
Liam mengangguk. "ya, aku tahu dimana dia tinggal saat ini. apa kamu mau menemuinya sekarang?"
Aku jelas kaget mendengar tawaran Liam yang tiba-tiba namun penuh akan keseriusan itu, Louis juga nampak sama kagetnya membuatku tanpa ragu langsung mengiyakan tawaran Liam.
"Kebetulan sekarang dia tinggal di tempat yang tidak begitu jauh dari sini," imbuh Liam seraya bangkit dari duduknya.
"mari berangkat sekarang agar kita tidak membuang-buang waktu."
"Aku harap bisa menemukan informasi yang berharga dari Tuan Maguiere," gumamku sambil melangkah mengikuti Liam yang berjalan lebih dulu menuju mobilnya.
Louis merangkul bahuku. "ya, pasti kita akan segera menangkap pelakunya."
Dengan mengendarai mobil Liam, kami bertolak menuju tempat tinggal Tuan Maguiere si pemilik bengkel itu. Andai saja aku tahu lebih awal jika pria itu ada sangkut pautnya dengan Liam sudah pasti kasus ini sudah lama beres.
Jalanan petang ini terlihat lebih lengang dari biasanya, membuat Liam dapat memacu mobilnya dalam kecepatan yang lebih tinggi.
Aku hanya bisa duduk di kursi penumpang belakang dengan perasaan harap-harap cemas, sambil terus berdoa semoga usahaku kali ini membuahkan hasil yang lebih baik.
"Jangan sembarangan menambah kecepatan secara brutal begitu di jalan raya," tegur Louis setelah kecepatan mobil Liam dirasa semakin tidak wajar.
Liam tersenyum masam. "aku hanya ingin adik kita segera bertemu dengan Paman."
Beberapa saat berselang hingga akhirnya mobil sedan biru muda milik Liam menepi di sebuah panti jompo dengan bangunan bergaya Art Deco Classic berwarna dominan putih.
Aku mengernyitkan dahi, bingung apa tujuan Liam membawa aku dan Louis kemari bukankah dia bilang akan membantuku bertemu dengan Tuan Maguiere?
"Kenapa kamu malah melamun, Ada? Ayo masuk sebelum jam kunjungan berakhir," suara berat Liam menyadarkan diri ini dari kebingungan.
Walau sedikit ragu, aku tak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Liam masuk menuju panti jompo itu pun dengan Louis yang juga memandangku bingung. Apa iya Tuan Maguiere ada di sini?
Sepanjang koridor di dalam panti jompo itu nampak beberapa lansia yang saling berinteraksi satu sama lain dengan begitu hangat.
Ada yang sedang bercanda, ada pula yang sedang memainkan beberapa permainan klasik seperti kartu domino.
"Apa Paman ada di kamarnya?" tanya Liam pada seorang perawat wanita yang baru keluar dari ruang administrasi.
Wanita setengah baya itu mengangguk.
"ya, Tuan Muda. beliau ada di kamarnya sepertinya sedang melukis sesuatu."
"Baiklah, terima kasih," pungkas Liam.
Dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya, Liam berjalan di depan kami lantas memasuki sebuah ruangan dengan daun pintu kayu yang lebih besar dari pada pintu lainnya. Dilihat dari sisi mana pun, ruangan itu memang nampak paling mencolok ketimbang ruangan lainnya yang ada di bangunan ini.
"Paman?" panggil Liam lembut setelah mendorong perlahan pintu besar di hadapannya.
"Liam? Apakah itu kau?"
Suara parau terdengar menjawab panggilan Liam, membuat aku dan Louis saling pandang.
"Cukup baik, penyakitku sedikit lebih tenang dari pada biasanya. Bagaimana denganmu?"
Pria tua itu berpaling, nampak kaget akan keberadaan aku dan Louis yang berdiri di belakang Liam.
"Siapa mereka?" mata kelabu Tuan Maguiere memicing, memandang curiga kepadaku dan Louis.
