Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 40 : Upacara Penobatan



"Tegakkan punggung Anda, fokus pada target lalu lepaskan anak panahnya," Viona memberi aba-aba lagi kepadaku setelah cukup banyak busur panah yang aku tembakkan meleset jauh dari target.


Aku menghela napas lelah, ternyata memanah memang sangat sulit saat pertama kali mencoba. Namun Viona sangat sabar mengajari aku sehingga semangatku tidak cepat padam.


"Anda tidak boleh menyerah, Nona. Saya akan tetap mengajari Anda sampai benar-benar pandai memanah dan bisa menjadi bagian dari marksman kerajaan," ucap Viona sambil menepuk bahuku samar, seulas senyuman tulus juga terpatri di wajahnya.


"Marksman kerajaan?" tanyaku bingung, meletakkan kembali busurku ke atas tanah memandang gadis Elf itu penuh tanya.


"Ya. Yang mulia Pangeran Zayn sudah memiliki siasat jitu untuk melengserkan Pamannya yang korup itu," tutur Viona sambil menyodorkan air minum kepadaku.


Aku mengangguk paham. "apa pun yang dilakukan oleh suamiku selagi itu hal yang baik maka aku akan mendukungnya."


"Semua bangsawan dan warga kerajaan ini mendukung kembalinya yang mulia Pangeran Zayn untuk naik tahta karena memang seharusnya sejak dulu ia yang bertahta mengikuti garis keturunan kerajaan. Upacara penurunan tahta dari raja yang lama ke raja yang baru akan dilakukan tak lama lagi, maka saya harap Nona terus memiliki semangat tinggi untuk berlatih memanah sebagai langkah antisipasi," jelas Viona, membeberkan hasil rapat kerajaan sebab baru-baru ini dia mulai bekerja sebagai prajurit kerajaan.


"Antisipasi? Apakah itu benar-benar perlu?"


"Tentu saja, Nona. Siapa tahu raja yang lama tidak sepenuhnya menyetujui pelengseran dirinya dari tahta dan melakukan pemberontakan."


Aku memandang lurus tanah hijau di depanku dengan perasaan risau. Aku tak menyangka kalau masalahnya akan jadi serumit dan sepanjang ini.


Walau begitu sebagai istri dari seorang putra mahkota kerajaan Elf tak ada pilihan lain bagiku.


Dedaunan kering yang berterbangan di depanku membuatku menyadari bahwa tak segala sesuatu bisa terjadi sesuai keinginan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


"Kapan upacara itu akan dilaksanakan?" tanyaku setelah merasa cukup berpikir.


"Pekan depan, Nona. Anda hanya punya waktu satu pekan untuk berlatih walau belum sepenuhnya pandai memanah tapi saya yakin semangat Anda akan membuat Anda bisa melakukan yang terbaik."


"Baiklah, Viona. Mohon bantuannya aku akan berusaha keras demi keselamatan suamiku."


Viona mengangguk. "kalau begitu mari kita mulai kembali latihannya, Nona. tapi ingat, pikirkan juga keselamatan calon buah hati Anda dengan yang mulia Pangeran."


Aku mengusap lembut perutku yang kian membesar, berharap anakku ini akan sehat selalu sampai kelak ia dewasa.


"Ya. Mari kita lanjutkan latihan kita, Viona."


Dengan semangat menggebu-gebu, aku meraih kembali busur panahku yang cukup berat itu lantas memasukkan kembali sebuah anak panah dengan cekatan. Apa pun yang terjadi, aku juga harus bisa melindungi Zayn seperti ia selalu melindungi aku selama ini.


...****************...


Sorak-sorai serta keramaian warga Elf nampak memadati alun-alun Barat istana kerajaan Elf.


Semuanya menyambut Zayn dengan suka cita membuatku hanya bisa mengulas senyuman.


Ternyata Zayn sangatlah dicintai oleh masyarakat Elf negeri ini, cukup membuatku bangga.


Semua orang menyerukan nama Zayn, sementara sang pemilik nama hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya.


Di atas kereta kuda tanpa atap ini, aku dengan leluasa dapat melihat wajah para Elf yang semuanya rupawan --membuatku sedikit merasa minder karena di kerajaan tidak ada orang jelek.


