
"Tuhan, kumohon buatlah aku lupa pada semua kesedihan ini."
Tak ada siapa pun atau apa pun yang menjawab doaku membuat aku menarik napasku dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri agar tidak semakin larut dalam kesedihan.
Malam ini angin berhembus cukup kencang namun entah mengapa hatiku merasakan rasa sejuk yang berbeda alih-alih merasa kedinginan.
Masih merasa betah duduk lesehan tanpa alas di depan goa dan sisa bara api, aku memandang kosong langit yang sudah berwarna kelam namun penuh bintang itu penuh pengharapan.
Bulan bersinar terang dengan bentuk hampir penuh membuatku terkesima karena keindahannya, entah sudah berapa tahun berlalu sejak aku melihat bulan dengan bentuk serupa seperti ini terakhir kali.
Hanya sunyi dan kegelapan yang menemani aku kali ini. sesekali nampak hewan-hewan nokturnal kecil lewat di depanku namun dengan langkah terburu-buru untuk mengejar mangsa masing-masing. Angin yang bertiup cukup kencang juga membuat ranting-ranting pohon saling bergesekan, menghasilkan bunyi gemerisik yang samar namun jelas terdengar.
"Apa kau sekarang sudah berubah menjadi hewan nokturnal?"
Sebuah suara berat yang melayangkan pertanyaan barusan sukses membuatku tersentak kaget, buyar sudah semua lamunanku. Sial.
Aku lantas menurunkan arah pandanganku dan malah mendapati sosok Zayn dengan balutan jaket kulit berwarna hitam tengah berdiri sambil bersandar di batang pohon besar yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari mulut goa.
Pakaiannya yang serba hitam membuatnya tersamarkan di tengah kegelapan hingga aku tak menyadari bahwa ia sudah berada di sana.
"Apa kau tak punya urusan hidup sendiri sampai harus selalu mengekori aku dengan gaya sok dinginmu itu?" ucapku sarkas, tersenyum mengejek kepada Zayn.
Pria itu tertawa renyah. "tapi sesuatu dalam diriku ini mengatakan bahwa kau sedang membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar."
Alisku menukik, sebal mendengar ucapannya yang sok tahu namun sialnya benar itu.
"apa kau ini adalah seorang cenayang? bagaimana kau bisa selalu tahu apa yang sedang aku rasakan?"
Zayn memandangi aku dibarengi dengan seulas senyum penuh misteri, memilih enggan menjawab pertanyaanku.
Kedua kaki jenjangnya kemudian beringsut mendekat kepadaku entah apa yang akan dia lakukan setelah ini, ya, dia adalah makhluk Tuhan yang paling tak pernah bisa kutebak selama delapan belas tahun aku hidup di dunia ini.
Zayn itu terlalu indah namun dia penuh misteri bagaikan lukisan abstrak yang tak bisa aku ketahui dengan pasti apa makna di dalamnya, pun dengan Zayn yang tak pernah bisa aku terka.
"Kau tenang saja, pokoknya aku tidak terlibat dengan ilmu hitam kok," Zayn berujar setelah mendudukkan dirinya di sisi kanan tubuhku.
Lagi dan lagi, bagaimana dia bisa tahu kalau aku berpikir bahwa jangan-jangan Zayn bisa memakai ilmu hitam makanya bisa tahu isi hati dan pikiranku dengan seratus persen akurat.
"Lalu bagaimana kau selalu bisa membaca pikiranku sampai seratus persen akurat?" tanyaku sangsi, memandang mata pria tampan itu lurus mencoba mencari kebohongan di sana.
Zayn tergelak. "kurasa kau bisa menebaknya sendiri bagaimana aku bisa membaca pikiranmu."
Huh, dasar menyebalkan!
"Kau butuh bahu untuk bersandar bukan? kemari, bersandarlah di bahuku mumpung aku sedang berada dalam mood yang bagus," Zayn menaik turunkan alisnya, berusaha menggodaku sambil menepuk-nepuk bahu lebar miliknya.
Aku hanya memandangnya sebal, namun sungguh, tidak ada hal lain yang aku butuhkan selain seseorang untuk berbagi cerita.
Dengan jantung yang berdebar lebih kencang dari pada biasanya, aku memberanikan diri untuk memangkas jarak di antara kami sampai aku merasa cukup dekat untuk menyandarkan kepalaku pada bahu tegap nan lebar milik Zayn.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Zayn, memecah keheningan sesaat setelah aku menemukan posisi nyaman di bahunya.
