Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 34 : Keadaan Genting



"Berikan aku air lagi!" seru Zayn setengah berteriak sambil berlarian kecil ke arahku.


Aku terkekeh geli, menuangkan air yang aku bawa menggunakan ember kecil ke dalam alat penyiram tanaman milik Zayn.


Setelah sekian lama, akhirnya aku dan Zayn sepakat untuk menghabiskan waktu liburan di mansion milik Zayn --tempat kami pertama kali bertemu.


Suasana tenang serta udara hutan yang begitu segar sangat aku rindukan membuatku memilih untuk menghabiskan waktu liburan bersama Zayn di sini ketimbang pergi ke tempat lain.


Zayn sedang sibuk menyirami koleksi tanamannya sedangkan aku hanya menjadi penonton setelah memberi seember air padanya.


Musim panas kali ini terasa sangat berbeda untukku dan Zayn mengingat kami sedang menyambut kelahiran buah hati kami yang hanya tinggal menunggu hari.


Perut yang sudah semakin membesar membuat gerakan-gerikku sedikit terbatas, beruntung aku memiliki suami siaga seperti Zayn yang selalu siap membantu segala aktifitasku.


"Semua tanaman sudah disiram, aku harap mereka akan kembali segar dan tidak jadi mati," ucap Zayn setelah selesai menyiram semua tanaman miliknya tanpa terkecuali.


Di kota, kami memang memiliki cukup banyak tanaman di halaman depan rumahku tetapi sepertinya Zayn juga tetap menyayangi koleksi tanamannya di sini


"Aku harap juga begitu. Hari sudah semakin panas, aku akan beristirahat di dalam," kataku sambil bangkit dari duduk.


"Mana mungkin aku meninggalkan istriku sendirian? Ayo masuk dan buat minuman dingin di dalam," Zayn menyahut sambil meraih tanganku.


Cakrawala biru tak bertepi menaungi kami dengan sedikit awan, membuatku yakin panas akan tetap berlanjut sepanjang hari.


Mentari bersinar terik, cukup untuk membuatmu merasa silau karenanya.


Setelah tiba di lantai dua mansion, Zayn menyuruhku duduk di balkon sembari menunggunya membuat minuman dingin di dapur.


Dari balkon, aku melihat sosok yang amat tidak familiar berjalan ke arah mansion membuatku bingung bagaimana bisa ada orang lain di hutan ini? Terlebih penampilan orang itu amat mencolok dengan pakaian serba hitam serta kulitnya yang berwarna putih pucat.


Dengan seksama aku memperhatikan sosok itu namun sayang aku tetap tidak bisa mengenali orang itu karena wajahnya tertutup dengan topi lebar yang dikenakannya.


"Apa yang kau lihat dengan wajah seserius itu?" tanya Zayn yang sudah kembali dari dapur denga minuman dinginnya.


"Lihatlah ke sana, dari tadi orang itu terlihat seperti sedang mengawasi mansion kita," jawabku sambil menunjuk pada sosok mencurigakan yang aku maksud.


Zayn memicingkan matanya. "oh, sepertinya aku mengenal orang itu. tunggulah di sini sebentar biar aku mendatanginya."


Aku mengangguk patuh. Zayn bergegas menghampiri sosok yang sedang berdiri di halaman depan mansion, sementara aku memperhatikan interaksi mereka berdua dari balkon.


...****************...


Aku memandang penuh tanya kepada seorang pria yang tengah duduk di hadapanku, menuntut jawaban yang jelas darinya.


Kemunculan orang lain di hutan ini cukup membuatku kaget sekaligus penasaran agaknya apa tujuan orang itu sampai datang kemari terlebih ia juga sampai mengenal Zayn.


"Jadi, yang mulia sudah menikah dengan seorang manusia?" tanya pria itu kepada Zayn.


"Ya, dan dia sedang mengandung anakku. ada perlu apa sampai Paman jauh-jauh datang kemari mencariku?"


Hah? Paman? Apa mungkin pria itu benar pamannya Zayn?


"Dia bukan Paman kandungku, sayang. Dia adalah penasihat kerjaan dunia Elf tempatku berasal. Beliau sudah aku anggap seperti keluarga sendiri karena telah mengabdi di kerajaan sejak aku sebelum lahir," jelas Zayn.


