Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 27 : Pencarian Baru



Langit yang sudah berwarna kelabu dengan suara menggelegar guntur dari segala penjuru tak menciutkan nyaliku untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Ditemani oleh Zayn, aku masuk ke dalam gedung apartemen yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kantor polisi tempat Louis bertugas.


"Apa kau yakin ini apartemen yang dimaksud oleh Tuan Maguiere?" tanyaku pada Zayn yang berjalan beberapa langkah lebih dulu di depanku.


"Harusnya kau tidak lupa dengan siapa kau saat ini, tentu saja aku tidak akan salah," tukas Zayn dengan tangannya yang menggamit pergelangan tanganku, membawaku masuk ke dalam lift.


Apartemen itu bukanlah jenis apartemen mewah namun dapat dikategorikan bagus dengan biaya sewa yang agak miring di pusat kota.


Bangunannya juga terlihat seperti bangunan lama, tetapi sudah memiliki beberapa peralatan modern.


Lorong apartemen nampak sangat panjang saat aku dan Zayn berhasil tiba di lantai tiga belas yang diyakini Zayn sebagai tempat di mana unit milik Charles White berada.


"Sial, kenapa lorongnya panjang sekali?" Zayn menggerutu, membuatku hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum masam.


Mau bagaimana lagi? Bangunan kuno seperti ini sudah pasti memiliki banyak kamar yang tentu saja akan cukup membuat kami kerepotan untuk menemukan di mana unit tempat Charles White tinggal.


Lebih lagi dia adalah saksi kunci yang sangat penting aku mana mungkin melewatkan kesempatan emas satu ini, setidaknya aku harus berhasil menemukan pria itu dulu dan mengumpulkan keterangan yang diperlukan.


"Mana mungkin kita mendatangi setiap unit, bukan?" kataku tak yakin.


Dalam satu lorong panjang ini mungkin setidaknya ada sekitar tiga puluh pintu kamar yang tentunya akan sangat merepotkan bila kami harus mengetuk setiap pintu satu per satu.


Zayn menggeleng cepat. "tidak perlu. cepat ikuti aku, aku merasakan ada petunjuk di dekat sini."


Kedua kaki jenjang milik Zayn melangkah lurus ke utara, membuat aku mengekori punggung pria itu dengan perasaan harap-harap cemas.


Dalam hati aku terus berdoa semoga titik terang yang akan kami temukan benar-benar akan menjadi titik terang.


Lorong apartemen yang panjang nan lebar itu terlihat begitu sepi tiada orang lain yang melintas selain aku dan Zayn, makin membuatku merasa tidak nyaman namun tidak memiliki pilihan lain.


"Permisi," panggil Zayn setelah berada di depan pintu kayu berwarna putih nomor tiga puluh tiga.


"Ya? tunggu sebentar!" sahut sebuah suara dari dalam unit apartemen.


Suara langkah kaki tergopoh-gopoh kemudian terdengar menyeruak dari dalam unit apartemen itu, membuat perasaanku semakin tidak menentu.


Selang beberapa saat suara derik pintu terbuka terdengar, membuatku dan Zayn mengalihkan atensi ke sumber suara.


"Kalian siapa?" tanya pria yang kira-kira berusia separuh abad itu kepadaku dan Zayn dengan air muka yang nampak begitu bingung.


"Apa benar Anda bernama Charles White?" pertanyaan itu diajukan tanpa ragu oleh Zayn, membuatku otomatis memandang kearahnya.


Pria itu mengangguk kaku. "ya, memangnya ada apa sampai kalian berdua mencariku kemari?"


Zayn dan aku saling pandang, saling memberikan isyarat untuk terus menggali informasi dari pria yang kira-kira sudah berusia lima puluh tahunan itu.


"Kami perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda, Tuan White. Bisakah kita bicara di dalam saja?" tanyaku berusaha sehati-hati mungkin.


"baiklah, silakan masuk."


