
"Semoga hari ini ada kasus yang menarik," aku bergumam sambil mengikuti langkah Zayn menuju aula utama istana.
Zayn menggandeng tanganku dengan lembut, melangkah sejajar denganku.
"Sepertinya akan ada kasus yang menarik hari ini jadi kau juga harus siap untuk berpikir keras," Zayn menyahut dengan nada jenaka.
Aku mencebik sebal. "kau selalu saja senang mengejekku, dasar suami menyebalkan."
Rumah tangga kami tetap saja tidak berubah sejak dulu, selalu saja penuh akan perdebatan tidak penting seperti ini.
Setelah berjalan beberapa saat, kami akhirnya tiba di aula utama tempat upacara penyampaian keluhan rakyat akan di gelar.
Sudah banyak rakyat yang mengantri untuk masuk ke aula utama, dijaga dengan ketat oleh para prajurit kerajaan yang telah siap siaga.
"Persilakan mereka masuk, aku dan ratu sudah siap untuk memulai upacara penyampaian keluhan rakyat hari ini," komando Zayn setelah kami berdua sudah duduk di atas singgasana.
Setelah mendengar perintah Zayn, para prajurit kerajaan lantas mengatur beberapa orang Elf untuk masuk ke dalam aula utama untuk menyampaikan keluhannya masing-masing.
"Salam yang mulia raja dan yang mulia ratu, nama saya Vitalia. Saya ingin mengeluhkan mengenai penipuan yang dilakukan oleh pedagang kentang terhadap saya," seorang Elf wanita yang sedang menggendong anaknya itu menunjukkan sekeranjang kentang yang baru ia beli.
"Kenapa kau merasa tertipu?" Zayn bertanya bingung sebab melihat tidak ada yang aneh dengan keranjang yang penuh dengan kentang itu.
"Bisakah Tuan memotongkan satu kentang ini?" sang wanita meminta kepada salah seorang prajurit.
Tanpa ragu, prajurit itu mengeluarkan belati dari saku baju armor yang ia kenakan lantas langsung memotong kentang yang diberikan oleh wanita itu.
"Yang mulia dapat melihat, bukan? Kentang-kentang ini terlihat sangat bagus dari luar tapi ternyata busuk di dalamnya," terang sang wanita santai namun tegas.
Zayn turun dari singgasananya, datang mendekat untuk melihat lebih jelas kentang yang telah terbelah menjadi dua bagian itu.
"Bagaimana menurutmu, ratu?" pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan oleh Zayn, membuatku menaikkan sebelah alis.
"Hm... Kurasa itu karena petaninya yang salah, namun baik penjual dan engkau sebagai pembeli seharusnya juga lebih teliti memeriksa barang yang dibeli agar tidak merugi," ucapku mengemukakan pendapat.
"Lantas, bagaimana dengan kerugian saya dan pedagang kentang itu, yang mulia ratu?" wanita itu pantang menyerah.
Aku turun dari singgasana dengan Atreus yang sedang mengantuk dalam gendonganku.
"datangkan saja seluruh petani kentang di kerajaan ini maka itu akan sepenuhnya menjadi urusanku. baik engkau mau pun petani, kalian sama-sama merupakan rakyat dari kerajaan ini.
sebagai ganti untuk memberi makan anakmu, ini aku berikan sepuluh keping emas. apa kau puas dengan solusi dariku?"
Wanita itu tersenyum lega. "terima kasih atas kemurahan hati Anda, yang mulia ratu. saya merasa sangat puas dengan solusi yang Anda berikan ini. kalau begitu sekarang saya bisa pulang dan membelikan makanan yang bergizi untuk anakku."
Wanita itu lantas pamit undur diri setelah urusannya dirasa beres, menyatakan bahwa keluhannya sudah teratasi dengan sangat baik.
"Kau melakukannya dengan sangat baik. Lalu apa yang akan kau lakukan kepada para petani kentang itu?" Zayn berujar sambil naik kembali ke singgasana, menunggu rakyat berikutnya datang menyampaikan keluhannya.
