Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 31 : Menyatunya sang Beauty dan Elf



Alunan musik akustik yang lembut terdengar mengalun indah, berbarengan dengan para tamu undangan yang satu persatu memasuki pekarangan rumahku yang sudah dihias sedemikian rupa.


Warna putih menjadi warna dominan di acara pemberkatan pernikahan aku dan Zayn pagi ini mengingat putih melambangkan kesucian, ya, kesucian cinta antara aku dan Zayn.


Dari dalam kamarku, aku tersenyum memandang semua tamu undangan yang hadir dengan suka cita. Zayn sudah tiba di altar, berdiri berdampingan dengan sang pendeta menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


Bagaimana tidak? Pria itu terlihat semakin tampan dengan setelan jas putih yang melekat dengan sempurna pada tubuh tegapnya, serta rambutnya yang sengaja ditata ke belakang menggunakan pomade.


Dari kejauhan dia melemparkan senyum manis padaku, begitu menawan membuatku bersyukur dalam hati akan menikah dengan pria yang terlampau rupawan itu.


Acara pemberkatan pernikahan aku dan Zayn hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat karena kami berdua tidak ingin menggelar pesta yang terlalu berlebihan.


"Kamu sudah siap?" Louis memanggil dari ambang pintu kamarku yang terbuka.


"Iya, Kak. Mari kita turun," sahutku seraya memakai sepatu pengantin.


Make up artist yang membantuku telah turun ke lokasi acara sejak tadi setelah pekerjaannya selesai. Dengan langkah anggun, aku keluar dari kamarku dan mendapati Louis yang juga sudah nampak begitu gagah dengan setelan jas putih senada dengan gaun pengantinku.


"Eum, Liam mengajakku membeli setelan jas ini jadi kami membeli yang sama persis," ungkap Louis setelah menyadari aku memperhatikan penampilannya dengan seksama.


Aku terkekeh. "aku tahu, Kak Liam juga bilang begitu."


Pria bermanik biru safir itu tersenyum, mempersilakan aku untuk menyelipkan tanganku di area siku tangannya. Karena bertindak sebagai wali, Louis yang bertugas mengantarkan aku ke altar sementara Liam bertugas menjadi saksi.


Ya, aku bahagia kedua kakakku bisa berdiri di atas altar sebagai pendamping pernikahanku meski aku harus berbesar hati menikah tanpa kedua orang tuaku.


Alunan musik terdengar semakin jelas saat aku memasuki pekarangan rumah, semua mata tertuju padaku tak terkecuali Liam yang sedang berdiri di altar bersama Zayn dan pendeta.


Orang-orang memandangku kagum, ada pula yang memandangku sampai lupa mengedipkan matanya membuatku sedikit salah tingkah.


Aku didampingi oleh Louis terus melangkah menuju altar.


"Kalau begitu mari kita mulai pemberkatan pernikahan untuk kedua mempelai," ucap sang pendeta dengan seulas senyum.


Para tamu undangan lantas duduk dengan khidmat, menyaksikan aku naik ke atas altar untuk melakukan pemberkatan pernikahan bersama Zayn.


Dipandu oleh pendeta, Zayn dan aku bergantian mengucapkan ikrar pernikahan sebagai janji setia kami di hadapan Tuhan.


"Dengan selesainya semua prosesi pemberkatan pernikahan yang suci hari ini, kalian sudah sah menjadi suami istri dimata agama dan negara. Selamat menempuh hidup baru," ucap sang pendeta lalu menyalami aku dan Zayn bergantian.


Zayn dan aku saling bertukar pandangan, bingung harus bagaimana setelah ini.


"Kau boleh mencium pengantinmu, bro," seloroh Liam santai sambil menahan tawanya tatkala melihat wajah tampan Zayn yang terlihat bingung.


"Ya. Ciuman setelah pemberkatan pernikahan harus kalian lakukan sekarang," tambah sang pendeta.


Louis tersenyum bodoh, berbeda dengan Liam yang tengah menahan tawanya dengan susah payah.


Zayn menyunggingkan senyumnya, lantas dengan cepat merengkuh tubuhku untuk memberikan kecupan manis pertama kami setelah sah menjadi sepasang suami istri.


