Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 23 : Cinta Zayn yang Manis dan Dingin



Alunan musik classic terdengar begitu lembut serta menenangkan, mengalun merdu di segala penjuru mansion berasal dari sebuah gramophone yang sengaja diletakkan oleh Zayn di pojok kanan ruang tengah mansion.


Sambil memanggang daging rusa hasil buruan Zayn tadi malam aku bersenandung kecil di halaman depan mansion, sementara pria itu belum kelihatan batang hidungnya sejak tadi subuh membuatku sedikit kepikiran agaknya apa yang sedang dia lakukan sampai tak sempat menyantap sarapannya tadi pagi.


"Kemana pria itu pergi?" aku bergumam khawatir, memandang kepada Oli yang sedang menyantap pisangnya dengan nikmat.


Kera ekor panjang kecil itu hanya menggeleng menanggapi pertanyaanku tanpa mengalihkan atensinya dari pisang dalam genggamannya.


Aku menghela resah, mengipasi perlahan nyala api unggun di hadapanku yang mulai padam menggunakan karton berusaha mempertahankan nyala apinya agar tidak mati.


Aku akan mencarinya setelah ini, kalau tidak Zayn akan benar-benar tidak makan seharian penuh.


Dengan cekatan tanganku memindahkan potongan daging rusa yang sudah matang ke atas piring porselen besar di atas meja kayu di sisi kiri tubuhku, hendak menyimpannya ke dalam mansion nanti setelah semuanya matang.


"Apa kau tidak mau membantuku mencari pria itu, Oli? dia belum makan apa pun sejak tadi pagi membuatku khawatir," aku berucap sekali lagi kepada Oli, tetapi monyet jantan itu hanya memandangku dengan malas.


Aku mendecak sebal. "kau selalu saja malas melakukan apa pun, Oli."


Setelah yakin semua potongan daging rusa yang aku masak telah matang dengan sempurna, aku lantas menyimpannya di dalam kabinet dapur.


Kedua tungkaiku lalu melangkah terburu keluar dari mansion bermaksud mencari keberadaan Zayn.


Lagi pula kenapa sejak pagi buta tadi dia sama sekali tidak bicara padaku selain meminta daging rusa hasil buruannya untuk di panggang?


Sekarang aku pun mulai bingung kenapa aku bisa menjadi kekasih dari seorang Elf yang sangat dingin dan sulit ditebak itu.


"Zayn?" aku berteriak, memanggil namanya sesekali sambil terus melangkah masuk ke dalam hutan. Namun aku tak mendengar jawaban, yang ada hanya suara beberapa hewan yang saling menyahut.


Semakin jauh kakiku melangkah hingga tanpa sadar aku sudah sampai di tepi sungai yang menjadi perbatasan antara dua hutan.


Tanpa ragu aku terus melangkah hingga dengan bodohnya kakiku menginjak tanah berlumpur yang membuatku jatuh terjerembab ke dalam sungai.


"Ah, sial!" aku mengumpat sambil berusaha bangkit, namun Dewi Fortuna sepertinya enggan berpihak padaku kali ini.


Boro-boro bisa berdiri, kaki kananku sekarang malah terasa sakit sekali membuatku mau tak mau harus merangkak melawan arus sungai yang untungnya sedang tidak dalam keadaan pasang itu.


"Kenapa kau selalu saja melakukan hal yang bodoh dan ceroboh, Adaline?"


Zayn tiba-tiba datang dengan membawa busur panah di punggungnya, entah dari mana dia datang. Aku mencebik kesal, enggan menjawab pertanyaannya yang sukses membuat hatiku semakin jengkel.


Bukankah dia tahu aku sedang celaka sekarang?


Kenapa dia malah mengatakan hal seperti itu?


Huh, dasar laki-laki tidak peka!


Zayn berderap menuju tepi sungai, mengulurkan tangannya dengan tatapan menyebalkan.


"ayo cepat, apa kau mau menjadi santapan buaya malam ini?"


Dengan air muka masam, aku meraih tangan Zayn berusaha bangkit dari tepi sungai.


"Argh!" aku mengerang kesakitan tatkala berusaha berdiri, rasa sakitnya bahkan terasa menjalar hingga ke ubun-ubun.


