
"Apakah makanannya sesuai dengan selera Anda, yang mulia?" tanya Artina, kepala pelayan yang bertugas untuk melayani aku.
Saat ini sudah waktunya makan siang, mereka memasakkan makanan yang sama sekali belum pernah aku temui seumur hidupku membuat aku tak bisa mengendalikan ekspresi wajahku.
Aku mengangguk samar. "makanan-makanan ini nampak asing, tapi sepertinya lezat. bagaimana dengan yang mulia raja apa dia sudah makan?"
"Beliau sedang melakukan ekspedisi ke desa-desa bersama Tuan Elliott, yang mulia," jawan Artina dengan santun.
Aku tidak keluar dari ruangan kerjaku sebagai seorang ratu, tetapi para pelayan menyiapkan meja makan untukku dengan sangat lengkap dengan alasan aku tidak boleh terlalu lelah karena sedang hamil tua.
Seperti apa yang dikatakan oleh Zayn, aku ternyata mengerti dengan cepat soal pekerjaanku sebagai ratu. Pekerjaanku di dunia manusia pun juga terlaksana dengan baik berkat bantuan beberapa Elf yang dipilih langsung oleh Zayn.
Administrasi dan keuangan kerajaan Elf merupakan pekerjaan yang harus aku urus tangani setiap harinya dan beruntungnya aku memiliki para pelayan yang selalu siap sedia membantuku.
"Baiklah kalau begitu, mari kita makan bersama," ucapku, memandang para pelayan bergantian.
"Ya, yang mulia?"
"Aku bilang ayo makan bersama, jangan menolak dan duduklah," ulangku dengan tegas, membuat para pelayan lantas memilih untuk langsung duduk berjajar rapi di depan meja makan.
Aku mengambil peralatan makan yang sudah siap tersedia di hadapanku dan mulai makan dengan tenang. Seperti yang sudah aku duga, masakan para Elf memang tidak pernah gagal membuatku merasakan kenikmatan makan.
"Ekspedisi apa yang dilakukan oleh yang mulia bersama Paman Elliott di desa-desa itu?" tanyaku setelah menghabiskan makanan pembuka.
"Untuk mengamati secara langsung perkembangan ekonomi di desa-desa itu, yang mulia. Usai masa sulit, pihak kerajaan perlu meninjau secara langsung pergerakan ekonomi rakyat desa," papar Artina memberikan penjelasan.
"Dalam waktu kurang dari setahun ke depan, aku yakin kerajaan akan mengalami peningkatan ekonomi yang signifikan jika kita semua bekerja sama dengan baik," balasku sambil meraih sendok untuk memakan hidangan utama.
"Anda betul, yang mulia. Satu-satunya ratu yang paling kompeten dalam hal administrasi dan keuangan negara adalah Anda, yang mulia Ratu Adaline."
Aku tersenyum tipis. "aku bahkan tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, kau tidak perlu memujiku sehebat itu."
"Tapi Anda memang betul-betul hebat, yang mulia ratu. Sebelumnya tidak pernah ada seorang ratu yang melakukan pembukuan keuangan dengan sangat cepat dan akurat seperti yang mulia," imbuh Grace setelah mengambil beberapa teguk teh dari gelas porselen di tangannya.
"Bukan hal hebat bagi seorang manusia sepertiku karena aku selalu melakukan pembukuan keuangan seperti itu setiap hari," sahutku.
"Benarkah? Memangnya apa pekerjaan yang mulia ratu sebelumnya?" tanya Grace penasaran.
"Aku adalah seorang pengusaha. Apa kalian pernah dengar profesi yang seperti itu?"
Para wanita Elf itu menggeleng, dengan kompak menjawab kemudian.
"Belum pernah, yang mulia."
"Secara sederhana, kalian bisa menganggapnya mirip dengan pedagang. Hanya saja, pengusaha memiliki ruang lingkup kerja yang lebih luas lagi," aku menjelaskan dengan bahasa yang sekiranya dapat mereka mengerti.
Artina mengangguk paham. "ternyata peradaban manusia jauh lebih canggih dari pada kita, bukan begitu?"