...****************...


Sudah beberapa minggu berlalu setelah pernikahanku dan Zayn, kami berdua sama-sama menikmati peran masing-masing sebagai suami istri yang saling melengkapi.


"Istriku, sampai kapan kau akan tidur meringkuk seperti kucing begitu?" tanya Zayn gemas melihat diriku yang sejak pagi tidak melakukan apa pun selain tidur.


Entah mengapa, hari ini aku merasa sangat lelah serta tidak semangat melakukan apa pun membuat Zayn khawatir. Apalagi jika aku mengatakan kalau perutku terasa tidak nyaman, Zayn pasti akan kalang kabut sendiri.


Aku bahkan tidak pergi ke kantor hari ini, tubuhku rasanya benar-benar tidak bertenaga bahkan hanya sekedar untuk berdiri.


Zayn naik ke atas tempat tidur, menaruh telapak tangannya pada dahiku.


"kau sedang tidak demam. selain lelah apa lagi yang kau rasakan?"


Aku memandang Zayn dengan sorot sendu.


"aku merasa mual dan tidak nafsu makan."


Zayn memeluk tubuhku, mengusap-usap lembut punggungku berusaha memberikan kenyamanan.


Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan Zayn yang begitu lembut penuh kasih sayang.


"Makanlah sesuatu, Sayang. Aku sudah memasakkan sup jagung manis untukmu," ucap Zayn khawatir.


"Aku memang lapar sekali, boleh aku memakannya?"


"Tunggulah di sini, aku akan mengambilkan sup jagung manis itu untukmu," kata Zayn yang langsung beringsut keluar dari kamar tanpa menunggu jawabanku.


Aku tersenyum memandang punggung lebar Zayn yang perlahan menjauh. Ya, dia sungguh menjadi suami yang penuh perhatian dan tanggung jawab.


Suami yang selalu siaga dalam situasi apa pun.


Diluar dugaanku, dia malah memiliki pekerjaan sendiri yang dapat menghasilkan uang lebih dari cukup untuk kami berdua tanpa aku harus repot-repot membawanya bekerja di perusahaan milik Papa dan Mama.


Ya, sebuah pernikahan pasangan muda yang diimpikan oleh banyak orang --ekonomi berkecukupan, dengan pasangan yang sangat mencintaimu pula.


"Duduklah, sayang," titah Zayn seraya membantuku untuk bangkit setelah menaruh mangkuk yang ia bawa ke atas nakas.


Dia lalu meraih kembali mangkuk porselen berisi sup jagung manis buatannya setelah membantuku bangkit, memandang kedua netraku penuh arti.


"Aku sama sekali tidak menyesal menikah di usia semuda ini denganmu, Zayn," tuturku jujur saat Zayn menyendok sup jagung manis untuk disuapkan padaku.


"Aku akan selalu berusaha agar kau sama sekali tidak merasa menyesal, sayang."


Pria kaku dan dingin ini dapat terlihat seperti sosok lain saat dia tengah menyatakan perasaannya. Aku tahu, Zayn mengatakan semua kata-kata itu dengan penuh kesungguhan.


Menjadi istri dari seorang Elf sama sekali tak pernah terpikirkan olehku namun aku sama sekali tidak menyesal akan pilihanku ini.


"Maaf sudah membuatmu lelah dan khawatir, Zayn," ucapku tulus dengan seulas senyum.


Zayn membelai lembut pipiku.


"aku sama sekali tidak lelah kau tidak perlu memikirkan hal sepele itu. Besok kita harus pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatanmu sebab aku sungguh khawatir."


Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Zayn, menikmati aroma tubuhnya yang khas sedikit menambah selera makanku.


Dengan telaten Zayn menyuapiku makan hingga mangkuk berisi penuh sup jagung manis itu kembali kosong.


"Besok kau mau makan apa? Biar aku yang memasaknya untukmu," tawar Zayn sambil menaruh mangkuknya ke atas nakas.


Aku tersenyum nakal. "enaknya makan apa ya? Eum.. Apakah aku boleh memakanmu, Zayn?"