Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 24 : Langkah yang Dipermudah



Aku meraih tumpukan dokumen dari dalam lemari, bermaksud memindahkannya ke dalam tas kulit domba berukuran sedang maha karya Zayn untuk membawanya pergi ke kantor polisi pusat tempat Louis bekerja.


Tadi pagi-pagi sekali Zayn memberitahu padaku untuk kembali menemui Louis dengan semua dokumen itu, entah apa maksudnya. Zayn tidak mau menjelaskannya secara gamblang membuatku jadi gemas sendiri.


"Mau aku antar sampai stasiun? Kalau naik bus kau tidak akan sampai sebelum jam makan siang," tawar Zayn seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Betul juga.


Perjalanan menggunakan bus lebih banyak memakan waktu karena lalu lintas yang padat di jalan raya. Alhasil, kereta api adalah satu-satunya solusi terbaik agar aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk berbincang dengan Louis.


"Ayo, aku tidak mau ketinggalan kereta pagi."


Zayn mengangguk, meraih tasku lantas membawanya ke luar mansion lebih dulu sementara aku menata rambutku sedikit agar tidak kusut.


Terkadang aku merasa iri pada Zayn yang meski ia tidak melakukan apa pun untuk penampilannya tetapi ia tetap saja memesona.


Usai bercermin dan menata rambut, aku beringsut menemui Zayn yang sudah menungguku di pekarangan mansion. Seperti biasa, Zayn terlihat memukau meski hanya menggunakan kaos oblong lengan pendek berwarna hitam.


"Kau sudah siap?" Zayn menayaiku setelah aku berdiri di ambang pintu mansion.


"Iya. ayo berangkat, kau juga harus pergi ke kota seberang bukan?"


Zayn mengangguk, menyalakan mesin sepeda motornya kemudian.


Aku beringsut mendekat ke pelataran setelah mengunci pintu mansion, tak lupa memberikan kunci mansion kepada Zayn.


Merasa mesin motornya sudah cukup panas, Zayn mengajakku naik ke atas motor lalu kami berangkat menuju stasiun kereta api.


...****************...


"Aku menemukan jalan buntu," keluhku pada Louis sepersekian saat setelah kami menghabiskan makan siang bersama di sebuah restoran tak jauh dari kantor polisi.


Louis memijat pelipisnya. "aku sudah menduga akan seperti ini. seperti apa petunjuk terakhir yang kamu dapatkan dari Harry?"


Aku meneguk segelas air putih hingga tandas.


"nama dan alamat dari si pemilik bengkel, tetapi saat aku pergi ke sana orang itu sudah pindah entah kemana."


"Apa bengkel itu masih buka?"


"Sayangnya sudah bangkrut sekitar tiga tahun yang lalu, Kak. jadi kita benar-benar menemui titik buntu sekarang," jawabku lesu.


"Kamu jangan putus asa begitu," Louis mengusap lembut pundakku. "sore ini kita harus menemui Liam, siapa tahu dia bisa membantu menemukan titik terang dalam kasus ini."


"Bukankah Kak Liam itu malas berpikir?" aku mencebik, mengingat Liam bukanlah orang yang suka berpikir kritis.


"Apa kamu lupa dia sekarang adalah seorang jaksa?" Louis tergelak. "mana bisa dia malas berpikir seperti saat masih kecil dulu."


"Oh, benar juga!" aku berseru, merasa sedikit senang walau belum tahu apa yang dapat Liam lakukan untuk membantuku menyelidiki kasus ini.


Meski dulu merupakan salah seorang anak yang malas memikirkan hal-hal rumit, Liam memang cukup pintar saat kecil.


Aku tidak heran dia bisa menjadi seorang jaksa yang cukup tersohor sekarang.


"Kalau begitu ayo kita berangkat ke rumah Liam sekarang," ajak Louis usai membayar makan siang kami pada salah seorang pelayan.


"Apa kakak tidak perlu kembali ke kantor?"


Louis mengarahkan aku menuju mobilnya, sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di sisi kiri ruas jalan tempat restoran itu berada.