Zayn melangkah masuk ke dalam unit apartemen Tuan White, diikuti olehku. Suasana di dalam unit apartemen itu nampak sunyi membuatku merasa sangsi kalau Tuan White memiliki keluarga yang tinggal di unit apartemen itu juga.


Beberapa langkah setelah memasuki unit apartemen milik Tuan White, aku mendapati dua buah sofa panjang yang nampaknya memang sengaja ditata saling berhadapan satu sama lain dengan sebuah meja kaca di depannya.


"Silakan duduk," titah Tuan White setibanya kami di area ruang tamu unit apartemen miliknya.


Aku dan Zayn duduk bersebelahan, memandang pria itu yang duduk di seberang kami berdua.


Perabotan rumah yang menghiasi unit apartemen itu juga terlihat sederhana dengan desain yang minimalis.


"Jadi, Tuan White kami kemari untuk menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kedua foto ini," ucapku seraya menyerahkan dua lembar foto pemberian Tuan Maguiere beberapa hari yang lalu kepada Tuan White.


Dengan bingung, Tuan White menerima dua lembar foto itu. Wajahnya seketika kaget setelah mengetahui siapa sosok yang ada di dalam dua lembar foto tersebut.


"Dari mana kamu mendapatkan dua foto ini?" tanya Tuan White dengan tatapan tajam.


"Tentu saja dari mantan atasan Anda, Tuan Maguiere," jawabku cepat.


"Kami mohon, jelaskan apa yang Anda lakukan pada mobil yang dibawa oleh pasangan suami istri itu. Apakah Anda tahu? Anak dari pemilik mobil itu kini menjadi yatim piatu dan tidak memiliki tempat bernaung?" aku berusaha membujuk Tuan White dengan memandang sepasang manik hijau miliknya.


"Apakah benar pasangan pemilik mobil itu punya anak yang menjadi sebatang kara karena kejadian itu?" tanya Tuan White penuh sesal.


Aku mengangguk lesu. "anak itu adalah aku, Tuan. Aku datang kemari untuk mengusut kembali kasus kecelakaan yang telah menyebabkan kedua orang tuaku meregang nyawa itu, Tuan."


Tuan White menunduk, sorot mata hijaunya terlihat memancarkan rasa sesal yang mendalam.


"ya, aku yang melakukannya pada mobil orang tuamu itu karena dijanjikan dengan bayaran besar yang akan dibayarkan oleh pasangan suami istri ini waktu itu. Aku kaget setelah tahu ternyata mereka adalah saudara kandung dan aku sama sekali tidak tahu kalau pasangan suami Winters pemilik asli mobil itu memiliki anak yang masih sangat kecil."


Bagai tersambar petir di siang bolong aku benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari Tuan White yang dia ungkapkan secara gamblang.


"Kini aku menyesali perbuatan bodoh yang dulu aku lakukan, Nak. Tak kusangka aku malah membantu mereka untuk menghabisi nyawa kedua orang tuamu," tambah Tuan White dengan mata berkaca-kaca.


"seharusnya dulu aku menuruti perkataan Tuan Maguiere agar tidak menghabiskan sisa usiaku dalam penyesalan seperti ini."


Dentuman keras dari suara guntur di luar sana kini berganti dengan suara air hujan yang sudah turun dengan derasnya, sama derasnya dengan tangisanku kali ini. Tangisan spontan ditengah perasaanku yang kini menjadi campur aduk.


"Apakah Anda bersedia menjadi saksi untuk kami, Tuan? hanya Anda dan Tuan Maguiere yang dapat menjadi saksi kuat untuk menjerat pasangan suami istri berhati iblis itu," kini Zayn yang ikut membujuk Tuan White dengan sorot penuh pengharapan.


Tanpa pikir panjang, Tuan White mengangguk.


"ya, aku akan melakukannya. demi keadilan orang tuamu dan kebahagiaan anak dan istriku di surga. kalian hanya perlu kemari kapan saja jika membutuhkan bantuan dariku."