"Sedikit lebih hangat," jawabku setengah berbisik.
"Malam-malam begini? memangnya ada kendaraan yang bisa kita gunakan?"
Zayn menggeleng. "kita tidak butuh kendaraan sama sekali."
"Lalu bagaimana kita bisa pergi ke luar dari hutan?" aku bertanya bingung, memandang wajah Zayn yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahku.
"Aku bisa membawamu terbang."
Mendengar jawaban dari Zayn aku jelas tidak bisa langsung mempercayainya mentah-mentah, bagaimana mungkin manusia bisa terbang tanpa alat bantu seperti kendaraan?
"Kau mungkin tidak bisa langsung mempercayainya, tapi aku akan berkata jujur padamu," Zayn menatapku lamat-lamat dengan manik indahnya yang begitu tenang bagai danau tanpa riak.
Tiba-tiba di sekujur tubuh Zayn nampak keluar garis-garis berwarna putih yang bersinar begitu terang menyilaukan mata tetapi pemuda itu hanya tersenyum dengan senyuman yang sangat berbeda kepadaku.
"Lihat, aku bukanlah manusia biasa."
Aku dapat menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa Zayn memiliki telinga yang runcing tidak seperti manusia pada umumnya.
Kulitnya pun berubah menjadi amat pucat mirip seperti vampir dalam tokoh mitologi yang sering aku baca sejak sekolah dasar. Meski demikian, anehnya Zayn tetap saja sangat menawan dan rupawan di mataku.
"Jadi inilah alasan dibalik keahlianmu untuk membaca pikiran dengan sangat akurat?" aku mengajukan pertanyaan setelah kesadaranku berhasil kembali pada tempatnya.
"Ya, karena aku adalah seorang Elf yang istimewa," jawab Zayn santai kemudian kembali ke wujud manusianya. "kita jadi pergi jalan-jalan?"
Aku menimbang sejenak. "aku ingin pergi ke Kopenhagen, tapi aku sudah tidak memiliki siapa pun untuk aku kunjungi di sana."
"Hanya ada paman dan bibimu yang tamak itu bukan? tidak perlu pikirkan itu, kau hanya akan pergi ke Kopenhagen untuk mengunjungi rumah masa kecilmu," ungkap Zayn mengemukakan pendapatnya.
Aku setuju dengan pendapatnya, lagi pula aku juga sudah lama tidak mengunjungi makam orang tuaku sejak pindah ke panti asuhan dulu.
"Rumah masa kecilku yang sekarang mereka huni terletak di pusat kota Kopenhagen kurasa aku memang perlu berkunjung kesana untuk sedikit melepaskan rasa rindu," kataku.
"Pusat kota Kopenhagen begitu dekat jika kita tempuh dengan cara terbang di tengah malam seperti ini," Zayn berucap santai dengan seulas senyum tipis.
"Kalau begitu baiklah. kumohon bawa aku ke Kopenhagen, aku perlu mengunjungi makam orang tuaku juga."
Zayn mengangguk, tersenyum seraya mengulurkan tangannya. "baiklah, tapi kau jangan lepaskan tangan pegangan tanganku selama kita terbang."
Aku memposisikan diri membelakangi Zayn, sementara ia memelukku erat dari belakang. Perlahan namun pasti Zayn benar-benar berhasil membawaku terbang hingga aku merasa seperti sedang bermimpi saking ajaibnya.
Pepohonan rimbun yang biasanya terlihat besar kini puncak tertingginya bahkan mampu aku sentuh dengan ujung kakiku, sangat luar biasa!
"Apa kau takut ketinggian?" Zayn bertanya dengan suara rendahnya, membuat bulu roma di tengkuk leherku meremang.
"Tidak," aku menyahut dengan mantap.
"Kalau begitu nikmatilah semua pemandangan indah ini tapi jangan sampai melepaskan tanganmu dari tanganku," ucap Zayn sambil menambah kecepatannya.
Zayn terbang dengan kecepatan sedang menyusuri area hutan menuju jalan keluar hutan, membuatku dapat merasakan sejuknya angin yang menerpa wajahku serta rambutku.
"Tenanglah, aku akan dengan senang hati mengantarmu jika kau ingin pergi kemana pun itu."