Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 36 : Dunia Yang Asing



"Aku yakin kau akan berhasil melakukan yang terbaik, suamiku."


Rentetan kata yang keluar dari bibirku membuat Zayn tersenyum hangat, membuat perasaanku juga terasa lebih baik.


Sinar mata Zayn yang kian melembut membuatku semakin tenang serta nyaman, mempercayai suamiku itu seutuhnya bahwa semua akan baik-baik saja.


Meski Zayn bilang rute yang kami pilih merupakan rute tersingkat dan aman, namun aku juga kerap kali menahan napas tatkala kereta kuda yang kami tumpangi menaiki bukit yang amat tinggi.


Belum lagi saat laju kereta kuda mau tak mau harus melambat karena mesti melewati sungai yang membuat akses jalan terputus.


Aku tidak tahu berapa lama sihir yang merubah dua ekor tikus itu menjadi kuda bertahan, namun yang pasti semua hal yang terjadi hari ini sungguh diluar nalarku sebagai seorang manusia biasa.


Perasaanku sejujurnya sangatlah tegang selama menempuh perjalanan ini, namun aku tak punya pilihan untuk tetap ikut kemana pun suamiku melangkah.


"Paman Elliott, mari menepi sebentar kita harus makan terlebih dahulu," komando Zayn setelah kereta kuda kami tiba di lereng bukit, lokasi yang jauh lebih nyaman untuk beristirahat sejenak.


"Baiklah, yang mulia. Saya akan mencari lokasi yang lebih nyaman untuk kita beristirahat lebih dulu," sahut Paman Elliott.


Paman Elliott menarik tali kekangnya pelan, memberi perintah kepada para kuda untuk berhenti berjalan dan mengisi tenaga mereka lebih dahulu dengan cukup makanan dan air.


Dengan lembut, Elf yang nampak sudah cukup sepuh itu mengantarkan kedua kuda untuk makan rumput tak jauh dari tempat kami beristirahat. Sebuah anak sungai juga nampak mengalirkan air yang begitu jernih, sangat bagus untuk para kuda.


Setelah mendapatkan posisi yang nyaman sambil bersandar di sebuah batang pohon oak tua, aku membuka perbekalan yang kami bawa dan mulai menyantapnya dengan nikmat.


Bertemankan panorama alam yang masih begitu memesona serta asli jauh dari jangkauan manusia, aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Elf hingga Zayn suka tidak suka harus menyelesaikannya langsung seperti ini.


Tapi aku tidak mau membuat Zayn merasa semakin terbebani maka aku memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa.


Pepohonan rimbun, deretan perbukitan hijau cantik yang berbaris dengan pola zig-zag membuatku terpana. Pemandangan di tempat ini sangat luar biasa bagaikan di surga membuatku menyimpan semua keindahan ini baik-baik dalam benakku.


"Kita di mana, Zayn? Apa dunia Elf tujuan kita masih jauh?" tanyaku setelah menyadari bekal milikku telah habis aku makan.


"Kita sudah masuk di perbatasan antara dunia manusia dan Elf. Di deretan perbukitan itu, sudah masuk dunia Elf sedangkan tempat kita duduk ini masih dalam dunia manusia," Zayn memberikan penjelasan singkat sambil mengunyah suapan terakhir bekalnya.


Aku mengangguk paham. "baiklah kalau begitu bolehkah aku meluruskan kakiku sejenak? sungguh rasanya kakiku pegal sekali."


"Istirahatlah sebanyak yang Nona mau. Tujuan kita sudah dekat jadi kita bisa sedikit bersantai," imbuh Paman Elliott sambil tersenyum lembut.


Udara yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi sukses menerbitkan senyumku, sudah lama aku tidak melihat pemandangan menakjubkan seperti ini.


Dengan lembut aku mengusap perutku, membelai calon buah hatiku dengan perasaan senang.


Meski lelah, pemandangan secantik ini bisa membuatku sedikit lupa akan rasa lelah yang menjalari seluruh tubuhku.


...****************...


