Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 43 : Hari Kelahiran Sang Pewaris Tahta



Seperti pagi hari biasanya, aku dan Zayn sedang menikmati sarapan kami di dalam kamar sambil berbincang ringan selayaknya sebuah pasangan suami istri pada umumnya.


Baru saja aku selesai menghabiskan sarapan sehat milikku, aku merasa ada air yang mengalir deras dari daerah kewanitaan milikku.


"Zayn?" panggilku mencoba membuat Zayn mengalihkan perhatiannya kepadaku.


Zayn menoleh dengan cepat, kontan saja kedua bola matanya melotot setelah menyadari apa yang membuatku memanggil namanya seperti itu.


"Cepat panggil para tabib sekarang juga! Ratu akan segera melahirkan!" perintah Zayn panik kepada para pelayan sesaat setelah melihat air ketuban merembes dari kedua kakiku.


Aku juga sama paniknya, namun tetap berusaha untuk bersikap tenang. Dibantu oleh Zayn, aku berpindah ke atas ranjang untuk berbaring karena aku akan melahirkan hari ini juga.


Tergopoh-gopoh, para pelayan datang dengan membawa beberapa orang tabib wanita yang sudah membawa berbagai macam obat-obatan herbal untukku.


Para tabib wanita itu lantas duduk berjajar di sisi kiri tubuhku, memberikan aba-aba kepadaku untuk mulai mengejan.


"Yang mulia raja, yang mulia ratu, kepala bayinya sudah nampak. Ayo, yang mulia ratu anda harus mendorongnya dengan sedikit lebih keras lagi," ucap salah seorang tabib wanita yang berada di bawah kakiku, melihat pergerakan anakku yang akan segera lahir.


Mendengar ucapan sang tabib, aku menarik napasku dalam-dalam untuk mengerahkan semua tenaga yang aku punya agar anakku bisa lahir secepatnya. Zayn memegang erat tanganku, ia nampak terus berdoa agar persalinan ini berjalan dengan lancar tanpa kekurangan satu apa pun.


Semua orang yang ada di ruangan itu nampak tegang, membuat aku semakin ingin segera melahirkan anak ini dengan selamat.


Dalam tarikan napasku yang ketiga, aku mendorong sekuat tenaga hingga akhirnya telingaku dapat mendengar suara tangisan bayi yang amat nyaring.


Cepat-cepat para tabib wanita membersihkan bayi itu dari darah, lalu beberapa tabib lain juga buru-buru memberikan aku obat herbal untuk meminimalisir rasa nyeri serta menghentikan pendarahan.


Kini perasaanku menjadi sangat lega setelah dapat melahirkan anakku dengan mudah dan selamat tidak seperti yang aku takutkan. Meski pahit, namun obat herbal pemberian dari para tabib rasanya sangat manjur, dalam hitungan menit rasa nyeri yang menderaku berangsur pulih.


"Selamat kepada Anda berdua, yang mulia raja dan yang mulai ratu, anak Anda sekalian berjenis kelamin laki-laki dia sangat sehat dan tampan," ucap ketua tabib wanita dengan seulas senyum bahagia.


Wanita paruh baya itu lalu memberikan anak tampan itu kepadaku, menaruhnya di atas dadaku untuk langsung belajar menyusu.


Kulit anak itu putih seperti kapas, rambutnya berwarna berwarna cokelat kemerahan yang sangat menawan. Hidungnya mancung nan mungil, lengkap dengan bibir berwarna merah selayaknya sekuntum mawar merah.


Aku tersenyum bahagia dapat melihat anakku yang akhirnya lahir ke dunia dengan rupa yang sangat tampan ini. Zayn pun tak berhenti tersenyum, begitu senang melihat anaknya yang akhirnya lahir dengan selamat tanpa kekurangan.


"Anna?"


"Saya, yang mulia?"


"Segera umumkan kepada semua orang kerajaan untuk menggelar pesta atas lahirnya anakku satu pekan dari hari ini," titah Zayn.


"Baiklah, yang mulia. Saya akan langsung memberitahukan permintaan Anda kepada Tuan Penasihat, permisi," balas sang pelayan seraya menundukkan kepalanya santun.