Zayn dengan sigap langsung menurunkan busur panah dari punggungnya, berjongkok di depanku kemudian.


"naiklah, kau tidak akan mampu berjalan jauh dengan kaki terkilir seperti itu."


"Tidak perlu, aku bahkan tidak lebih penting urusanmu jadi untuk apa aku naik ke punggungmu?" balasku ketus.


"Kenapa kau sangat keras kepala, hah?" Zayn tanpa meminta persetujuan dariku langsung membawa tubuhku ke dalam gendongannya.


Aku tetap mempertahankan muka cemberut, sementara wajah Zayn tetap datar dan dingin walau sedang menggendong tubuhku ala bridal style. Aku memutuskan untuk tetap bungkam hingga akhirnya kami berhasil tiba dengan selamat di mansion.


Zayn dengan perlahan mendudukkan tubuhku di atas kasur, dia lantas berbalik menuju lemari dan berganti pakaian.


"kau mau mengganti pakaianmu sendiri atau aku juga yang harus menggantikannya?"


Aku menelan ludah, menggeleng cepat.


"berikan saja pakaian ganti padaku, aku masih bisa berganti pakaian sendiri."


Zayn membalikkan badannya, melempar perlahan sepasang pakaianku tepat di atas pahaku.


"cepat ganti bajumu atau kau akan sakit."


Aku mengerucutkan bibir, melangkah tertatih menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Dengan hati yang dongkol aku buru-buru mengganti pakaian basah dengan pakaian kering.


"Kenapa kau terus diam seperti patung?" tanya Zayn setelah aku keluar dari kamar mandi.


Aku tetap diam seribu bahasa, tak mau menanggapi Zayn dan terus berjalan tertatih menuju kasur sambil meringis kesakitan.


Zayn ikut menyusul naik ke atas kasur, meraih kaki kananku yang terkilir lantas memijatnya perlahan.


Saat rasa nyeri yang menjalar membuatku hanya bisa meringis menahan sakit.


"Kenapa kau pergi ke sana?" tanya Zayn seraya memijat kakiku.


"Kau sudah tahu apa tujuanku sampai pergi ke sana," sahutku ketus dengan wajah muram.


"Tunggu sebentar."


Zayn beranjak dari duduknya, berbalik pergi menuju keluar kamar.


Sepersekian saat berlalu, pria itu kembali dengan sebuah buket bunga besar yang sangat cantik --beraneka macam bunga ada di dalam buket itu membuatku terpana.


Aroma dari buket bunga yang dibawa oleh Zayn terasa sangat harum serta menyegarkan, membuat seulas senyum merekah dari kedua sudut bibirku. Zayn tersenyum tipis, menyodorkan buket bunga besar itu padaku.


"Maaf sudah membuatmu kesal sepanjang hari ini,"


sesal Zayn seraya membawaku masuk ke dalam rengkuhan hangat tubuh tegapnya.


"Memangnya apa yang membuatmu jadi sesibuk itu sampai mengabaikan aku seharian?" aku bertanya masih dengan sisa rasa kesal dalam hatiku.


Zayn mengusap puncak kepalaku dengan seulas senyum lembut. "maaf, aku hanya sedang berusaha membuat buket bunga yang paling cantik untukmu dengan usahaku sendiri."


Sorot mata Zayn memandangku dengan begitu hangat, menghalau semua rasa sebalku padanya seharian ini. Buket bunga ini sangat cantik, aku tidak menyangka Zayn mampu merangkainya sendiri dengan begitu indah.


"Aku mengambil semua jenis bunga yang harum di hutan ini dan merangkainya sendiri untukmu. ya, walau aku tahu bunga-bunga itu akan segera layu tapi setidaknya aku ingin sedikit menunjukkan rasa sayangku kepadamu melalui buket bunga ini," terang Zayn masih dengan senyuman yang belum memudar.


"Maaf aku sangat payah dalam menunjukkan perasaanku," imbuh Zayn sambil mengusap lembut kedua belah pipiku.


Senyumku merekah, memandang lekat paras rupawan milik Zayn.


"Aku hanya bisa berterima kasih karena kau sudah menyayangi aku dengan begitu tulus, Zayn."