"Yang mulia Pangeran Zayn, Anda akhirnya kembali!" sapa salah seorang Elf pria dengan senyum mengembang setibanya kereta kuda yang kami tumpangi di kerajaan Elf.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Zayn sambil bergerak turun dari kereta kuda.


"Tidak baik, yang mulia. Adik saya diambil secara paksa oleh pihak kerajaan untuk menjadi pelayan," jawab pemuda Elf itu dengan wajah murung.


"Lantas siapa Nona cantik itu, yang mulia?" pandangan Felix teralih kepadaku.


"Dia Adaline, istriku," sahut Zayn cepat.


Felix mendelik kaget mendengar pernyataan dari Zayn, terlihat amat tak percaya akan ucapannya.


"Apa kata Anda, yang mulia?!"


"Nona Adaline adalah istri dari yang mulia. Tolong perlakuan beliau dengan penuh hormat," tambah Paman Elliott memperjelas ucapan Zayn.


Felix yang masih setengah tidak percaya memandangku kagum seraya mengulas senyuman yang kaku.


"Oh, senang bertemu dengan Anda, Nona Adaline, Anda sangat cantik," ucap Felix sopan.


Kereta kuda yang aku tumpangi berjalan lurus menuju sebuah rumah besar berbahan kayu dengan desain yang sangat berbeda dengan bentuk rumah kebanyakan di duniaku.


Di sisi kiri dan kanan jalan, nampak semak belukar dan pohon-pohon besar dengan daun yang berwarna-warni. Keindahan alam yang terlihat nampak asing namun berhasil memikat hatiku.


"Terima kasih. Salam kenal, Felix," sahutku.


Berbeda dengan di dunia manusia dimana saat siang hari orang-orang akan berlalu lalang kesana kemari menggunakan kendaraan, di dunia Elf mereka berpindah tempat dengan berjalan kaki atau terbang menuju tempat tujuan.


Para Elf juga beraktifitas dengan cara tradisional, menggunakan peralatan serba konvensional tak heran bila udara di sini terasa amat berbeda, ringan karena bebas dari polusi.


Tiba di rumah besar yang menjadi tujuan, aku dibantu oleh Zayn turun dari kereta kuda.


Rumah itu nampak sangat alami, warna dinding kayu rumah itu bahkan terlihat sama dengan kayu pohon-pohon di sekitarnya.


Beberapa orang Elf nampak memusatkan perhatian mereka kepada kami dengan tatapan menelisik membuatku merasa sedikit risih.


"Sepertinya mereka tidak mengenali aku," Zayn meringis, menurunkan barang bawaan dari kereta kuda.


"Malah akan lebih baik seperti itu, yang mulia. Dengan begini Anda bisa dengan mudah menyelinap ke dalam istana," Paman Elliott berujar.


"Selagi aku bekerja tolong jaga istriku dengan baik, Felix. Dia sedang hamil perhatikan apa saja yang dia makan," imbau Zayn seraya membawa barang-barang bawaan masuk ke dalam rumah.


Sama seperti dindingnya, lantai rumah itu juga terbuat dari kayu. Atapnya terbuat dari genting, yang membuat rumah ini terasa lebih sejuk.


"Baiklah, yang mulia. Saya harap secepatnya kita bisa membereskan semua masalah yang menumpuk di kerajaan," balas Felix sambil berjalan memandu kami ke dalam rumah.


"Yang mulia, Nona Adaline, untuk sementara rumah ini adalah tempat yang paling aman untuk kita tinggali. Secepatnya kita akan menyusun siasat terbaik untuk menggulingkan pemerintahan Raja saat ini," bisik Paman Elliott.


Hanya dengan melihat wajah para Elf di luar rumah tadi pun aku sudah dapat menarik kesimpulan betapa hidup mereka selama ini sangat tertekan serta terbebani.


Mereka bahkan tidak saling bertukar sapa seperti masyarakat pada umumnya yang membuat aku semakin yakin bahwa kerajaan Elf ini akan benar-benar runtuh kalau Zayn terlambat datang untuk menyelamatkannya.


"Kita akan menyusun siasat terbaik bersama-sama. Tetapi selain siasat, aku juga harus mengajarkan istriku bagaimana caranya memanah," pungkas Zayn serius.