya.
Langit yang semakin menggelap membuatku tergesa-gesa memasang mantel.
Semoga saja hujan tidak turun saat kami masih dalam perjalanan nanti.
Zayn naik ke atas sepeda motornya lebih dulu, mengedikan dagunya sebagai isyarat bagiku untuk segera naik.
Deru mesin sepeda motor milik Zayn mengoyak kesunyian jalanan sepi itu, beriringan dengan pikiranku yang melalang buana mencoba mencari jalan keluar untuk peliknya jalan untuk membuka kebenaran ini.
Tak banyak yang bisa kulakukan kini selain berdoa, meminta bantuan kepada sang Maha Kuasa dan lagi maha mengetahui.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri, Adaline. Tuhan pasti sedang mengatur rencana terbaiknya, kau hanya perlu berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuanmu," ucap Zayn dengan suara agak keras di balik kemudinya tatkala angin mulai bertiup kencang membuat suara pemuda tampan itu cukup teredam.
"Aku berharap semoga aku tidak putus asa, Zayn. jalan untuk mengungkapkan kebenaran ini sepertinya tidak akan mudah seperti yang aku bayangkan," balasku dengan seulas senyum getir.
"Berhentilah berkata seperti itu. Tuhan tidak akan menutup jalan baik bagi umatnya yang berusaha terlebih demi orang tuanya," tukas Zayn.
"Dan aku yakin, mereka berdua akan sangat bangga padamu yang sudah berusaha keras untuk mengungkap kasus ini."