Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 45 : Negeri Surga Yang Pulih



Kereta kuda nampak berlalu lalang di depan jalan besar di depan istana, membawa berbagai macam komoditas pertanian untuk di bawa keluar desa guna di jual. Sebagian juga ada yang dibawa ke pasar untuk dijual kepada rakyat kerajaan Elf.


Aku memantau para pedagang itu dari jendela kamarku di dalam istana, tersenyum bahagia akhirnya kerajaan ini bisa kembali makmur seperti sedia kala.


Atreus yang ada dalam gendonganku juga nampak bahagia, suara tawanya juga kerap terdengar. Anak ini sangat menggemaskan, semua orang di kerajaan ini selalu memandangnya penuh cinta membuatku semakin bahagia.


Pertumbuhan Atreus juga berlangsung dengan sangat baik, wajah tampannya nampak semakin menonjol mirip seperti sang Ayah.


Dilihat dari sisi mana pun, Atreus dan Zayn amat mirip bagaikan pinang yang dibelah dua.


Ketampanan milik Zayn ternyata menurun dengan baik kepada Atreus, sering kali membuatku tersenyum bangga karena memiliki suami dan anak yang luar biasa tampannya.


"Kau sedang apa, Ada?" Zayn bertanya dari belakang, ia baru saja pulang berburu dengan beberapa prajurit kerajaan di hutan yang terletak di barat kerajaan.


Semenjak menjadi raja, Zayn rutin pergi ke hutan perburuan setidaknya satu kali dalam sebulan selama tiga hari sebagai hiburan untuk mengusir penat setelah mengurus berbagai macam pekerjaan menyangkut kerajaan.


Sementara aku lebih suka pergi berjalan-jalan keliling kerajaan dengan menunggangi Leah, kuda putih kesayanganku. Ada banyak kemajuan yang aku dapatkan sejak menjadi ratu, mulai dari keahlian memanah sampai berkuda.


"Aku sedang memperkenalkan kehidupan rakyat kepada Atreus," jawabku seraya berbalik, memamerkan tanganku yang sedang menggendong putra semata wayang kami berdua.


Seolah tahu Ayahnya telah tiba dari perjalanan jauh, Atreus memamerkan senyuman lebar yang sangat menggemaskan menyambut kembalinya sang Ayah.


"Wah, lihatlah anakku tampan sekali!" Zayn berseru girang, mengambil Atreus dari gendonganku lantas mengangkat anaknya tinggi-tinggi.


"Nanti saat kau sudah bisa berjalan sendiri, Ayah akan mengajakmu berburu juga," Zayn berujar senang dengan senyuman merekah membuatku ikut tersenyum juga.


Interaksi Ayah dan anak itu sangat menggemaskan membuatku kian bahagia.


"Aku akan pergi menyapa para pedagang yang hendak pergi ke luar kota, kau mau ikut?" tawarku sambil kembali mengambil Atreus dari gendongan Zayn.


Zayn tersenyum senang, mengangguk kemudian.


"tentu saja aku harus ikut menyapa para rakyat, tunggulah sebentar aku harus berganti pakaian."


Dengan tergesa-gesa, Zayn melepaskan pakaian berburu serba hitam yang masih melekat pada tubuhnya lalu menggantinya dengan pakaian resmi kerajaan berwarna putih gading tak lupa mengenakan jubah raja bermotif harimau dengan sulaman benang perak miliknya.


Melihat pakaian Ayahnya yang sangat lebar, Atreus terkekeh geli membuat Zayn langsung mengalihkan perhatiannya kepada Atreus sambil mengikat rambutnya.


"Ada apa, Atreus? Kau juga mau pakai baju ini?"


Si anak hanya tersenyum penuh, memamerkan gusinya yang masih polos belum memiliki gigi.


Pipi Atreus yang tembam terlihat melebar ke sisi kanan dan kiri, sungguh menggemaskan!


"Atreus pasti akan menggunakan baju itu juga kelak. Atau aku juga harus belajar merajut agar bisa membuatkan baju kerajaan kecil sendiri untuknya?"