"Berikan saja mereka bibit unggul agar mereka tidak lagi memiliki alasan untuk menipu pedagang dan rakyat kecil seperti wanita tadi," balasku santai dengan pandangan lurus ke depan.
Meski pun aku bukanlah ratu yang lahir dari negeri ini, kemajuan negeri ini juga merupakan tanggung jawabku yang harus aku tunaikan dengan sebaik mungkin demi kebahagiaan bersama.
Walau tak mudah, aku yakin Tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik bagiku dan Zayn untuk membawa kerajaan Elf ini kembali jaya seperti sedia kala.
...****************...
Langit yang telah berubah menjadi kelam tak menyurutkan semangatku untuk tetap mencatat hal-hal penting yang baru saja aku pelajari dari kerajaan. Bermodalkan pulpen, aku menulis dengan runtut semua hal penting yang terjadi hari ini.
Meski sekarang sudah malam, pengawalan di kerajaan tetap saja ketat bahkan semakin diperketat oleh Zayn. Saat ini aku sedang berada di perpustakaan namun tetap ada empat orang pengawal yang berjaga di depan pintu perpustakaan.
"Sayang?"
"Ada apa, Zayn? Kenapa kau belum tidur?"
"Apa kau belum mengantuk? Sejak tadi kau terus mencatat seperti itu," tanya Zayn khawatir dengan setelan piyama berbahan satin berwarna keemasan melekat pada tubuhnya.
"Aku sudah menyelesaikannya, Zayn. kau tidak usah khawatir, aku juga perlu istirahat untuk menjaga kesehatan," balasku sambil menutup buku catatan pribadi milikku.
Ada banyak hal yang aku tulis di buku itu, mulai dari urusan kerajaan sampai catatan harian pribadi semuanya aku muat di dalam buku besar itu untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti aku melupakan hal-hal penting mengingat banyak sekali hal yang harus aku urus.
Admistrasi dan keuangan negara hanyalah tugas utama, sementara tugas sampingan lainnya tak kalah banyak dan memusingkan beruntung aku memiliki dayang yang selalu bisa mengingatkan pekerjaanku dengan tepat waktu. Selain pandai dan teliti, semua dayangku memiliki keahlian bela diri yang sangat mumpuni.
Zayn memandangku sebal, karena aku selalu nampak jauh lebih sibuk ketimbang dirinya yang merupakan seorang raja.
"Kalau begitu cepatlah. Atreus sudah tertidur dari tadi jadi kau juga harus tidur," ajak Zayn seraya menarik lembut pergelangan tanganku, menuntunku masuk ke dalam kamar.
"Wah, wah, lihatlah pasangan raja dan ratu kita yang sangat harmonis ini," goda Paman Elliott yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Hei, bagaimana kami bisa memimpin rakyat kalau rumah tangga kami sendiri tidak akur?" balas Zayn ketus dengan air muka masam.
"Bagus, bagus! Kalian berdua memang wajah kerajaan ini maka akan sangat tidak baik jika rumah tangga Anda berdua tidak harmonis," Paman Elliott tersenyum hangat, selayaknya seorang Ayah yang tengah memberikan nasihat untuk anaknya sendiri.
"Aku harap negeri ini selalu sejahtera dan aman sentosa dalam masa kekuasaanku sebagai rajanya."
"Iya, yang mulia raja. Tetapi saya harapkan juga satu hal lain."
"Hal lain apa, Paman?" aku bertanya dengan lugu.
"Tentunya seorang putri yang harus menjadi bunga untuk kerajaan kita yang tercinta ini," balas Paman Elliott santai seolah tidak mengatakan hal yang penting.
Aku dan Zayn lantas beradu pandang, memikirkan apa yang dikatakan oleh Paman Elliott.
"Zayn, apa aku boleh menjadikan Paman Elliott sebagai target panahan?"
"Silakan, istriku. Entah bagaimana bisa aku malah memilih laki-laki kurang ajar sebagai penasihat kerajaan."
"A-ampuni saya... Yang mulia raja, yang mulia ratu..."