Liam tersenyum hangat. "ah, ini Adaline dan yang satu ini namanya Louis. Mereka adalah saudara angkatku sejak kami masih tinggal di panti asuhan dulu. aku agak menyesal baru memperkenalkan mereka pada Paman sekarang."
"Begitu? Sepertinya kalian punya maksud tertentu, bukan begitu, Nona?"
Aku tersentak kaget tatkala Tuan Maguiere langsung mengarahkan pandangan kedua mata sayunya itu kepadaku dengan perkataan demikian.
Liam dan Louis juga ikut memandangku, memberikan isyarat padaku untuk langsung membahas topik yang membawa kami kemari.
Aku menghela, merogoh saku mantelku lalu menyerahkan surat tagihan bengkel itu kepada Tuan Maguiere.
"Syukurlah kita bertemu di sini, Tuan. saya sudah cukup lelah mencari Anda beberapa waktu ini."
"Kenapa kau memberikanku surat tagihan yang sudah sangat lama ini? Lagi pula bengkel milikku itu sudah bangkrut," ucap Tuan Maguiere sambil menelisik surat tagihan bengkel dariku.
"Apa Anda merasakan sesuatu yang janggal pada kasus kecelakaan yang melibatkan pasangan suami istri Winters beberapa tahun yang lalu?" tanyaku, langsung menembak intinya.
Dahi berkerut milik Tuan Maguiere nampak semakin berkerut. "lalu apa korelasinya denganku?"
"Saya hanya ingin tahu untuk apa sebuah mobil sedan yang sama sekali tidak mengalami kerusakan dibawa ke sebuah bengkel mobil balap. Lagi pula Tuan Winters pemilik mobil itu tidak tahu kalau mobilnya dibawa ke bengkel Anda waktu itu," ungkapku sambil menunjuk keterangan di dalam surat tagihan itu.
Pria tua itu membetulkan letak kacamatanya.
"itu adalah kesalahan besar yang paling aku sesali seumur hidupku, Nona."
"Kalau begitu apakah Anda meringankan rasa penyesalan itu, Tuan? Apakah Anda tahu bahwa anak dari pasangan suami istri malang itu kini menjadi sebatang kara dan putus sekolah? Tuan, aku gagal mewujudkan impian kedua orang tuaku itu karena nyawa mereka direnggut secara tidak adil..." aku memandang Tuan Maguiere lekat-lekat dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Liam mengusap lembut punggungku, Louis tertunduk dalam. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku setelah panti asuhan tutup dan aku tak lagi memiliki tempat bernaung sebab tak ada orang tua asuh yang mau mengadopsi aku kala itu.
Tuan Maguiere memandangku dengan sorot penuh sesal. "tak ada kata yang bisa aku ucapkan padamu selain maaf, Nona Winters. sungguh aku tak menyangka kalau salah seorang mekanik yang bekerja padaku hari itu dengan sengaja malah nekat menuruti permintaan Pamanmu."
Alisku menukik. "apa maksud Anda?"
"Hari itu, ada seorang client yang datang bersama istrinya membawa mobil orang tuamu ke bengkelku. Dia bilang ingin mobil tersebut di servis tapi aku yang melihat langsung mobil itu tidak memiliki kendala atau pun kerusakan langsung menolaknya. Tapi aku sungguh tidak tahu kalau dia rela membayar mahal salah seorang mekanik untuk merusak mobil itu secara halus," jelas Tuan Maguiere dengan pandangan menerawang, terlihat seperti sedang mengenang.
"Sepasang suami istri?" aku bertanya memastikan, mengingat Tuan Maguiere sudah sangat tua dan bisa saja dia sudah pikun.
Tuan Maguiere mengangguk yakin, menatapku lurus. "pria itu berambut cokelat terang dengan mata biru sepertimu sedangkan istrinya berambut pirang dengan riasan yang sangat mencolok waktu itu. Aku tidak akan lupa pada dua sosok itu."
Pria berambut cokelat terang dengan mata biru? Wanita dengan rambut pirang dengan riasan mencolok?
Apa dugaanku dan yang dulu sering dikatakan Bibi Liana memang benar?