Buru-buru Anna beringsut pergi keluar kamar, menuju kediaman Paman Elliott untuk menyampaikan berita sekaligus perintah.


"Anak kita sangat tampan, apa kau sudah memikirkan sebuah nama untuknya?" tanyaku antusias kepada Zayn.


Mendapatkan pertanyaan yang menarik, aku lantas tersenyum. "bagaimana kalau kita memanggilnya Atreus? aku rasa nama itu sangat cocok untuk anak kita."


"Itu benar-benar sangat cocok, Atreus Adelard sang putra mahkota kerajaan Elf telah lahir. Kita harus meningkatkan keamanan di sekitar istana untuk menjaga keselamatannya dan kita semua."


"Baik, yang mulia!"


...****************...


Tiga hari setelah persalinan, banyak sekali keluarga kerajaan dan rakyat kerajaan serta perwakilan dari kerajaan-kerajaan terdekat bertandang ke istana untuk memberikan hadiah kepada putra mahkota yang lagi-lagi sungguh diluar dugaanku yang terlahir dari rahimku.


Banyak sekali hadiah yang datang, mulai dari mainan, pakaian, bahkan pernak-pernik yang indah membuatku semakin bahagia.


"Terima kasih atas hadiahnya, Lord Voldemort," ucap Zayn kepada salah seorang bangsawan dari kerajaan Elf yang memberikan satu peti pernak-pernik yang terbuat dari perak.


"Hadiah ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kerja keras yang mulia raja dan ratu demi negeri ini," balas Lord Voldemort santun dengan seulas senyum.


Aula istana yang menjadi tempat pertemuan ini sangat ramai, semua orang nampak antusias menyambut kelahiran putra mahkota kerajaan yang terlahir dari seorang ibu manusia.


Tidak seperti bayi baru lahir kebanyakan, Atreus nampak sangat tenang meski tengah berada di tengah keramaian. Anak itu sesekali membuka matanya saat ada orang yang datang menyapa, seolah menghargai orang-orang yang datang menyapanya.


"Putra mahkota kerajaan ini sangat tampan, ini pasti berkat dari ketampanan dan kecantikan yang mulia raja dan ratu," puji Lord Voldemort.


Aku mengangguk santun. "terima kasih, Lord Voldemort."


Setelah Lord Voldemort pamit undur diri, aku memperhatikan keramaian yang tersaji di dalam aula dengan seulas senyum.


Aku bahagia atas kelahiran anakku dan semua lapisan masyarakat yang menyambut dengan penuh suka cita kelahiran putraku.


Sepertinya Tuhan benar-benar melipat gandakan kebahagiaan yang dulu menghilang dariku, menggantinya dengan sangat baik seperti ini.


Tanpa sadar, air mata haru menggenang di kedua pelupuk mataku merasa begitu bahagia atas semua yang kini sudah kumiliki.


"Kenapa kau menangis, istriku? Apa ada sesuatu yang membuatmu sedih?" tanya Zayn khawatir setelah menyadari air mataku yang mulai turun satu persatu.


"Aku tidak sedang bersedih, Zayn, sungguh. Aku berterima kasih kepadamu atas semua kebahagiaan yang kini ada di hadapanku. Terima kasih atas anak yang luar biasa tampan ini serta rakyat baik hati yang sangat mencintaiku," jelasku seraya mengusap air mata dengan punggung tangan.


Zayn tersenyum, seulas senyuman lembut yang begitu indah terpatri di wajahnya.


"Kau pantas mendapatkan semua ini, sayang. Bukankah aku sudah bilang bahwa kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku?"


Tuhan, terima kasih telah memberikan aku kebahagiaan yang hebat ini. Suami yang tampan dan cakap dalam bertindak, seorang putra mungil yang amat tampan serta menggemaskan dilengkapi juga dengan para rakyat Elf yang sangat mencintai kami.


Meski kadang aku merasa sangat merindukan dunia manusia tempatku lahir dan tumbuh besar, namun cinta yang luar biasa dari para Elf membuatku betah berlama-lama hidup sebagai ratu mereka di negeri yang sangat indah ini.