Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 30 : Kejutan



"Dari pada kita berpisah, aku punya solusi yang jauh lebih baik," Zayn berujar dengan seulas senyum sukses membuatku bertanya-tanya dalam hati.


Aku memandang pria itu penasaran.


"solusi apa maksudmu?"


"Bagaimana kalau kita menikah saja?" jawab Zayn sembari menggaruk tengkuknya.


Apa katanya? Menikah? Apa mungkin aku benar-benar bisa menikah dengan Zayn ditengah banyaknya perbedaan yang membentang di antara kami?


"Aku menawarkan pilihan itu ya karena aku sudah memprediksi bahwa ini semua akan terjadi. Maka aku mencatatkan diri di pencatatan sipil negara agar bisa memiliki kartu identitas," papar Zayn sambil memamerkan kartu identitasnya.


"Jadi... Kita bisa menikah?" tanyaku ragu-ragu.


"Tentu saja. Dengan begitu kita tidak akan berpisah seperti yang kau takutkan, jika kau mau aku bisa mengurus semua berkasnya segera. lagi pula menikah adalah prosesi sakral yang harus dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai seperti kau dan aku," Zayn menjawab dengan seulas senyum.


Aku terkekeh geli. "bahkan kau tidak dapat melamarku dengan benar juga, Zayn. ayolah setidaknya lakukan dengan lebih romantis!"


Zayn meringis, salah tingkah.


"Aku bukanlah seorang pujangga, hanya seorang Elf yang mencintaimu sepenuh dan setulus hati ini. jadi apakah kau mau menikah denganku?"


Pria itu merogoh saku celana jeans yang tengah dikenakannya, mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna hitam beludru dari sana.


Zayn menatapku lekat-lekat kemudian, dengan kedua tangan kami yang saling tertaut.


"biar aku ulangi lagi dengan lebih baik, Adaline Serendipity Winters apakah kau bersedia menjadi istriku serta Ibu dari anak-anakku kelak?"


Kedua pipiku terasa menghangat, kupu-kupu di dalam perutku berterbangan menimbulkan sensasi menggelitik yang luar biasa.


Malam itu aku merasa sangat bahagia dipersunting oleh Zayn Adelard, Elf yang paling aku cintai.


Langit malam yang menaungi kami malam itu juga nampak begitu cantik dengan jutaan bintang yang bertaburan lengkap dengan bulan purnama yang bersinar dengan begitu terang.


Sinar bulan purnama yang terang namun lembut menyinari wajah Zayn malam ini, membuat wajah rupawan miliknya menjadi lebih bersinar sukses mengguncang hatiku untuk yang kesekian kalinya.


Lagi dan lagi, aku kembali jatuh cinta pada pesona Zayn yang amat memabukkan.


"Ya, aku bersedia. Jadilah suami serta Ayah dari anak-anakku nanti," jawabku tanpa ragu-ragu.


Zayn kembali membawaku ke dalam rengkuhan hangatnya, saling bertukar perasaan mendebarkan sekaligus mengagumkan itu bersama-sama.


Aku dengan jelas dapat merasakan debaran jantung Zayn yang terasa dua kali lipat lebih cepat, pun sebaliknya Zayn juga sepertinya dapat merasakan debaran jantungku yang tidak terkendali.


"Sayang sekali sekarang hanya ada kita berdua, jadi tidak ada saksi untuk momen bersejarah ini," Zayn tertawa kecil sambil menyematkan cincin berlian pemberiannya di jari manis tangan kiriku.


Air mataku turun menyusuri kedua belah pipiku dengan bebas, gambaran dari perasaanku yang mengharu biru. Walau Zayn tidak melamarku di depan banyak orang dengan cara yang romantis penuh kata-kata cinta tetapi pria itu sudah membuktikan banyak hal, bukti besar betapa dia mencintai aku tanpa pamrih selama ini.


Kedua tangan kokoh Zayn menangkup wajahku, ia lalu mengecup keningku dengan begitu lembut.


"aku tidak akan menjanjikan apa-apa untukmu tapi aku akan berusaha membahagiakanmu tak peduli apa pun yang harus aku lakukan demi kebahagiaanmu, Adaline."


