Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 51 : Liburan Hari Pertama



"Yang mulia raja dan yang mulia ratu, kereta kudanya sudah siap," tutur Paman Elliott seraya memberi hormat setelah masuk ke dalam kamar kami.


Pagi ini, aku bersama Zayn serta Atreus akan pergi berlibur ke luar wilayah kerajaan.


Sampai sekarang bahkan Zayn masih menutup mulutnya rapat-rapat enggan memberi tahu aku kemana kami akan pergi hari ini.


Menggunakan kereta kuda, Zayn dan aku ditemani oleh seorang sais dan seorang pengawal kerajaan untuk menempuh perjalanan menuju tempat kami berlibur kali ini.


Zayn melihat ke arah Paman Elliott, mengangguk kemudian. "baiklah. terima kasih, Paman."


Musim semi di kerajaan ini sangat menyenangkan dengan udaranya yang tetap segar namun penuh dengan aroma bunga yang semerbak terasa jauh lebih baik jika dibandingkan dengan musim semi di tempat asalku.


Ngomong-ngomong soal Kopenhagen, aku jadi merindukan kota tepian sungai itu setelah sekian lama menetap di dunia Elf sebagian seorang ratu.


"Kau sudah memakaikan Atreus baju yang nyaman untuk bepergian?" tanya Zayn sepeninggalnya Paman Elliott kembali ke ruang kerjanya.


"Sudah. Dia nampak sangat senang saat aku bilang kita akan pergi berlibur hari ini," jawabku seraya memasangkan kaus kaki untuk Atreus.


Zayn tersenyum manis, melepaskan jubah kerajaan yang melekat pada tubuhnya membiarkan pakaian tradisional berbahan satin itu nampak.


Pakaian berwarna hitam entah bagaimana bisa selalu berhasil membuat Zayn nampak berkali lipat lebih tampan.


"Anak itu akan segera besar tak lama lagi," Zayn berujar enteng, masih dengan senyuman menghiasi wajah rupawan miliknya.


"Aku jadi penasaran nanti watak Atreus akan mirip aku atau kau," imbuhku sambil melepaskan jubah ratu, menggantinya dengan luaran biasa berwarna senada dengan baju Zayn.


Untuk menjaga keselamatan semua pihak, Zayn memang memintaku melepaskan semua atribut kerajaan selama bepergian sama seperti yang ia lakukan. Selama berada di luar kawasan kerajaan, kami hanya akan memakai pakaian sederhana yang jauh dari ciri-ciri orang dari kerajaan.


Peraturan itu juga berlaku untuk sais dan pengawal kerajaan yang bertugas menemani perjalanan kami kali ini. Meski kondisi kerajaan kini dalam keadaan stabil, Zayn bilang kami harus selalu berhati-hati kapan pun dan dimana pun.


Setelah merasa semua persiapan telah rampung, Zayn mengajakku untuk langsung berangkat.


Para dayang dan kasim dengan sigap membantu aku dan Zayn membawa barang-barang yang diperlukan, mengangkatnya masuk ke dalam kereta kuda.


Seorang sais dan pengawal sudah siap, keduanya duduk di depan kereta kuda dengan pakaian sederhana sesuai perintah Zayn.


"Salam, yang mulia raja dan yang mulia ratu," sapa keduanya berbarengan.


"Kalian sudah memberikan kudanya cukup makan dan minum?" Zayn bertanya seraya mengusap kepala kedua kuda hitam yang sudah diikatkan dengan kereta kuda yang akan kami tumpangi.


"Sudah yang mulia. kami baru saja memasangkan keretanya," jawab sang sais santun.


"Bagus. Mari berangkat kalau begitu," Zayn menyahut lantas menyusul aku naik ke atas kereta kuda.


Sama dengan penampilan kami yang hari ini ala kadarnya, kereta kuda yang kami tumpangi juga sangat sederhana seperti kereta kuda yang biasa digunakan oleh pedagang.


Suara sepatu kuda terdengar nyaring, sementara Atreus yang duduk di atas pangkuanku nampak sangat senang melihat ke luar jendela kereta kuda yang menampilkan pemandangan asri di sepanjang jalan.