Zayn mengangguk setuju mendengar saranku.


"ide yang bagus. tapi apa kau sungguh tidak apa-apa kalau mempelajari terlalu banyak hal seperti itu?"


"Tidak masalah, suamiku. Aku bisa melakukannya secara terjadwal dengan rutin selama satu minggu. Lagi pula Atreus adalah anak yang sangat sabar dan tidak rewel," balasku dengan seulas senyum.


Langit yang biru serta mentari yang bersinar begitu cerah hari ini membuat suasana hati orang-orang nampak lebih baik, turut membuatku merasa senang.


"Selamat siang yang mulia raja dan yang mulia ratu. Anda berdua hendak kemana?" tanya Marco sang jendral saat aku dan Zayn hampir tiba di gerbang utama istana.


"Kami ingin menyapa para rakyat, hari ini banyak pedagang yang pergi untuk menjual hasil pertanian ke kota dan negeri lain," terang Zayn.


"Betul, yang mulia. Berkat bantuan yang mulia raja dan ratu, hasil panen tahun ini melimpah dan berhasil menaikkan pendapatan para pedagang dan petani negeri ini," Marco berujar bangga penuh hormat, membukakan pintu gerbang setinggi tiga meter itu dengan mudahnya.


"Sudah kewajiban bagiku dan Zayn untuk melakukan yang terbaik demi rakyat," ucapku dengan seulas senyum.


Entahlah, hari ini aku merasa sangat bahagia.


Wajah para rakyat juga nampak jauh lebih cerah ketimbang saat pertama kali aku datang ke negeri ini, sungguh hal yang sangat melegakan.


"Selamat siang, yang mulia raja dan yang mulia ratu. Oh, selamat siang juga pangeran Atreus!" sapa salah seorang pedagang dengan begitu ramah lengkap dengan senyuman yang begitu cerah.


"Selama siang. Kau mau pergi ke mana?" tanya Zayn saat pedagang itu menepikan gerobak besar yang sedang ia tarik.


"Saya hendak pergi ke kota lain untuk menjual buah persik ini, yang mulia. Hasil panen saya melimpah ruah tahun ini berkat yang mulia sekalian, terima kasih banyak yang mulia raja dan yang mulia ratu," kata pemuda itu penuh suka cita.


Aku mengangguk. "kembali kasih. kalau begitu lanjutkanlah perjalananmu dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati."


Para rakyat yang lewat bergantian datang menyapa kami, kian menimbulkan kebahagiaan bagiku dan Zayn.


Lelaki kaku dan dingin seperti Zayn kini bahkan tak sungkan untuk tersenyum di depan rakyatnya, semakin mengeratkan hubungan antara rakyat dan rajanya.


"Aku senang kini para rakyat bisa hidup dengan lebih baik. Seluruh komoditas pertanian di kerajaan ini juga memiliki hasil panen yang melimpah ruah dengan harga jual yang stabil. Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, ratuku," Zayn berujar dengan seulas senyum lega.


Aku mengangguk, tersenyum kemudian.


"bukan apa-apa. aku hanya menjalankan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang ratu."


Zayn mengecup puncak kepalaku dengan lembut. "Adaline, aku sungguh bahagia bisa menjadi suamimu serta ayah dari Atreus."


"Wah, lihat! Yang mulia raja dan yang mulia ratu sangat harmonis!"


"Iya, romantis sekali!"


"Hahaha aduh yang mulia Anda berdua membuat saya merasa iri!"


"Haih, suami saya tidak pernah memperlakukan saya dengan semanis itu!"


Para pengawal dan rakyat bergantian mengomentari serta menggoda kemesraan aku dan Zayn, membuat kami berdua hanya bisa terkekeh geli membalas tindakan mereka.


Syukurlah kini negeri ini sudah kembali pulih seperti sebagai mana mestinya.


Aku selalu beharap kebahagiaan serta berkah senantiasa setia menyelimuti negeri yang seindah surga ini.