Malam ini, tepat saat aku berulang tahun yang ke sembilan belas tahun aku resmi bertunangan dengan Zayn Adelard sang pangeran dari dunia Elf.


Meski di dalam lubuk hatiku yang paling dalam masih tersisa rasa sedih karena aku akan menikah dalam waktu dekat tanpa di dampingi oleh kedua orang tuaku mau pun kedua orang tuanya Zayn.


...****************...


Setelah melakukan berbagai persiapan yang merepotkan bersama Zayn selama nyaris satu bulan ini, kini persiapan pernikahanku sudah hampir sepenuhnya siap.


Aku dan Zayn sepakat untuk melakukan pemberkatan pernikahan yang sederhana di halaman depan rumahku dan hanya perlu dihadiri oleh orang-orang terdekat saja.


Kedua tungkaiku melangkah masuk ke dalam kantor polisi pusat sesaat setelah seorang petugas memperbolehkan aku masuk tanpa bertanya-tanya lebih dulu, ya mengingat aku juga sangat sering kemari hanya untuk bertemu dengan Louis pimpinan mereka.


Dengan sebuah kartu undangan di tanganku, aku mengetuk ruang kerja Louis dengan senyum merekah.


"Kakak! Aku kemari untuk mengantarkan undangan pernikahanku dengan calon suami pilihanku," kataku sesaat setelah memasuki ruang kerja Louis yang super duper rapi.


"Apa kamu bercanda?! Kau akan menikah? Katakan padaku dengan siapa kamu akan menikah!"


Louis melotot kaget tatkala aku memberikannya sebuah kartu undangan pernikahanku dan Zayn yang akan digelar dua minggu lagi.


Dengan air muka masam, Louis membaca kartu undangan itu memastikan bahwa aku tidak sedang bercanda dengannya.


Aku mengangguk yakin. "iya, Kak. tapi aku tidak akan melangsungkan acara yang megah karena kami hanya mempersiapkan semuanya berdua."


Kantor polisi hari ini terlihat lebih lengang dari biasanya karena sedang akhir pekan sehingga tak banyak polisi yang bertugas di dalam kantor.


Bahkan aku hanya bertemu dengan lima petugas sebelum akhirnya bisa masuk ke ruang kerja Louis.


"Kalian hanya mempersiapkannya berdua? Kemana orang tua calon suamimu itu? Atau setidaknya keluarga yang lain? Lagi pula kenapa kamu tidak bilang lebih awal agar aku bisa sedikit membantu," Louis berujar heran.


"Dia yatim piatu sama sepertiku, Kak. Lagi pula aku juga tidak mau merepotkan Kakak atau pun Kak Liam, dia juga tadi mengomeli aku tahu!"


Louis mengulum bibirnya. "kalau begitu kemari, aku harus memelukmu sebagai ucapan selamat."


Aku menurut, merentangkan kedua tanganku guna memeluk Louis yang sejak kecil sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri.


Dalam hati, aku berdoa semoga dia segera menemukan wanita baik untuk menjadi pasangan hidupnya kelak.


"Terima kasih sudah menjadi kakak yang sangat baik untukku sejak dulu hingga kini, Kak Louis. Aku sangat menyayangimu," cicitku yang sudah menitikkan air mata dalam pelukannya.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya, Adaline."


"Tapi, Kak, bolehkah aku meminta satu hal lagi dari Kakak?" tanyaku ragu-ragu setelah melepaskan pelukannya Louis.


Alis kiri Louis naik ke atas.


"katakan saja tidak usah ragu-ragu begitu."


"Aku 'kan sudah tidak punya Ayah dan tidak punya keluarga lain yang bisa menjadi wali nikahku, apakah Kakak mau menjadi wali nikahku?"


Louis tersenyum lembut, mengacak pelan rambutku. "tentu saja. aku akan melakukannya dengan baik demi kebahagiaanmu."


Sekali lagi aku berterima kasih kepada Tuhan atas semua kebahagiaan yang ia limpahkan kepadaku setelah sekian banyak badai yang harus aku lalui selama ini.


"Menikahlah dan berbahagialah selalu, adikku tersayang," ucap Louis dengan seulas senyuman yang begitu tulus.