Berbeda dengan kereta kuda kerajaan yang cenderung berukuran kecil, kereta kuda kali ini lebih luas cukup untuk menampung enam orang sekaligus di dalam bangku penumpangnya.


Sesekali Atreus nampak tertawa, bahagia melihat warga yang berpapasan dengan kereta kuda kami menyapa dengan ramah.


"Haha iya, dia juga membalas sapaan para rakyat dengan senyuman ramah sepertinya dia akan menjadi pangeran yang merakyat," Zayn menyahut dengan bangga.


Aku juga berpikir demikian. Atreus sudah menunjukkan bakatnya dalam hal bergaul dengan banyak orang sejak dini, ia bahkan selalu tersenyum ramah kepada para pelayan di istana atau pun kepada para prajurit kerajaan yang berpapasan dengannya.


Aku mengangguk. "aku juga akan mendidiknya demikian, agar ia nanti dapat menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya."


Dua jam berselang, kereta kuda tiba-tiba melambat perlahan hingga akhirnya berhenti.


Aku memandang Zayn bingung, sementara pria itu hanya tersenyum penuh arti seolah mengisyaratkan padaku untuk segera turun dari kereta kuda.


"Kita sudah sampai? Kenapa rasanya dekat sekali?" tanyaku lugu, sementara Zayn lantas menggendong Atreus.


"Turunlah agar kau bisa tahu kita ada di mana sekarang," jawab Zayn setelah ia membuka pintu kereta kuda.


Pria itu turun lebih dulu, mengikuti sais dan pengawal yang sudah berjalan bersama kedua kuda dalam radius beberapa meter di depannya.


"Kenapa kita masuk ke hutan, Zayn?"


"Ikut saja, tidak usah banyak proses."


Aku memilih untuk tak banyak protes, mengikuti Zayn berjalan masuk lebih jauh ke dalam hutan.


Pandanganku lurus ke depan, mengikuti langkah para pria itu.


"Bagaimana, apa kau suka pemandangan di sini, sayang?" Zayn bertanya dengan lembut, sementara aku masih tak percaya akan apa yang ada di hadapanku kini.


Bagaimana aku bisa percaya? di hadapanku kini sudah terbentang pemandangan danau indah yang begitu menyejukkan mata.


Air danau itu berwarna biru, sangat bening hingga aku dapat melihat dengan jelas ikan-ikan yang berenang dengan bebas di dasar danau.


Pohon-pohon kelapa nampak berjajar rapi di sekeliling danau, menambah keindahan danau ini.


Bagaikan di pantai, aku kaget melihat pasir yang ada di sepanjang danau ini berwarna putih yang begitu bersih tanpa ada setitik pun sampah.


"Danau ini sebenarnya milik keluarga kerajaan, aku baru sempat mengajak kau kemari karena padatnya agenda kerajaan semenjak kita berdua naik tahta," terang Zayn sambil mendudukkan diri di atas pasir putih.


Sais dan pengawal menggiring kuda untuk minum di tepian danau, sementara aku sibuk menikmati keindahan surgawi yang baru pertama kali ini aku saksikan. Maklum, seumur hidup aku belum pernah melihat danau seindah ini.


"Danau ini sangat indah, Zayn. Apa boleh kita bermalam di sini?" tanyaku ragu-ragu sebab aku ingin sekali menikmati makan malam berupa ikan bakar dimasak dengan bumbu seadanya di tepi danau ini.


Zayn tergelak. "kau pasti ingin melihat aku menombak ikan seperti saat kita masih tinggal di hutan, bukan?"


Aku mengangguk penuh semangat. "ya! aku juga sangat ingin makan ikan bakar buatanmu seperti yang dulu sering kita lakukan."


"Tentu saja dengan senang hati aku akan melakukannya, sayang. Aku memang sudah merencanakan semua ini untuk membuat kau senang. Jadi tunggulah di sini, aku akan langsung menombak ikan," Zayn berucap dengan penuh semangat membuat senyumku merekah dengan lebarnya.