Aku mengangguk. "kalau begitu jawablah pertanyaan suamiku dengan sejelas-jelasnya."


"Tujuanku datang kemari adalah untuk menjemput yang mulia Pangeran Zayn karena ada masalah serius yang terjadi di kerajaan Elf," jelas Paman Elliott, memandang Zayn penuh harap.


Alia tebal milik Zayn menukik. "untuk apa aku kembali setelah orang-orang kerajaan bersekongkol untuk membunuhku?"


"Saya mohon, yang mulia... Sekarang kerajaan sudah diambang kehancuran semenjak Paman anda memimpin kerajaan menggunakan ketamakannya serta keegoisannya," ucap Paman Elliott memohon.


"Aku tidak memiliki tujuan untuk kembali, apa pun yang terjadi pada kerajaan Elf sudah bukan tanggung jawabku lagi," balas Zayn mantap.


Seperti yang aku ketahui sebelumnya, Zayn nampaknya masih merasa terluka karena perlakuan keluarga kerajaan kepadanya kala itu maka aku tidak heran mendengar ia menjawab demikian.


Pria itu tertunduk lesu. "apa anda tega membiarkan tanah kelahiran anda hancur begitu saja, yang mulia?"


Zayn terhenyak sesaat setelah mendengar pertanyaan Paman Elliott, ia nampak berpikir keras bagaimana caranya menjawab pertanyaan pria yang lebih tua itu.


Zayn menghela napas panjang lantas memandangku. "Apa kau mau ikut aku ke dunia Elf, sayang? Aku tahu ini berbahaya tetapi aku juga tidak mau membiarkanmu tinggal di sini sendirian."


"Baiklah. Kalau begitu kau harus melakukan yang terbaik untuk kampung halamanmu dan semua orang yang kau sayangi, Zayn."


Paman Elliott menghela napas lega mendengar jawaban dariku dan Zayn. Beliau tersenyum, mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Berhubung perjalanan kita akan memakan banyak waktu maka kita harus melakukan persiapan sebelum memulai perjalanan, terutama untuk Nona anda harus menyiapkan obat untuk berjaga-jaga."


"Aku punya jalan pintas yang tercepat menuju pusat kota kerajaan Elf, jadi kita bisa memulai perjalanan pagi-pagi sekali, Paman," pungkas Zayn cepat sambil membuka sebuah peta usang.


"Rute ini aku sendiri yang menemukannya, terlebih selain cepat rute ini juga aman untuk dilalui oleh wanita hamil seperti istriku," imbuh Zayn, menunjukkan titik-titik merah yang sudah ia gambar sebelumnya.


"Saya tidak menyangka kalau yang mulia sudah menikah sehingga saya tidak membawa kereta kuda," kata Paman Elliott dengan pandangan menyesal padaku.


"Kalau begitu Paman harus mencari dua ekor tikus sekarang juga dan jangan lupa mengurungnya di kandang yang ada di halaman depan mansion," titah Zayn seraya mengedikan dagunya ke arah kandang besi di halaman mansion.


Paman Elliott mengangguk patuh.


"Baiklah, yang mulia. Saya akan pergi mencarinya sekarang juga."


Setelah Paman Elliott keluar dari mansion, kini aku yang memandangnya Zayn bingung.


"Memangnya untuk apa kau menyuruh Paman Elliott mencari tikus?"


Zayn tersenyum misterius. "untuk menjadi teman di perjalanan kita nanti tentu saja. bukankah Paman Elliott juga bilang kalau kita harus melakukan persiapan untuk perjalanan kali ini?"


Jawaban Zayn yang sungguh tidak memuaskan membuatku mencebik sebal. Apa mungkin tikus-tikus yang ditangkap oleh Paman Elliott akan dimakan oleh Zayn sebagai camilan?


"Semoga saja kau tidak memakan tikus-tikus itu atau menyiksanya, Zayn."


Zayn terkekeh geli mendengar ucapanku.


"Mana mungkin aku akan memakan tikus? Malah aku ingin menaikkan derajat hewan pengerat itu menjadi jauh lebih berguna ketimbang semestinya."