Usai menyalakan mesin mobil dan mengenakan sabuk pengaman, Louis menginjak pedal gasnya.


"Maaf sudah membuatmu repot, Kak."


Mendengar ucapanku, Louis meringis lucu.


"Adikku mana boleh meminta maaf untuk hal yang tidak perlu begini. Lagi pula aku hanya memberikan sedikit bantuan yang seharusnya dilakukan seorang kakak untuk adiknya."


Sekali lagi kukatakan, Louis sama sekali tidak berubah selain bentuk fisiknya. Dia tetaplah sosok dengan pribadi yang hangat dan penyayang, membuatku juga sangat menyayanginya seperti kakak kandungku sendiri.


Mobil Louis berbelok setelah bertemu dengan persimpangan, membuat mobil memasuki jalanan yang lebih kecil dari pada sebelumnya menandakan jalan yang diambil oleh Louis bukanlah bagian dari jalan raya.


Rumah-rumah yang berjajar di sisi kanan dan kiri jalan ini bukanlah rumah-rumah berukuran kecil bahkan cenderung mewah, sedikit mengingatkan aku pada daerah tempat tinggalku saat masih kecil yang hampir semua bangunannya berukuran besar.


Perlahan mobil Louis menepi hingga akhirnya berhenti di sebuah rumah berpagar besar dengan warna putih di ujung jalan. Rumah itu benar-benar besar dengan warna putih yang menutupi setiap bagian dari permukaan dinding bangunannya.


"Ayo masuk, kita sudah sampai," titah Louis sambil membuka pintu mobil, keluar lebih dulu menuju rumah itu.


Aku mengangguk, melepas sabuk pengaman dengan buru-buru lantas mengikuti jejak Louis memasuki rumah besar bernuansa putih itu.


"Louis? Kenapa tidak bilang kalau akan datang kemari dengan Ada?" sapa Liam yang sedang sibuk menyirami tanaman di halaman rumah besarnya.


"Untunglah kau ada di rumah. kami benar-benar membutuhkan bantuan dari seorang jaksa," ucap Louis seraya merangkul bahu lebar Liam.


Liam mengedikan dagunya ke arah bangku taman di tepi kolam.


"kalau begitu duduklah, aku akan mengambil camilan dan teh sebentar."


Rumah ini sangat asri dengan berbagai tanaman terawat yang tumbuh di sekeliling halaman, membuatku teringat pada taman belakang mansion Zayn yang tak kalah cantiknya dengan berbagai jenis tanaman tropis uang tumbuh dengan cantik.


Beberapa saat berselang, hingga akhirnya Liam datang diikuti dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi camilan dan teh di belakangnya. Liam benar-benar terlihat seperti seorang Tuan Muda, sial.


"Apa yang bisa aku bantu, Ada?" tanya Liam setelah pelayannya pamit undur diri.


"Kasus kematian orang tuaku menemui jalan buntu, Kak. Aku sudah berhasil menemukan siapa pemilik bengkel yang memberikan servis terakhir pada mobil orang tuaku tapi aku tak menemukan keberadaan orang itu," jelasku langsung pada intinya.


"Lalu siapa nama pemilik bengkel itu?" kini gantian Louis yang bertanya.


"Andrew Maguiere," jawabku cepat.


"Andrew Maguiere?" ulang Liam dengan air muka tak yakin. "memangnya dari mana kamu mendapatkan informasi itu?"


Aku membuka isi tasku, menunjukkan dokumen tentang si pemilik bengkel kepada Liam dan Louis.


"dari kantor direktorat pajak pusat, tempat Kak Harry putra dari keluarga Horan bekerja. dia yang memberikan aku dokumen ini."


"Andrew Maguiere adalah kakak kandung dari ayah angkatku," cicit Liam sambil menelisik dokumen yang kuberikan dengan teliti.


Mataku terbelalak antusias, berharap kali ini bukanlah sekedar harapan kosong.


"lalu apa kakak tahu dimana beliau berada sekarang?"


Liam mengangguk. "ya, aku tahu dimana dia tinggal saat ini. apa kamu mau menemuinya sekarang?"