Grace mengangguk setuju. "ya, mereka bahkan memiliki banyak profesi yang tidak ada di sini. wajar saja jika yang mulia ratu sempat merasa sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri."
"Pola pikir manusia dan Elf sangatlah berbeda, Nona-nona sekalian. Aku dan Zayn adalah pasangan manusia dan Elf maka kami tahu betul mengenai hal itu," ucapku sambil tersenyum tipis.
Pertanyaan dari Artina membuatku berpikir kritis sejenak namun belum menemukan jawaban atas kebimbangan aku dan Zayn itu.
Aku lagi-lagi tersenyum. "yang mulia raja sedang mempersiapkan prosesi persalinan paling nyaman untukku jadi kalian tidak perlu khawatir."
...****************...
"Zayn?" panggilku sesaat setelah Zayn melepas jubah kerajaan yang sudah seharian bertengger di bahu lebar miliknya.
"Ada apa?"
"Apa kau sudah punya solusi terbaik untuk prosesi persalinanku? Belakangan aku sudah semakin sering merasakan kontraksi palsu," ucapku sambil mengusap-usap lembut perutku.
"Lebih aman jika kau melahirkan di sini saja. Walau di sini tidak memiliki dokter, tapi kerajaan Elf mempunyai ratusan tabib hebat berpengalaman yang siap membantu persalinanmu," Zayn menyahut dengan serius.
"Apa kau yakin? Bagaimana jika aku kehabisan banyak darah nantinya?"
Zayn mengusap perutku. "tidak akan. anakku tidak akan mungkin membuat ibunya terluka lebih banyak lagi setelah melarikan dirinya dengan susah payah."
Aku mengernyitkan dahi. "kenapa kau begitu yakin bahwa persalinan ini akan sangat lancar seperti itu, Zayn?"
Zayn tersenyum dengan begitu lembut.
"Karena sejak kau masuk ke dunia Elf, kami selalu memberikan ramuan yang akan membuat persalinanmu lancar dan mencampurnya ke dalam makananmu jadi kau tak usah mencemaskan hal-hal yang tidak perlu."
"Apa kau sudah menempatkan tabib-tabib pilihan di dekat istana?"
Senyum Zayn masih belum memudar, lalu dia mengangguk. "tentu saja sudah. aku tahu kau akan melahirkan tak lama lagi jadi aku sudah mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuanmu sebagai kejutan. kau hanya perlu rajin berjalan kaki agar persalinan nanti berjalan dengan lebih mudah."
Meski Zayn sudah mempersiapkan semuanya secara matang namun entah mengapa perasaanku masih saja gelisah menjelang hari persalinan yang hanya tinggal menghitung hari.
Dalam waktu dekat, aku dan Zayn akan segera melihat anak yang selama ini kami nantikan semoga saja persalinanku nanti dapat berjalan lancar sesuai perkiraan Zayn tanpa kurang satu apa pun.
"Fokuslah terhadap persalinan sayang, pekerjaan menyangkut kerajaan biar aku dan para petinggi kerajaan lain yang urus karena menurut para tabib paling tidak kau akan melahirkan satu minggu lagi," imbau Zayn sambil memberikan kecupan hangat di atas perutku.
"Baiklah, Zayn. Aku akan melakukan segalanya yang terbaik untuk calon buah hati kita ini."
Zayn tersenyum, menyandarkan kepalaku pada bahunya. "menurutmu apakah jenis kelamin anak kita nanti?"
Aku menimbang sejenak, mengingat pergerakan sang jabang bayi yang sangat aktif aku berpikiran bahwa aku akan melahirkan seorang anak laki-laki.
"Menurutku aku akan melahirkan seorang anak laki-laki. Apa kau tahu? Anak ini aktif sekali menendang dan kerap kali membuatku cepat sekali merasa lapar," tuturku, mematik tawa Zayn.
"Kurasa juga begitu, karena sejak hamil kau jadi sangat suka makan hingga tanpa sadar berat badanmu mengalami cukup banyak peningkatan."
"Apa menurutmu sekarang aku jelek karena tubuhku mengembang seperti adonan roti?"
Zayn mencium puncak kepalaku. "baik dalam keadaan kurus atau gemuk, kau tetaplah ratu kerajaan ini dan ratu di hatiku, Adaline."