Pengawalan ketat oleh para prajurit kerajaan menghantarkan aku dan Zayn masuk ke dalam istana megah kerajaan Elf.


Dinding bangunan besar itu dilapisi dengan marmer putih yang mengkilap di setiap jengkalnya, dengan kubah besar di setiap penjuru mata angin kian menonjolkan kekayaan kerajaan ini.


"Aku pernah tinggal di istana ini sampai kedua orang tuaku wafat," bisik Zayn saat membantuku turun dari kereta kuda.


"Mari yang mulia dan Nona, upacara akan dilangsungkan di paviliun Timur," ucap Jendral kerajaan sambil menunjukkan jalan kepadaku dan Zayn.


"Terima kasih, Marco," Zayn menyahut singkat, menggandeng tanganku.


Orang-orang kerajaan seperti para pelayan dan bangsawan nampak menyambut kedatangan aku dan Zayn di dalam istana dengan senyuman ramah.


Selama di dalam istana pun aku tetap dibuat terkesima dengan keindahan istana kerajaan Elf yang luar biasa ini. Dekorasi elegan dan mewah, lengkap dengan karpet beludru berwarna merah menghiasi lantai istana.


"*Bukankah itu istri yang mulia?"


"Apakah dia seorang manusia? Bagaimana mungkin seorang Elf menikah dengan seorang manusia?"


"Kudengar dia sedang mengandung anak dari yang mulia, apa kalian tidak lihat perutnya yang buncit itu?"


"Jangan keras-keras! Nanti yang mulia mendengar, bisa-bisa dia akan menebas leher kalian!"


"Hei, kalian semua hentikan*!"


Aku meremas tangan Zayn mendengar bisikan-bisikan para pelayan tatkala aku dan Zayn sedang berjalan menuju paviliun Timur.


"Siapa pun yang berani menggunjing istriku dari depan mau pun dari belakang akan aku antarkan ke neraka dengan jalur kelas satu," tegas Zayn dengan suara dingin membuat para pelayan wanita itu seketika terhenyak, berhenti berbisik-bisik.


Bahkan aku pun mendengar para pengawal di belakangku menelan ludah, merasa ngeri mendengar ucapan Zayn.


Tiba di lokasi upacara, aku diperkenankan untuk duduk berjajar dengan para bangsawan yang menyapaku dengan penuh hormat.


Upacara penurunan tahta kerajaan lantas langsung di mulai.


Upacara penurunan tahta berjalan lancar, kini saatnya untuk melakukan upacara penobatan raja baru untuk Zayn.


Para petinggi kerajaan yang sudah siap sedia mulai berbaris dengan rapi berjajar di belakang Zayn.


Di pimpin oleh pendeta kerajaan, upacara penobatan raja baru resmi di mulai.


"Serahkan tahtamu atau kau akan mati!" teriak raja sang raja lama dengan sebilah belati tajam di tangannya.


Semua pengawal yang ada di sana pun menodongkan pedang mereka kepada Zayn dan aku, membuat diriku seketika kalut.


"Siapa pun yang berani menentangku akan mati!" tambah pria setengah baya itu penuh penekanan.


Semua orang tak berani berkutik kemudian, membuat situasi semakin sulit. Dalam diam aku berpikir, melihat ke arah Zayn yang menatapku penuh khawatir.


Dengan segenap keberanian yang aku kumpulkan, aku berbalik menarik sebilah pedang milik salah seorang prajurit membuat semua orang semakin terkejut melihat aksiku.


Tatapanku nyalang, menatap berani setiap orang yang ada di sana sambil berjalan mundur mendekati Zayn yang sedang terkepung.


"Jika kalian ada yang berani mendekat, akan aku putuskan leher kalian tanpa ampun!" pekikku marah, berusaha mengendalikan situasi sambil menyembunyikan rasa takutku.


Meski tanganku gemetaran, aku akhirnya berhasil menyerahkan pedang itu kepada Zayn yang dengan cepat langsung menodongkannya ke leher sang raja yang baru saja lengser dari jabatannya yang tak lain adalah Pamannya sendiri.


"Paman, bersiaplah untuk dihukum pancung karena sudah merencanakan kudeta!"