Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 6 : Lara sang Beauty



Lembayung senja yang telah hadir menghiasi sang maha luas cakrawala membuat langit bertukar warna menjadi jingga keemasan.


Aku mengalihkan pandanganku kepada Zayn yang sejak tadi berjalan sejajar denganku --kami sedang dalam perjalanan pulang setelah berburu ayam dan burung untuk dimakan besok.


Lelaki itu terlihat berkali lipat lebih tampan dengan sorot sinar mentari berwarna jingga keemasan yang menimpa kulit wajahnya yang halus.


Aku tidak tahu bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk seindah Zayn yang kerap kali membuat dadaku berdebar tak karuan tersebut, ah, sudahlah itu tidak penting.


"Hey, hati-hati!"


Tiba-tiba Zayn berteriak lalu menarik tanganku untuk bersembunyi di balik punggung lebar miliknya tanpa permisi. Oh sial! ternyata aku nyaris saja menginjak seekor ular king cobra yang tengah melintas. Lihat? Zayn benar-benar berhasil membuat fokusku hilang entah kemana.


"Apa sih yang sedang kau pikirkan? bagaimana kalau ular itu terinjak olehmu? satu gigitannya saja bisa membuat nyawamu melayang tahu!" omel Zayn setelah ular king cobra tadi berlalu.


Aku menghela pendek. "maafkan aku."


Zayn mengambil kembali keranjang rotan persegi yang terkapar di tanah berisi hewan hasil buruan kami tadi lantas memandangku galak. "kalau dia sampai menggigitmu siapa yang susah? tentu saja aku!"


"Kenapa kau jadi marah-marah? lagi pula aku tidak jadi menginjak ular itu," ucapku, bingung dengan sikapnya yang kadang sangat cerewet seperti ibu-ibu dan kadang pula berubah sedingin es krim di dalam freezer.


Zayn mendecak. "entahlah, kau sangat menyebalkan Adaline."


Aku mengangkat kedua bahuku acuh. "kau juga sangat menyebalkan, Zayn. jangan lupakan itu."


Zayn yang sudah mengambil beberapa langkah di depanku lantas berhenti berjalan, melirikku sinis.


"hari sudah mau malam, cepat jalan atau kau akan diterkam oleh singa."


Ya, kurasa Zayn lebih menyeramkan dari pada singa yang sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi aku tak punya pilihan lain selain tetap melanjutkan perjalanan pulang dengan pria menyebalkan itu.


"Aku akan pulang ke goa malam ini. Oli dan kawanan pasti sudah merindukan aku," cicitku sambil menyamakan langkah dengan Zayn.


Zayn berdeham. "ya sudah aku akan mengantarmu sampai ke goa."


Dilihat dari samping, wajah Zayn bagaikan barisan bukit kokoh yang dipahat dengan sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah maha karya fantastis.


Rahangnya yang tegas membingkai wajah rupawan miliknya dengan begitu sempurna membuatku selalu gagal mengembalikan fokus.


"Apa kau pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, Zayn?" tanyaku tanpa sadar sambil mengalihkan pandangan kepada langit yang sudah mulai menggelap perlahan.


Setelah beberapa detik aku sadar bahwa pertanyaan yang aku ajukan kepada Zayn sangatlah aneh, aku menepuk-nepuk bibirku sambil bergumam, "bodoh! bodoh!"


Tangan kokoh Zayn menggamit tanganku membuat aku dapat merasakan denyut nadinya yang perlahan namun membuat jantungku semakin berdetak tidak karuan, tangan Zayn terasa sangat hangat dengan jemari yang panjang namun begitu nyaman untuk digenggam.


Kami lantas menyebrangi sungai kecil dengan tangan Zayn yang masih setia menggenggam erat tanganku, ia tetap tak bersuara hingga kami berhasil tiba di seberang sungai.


Zayn melepaskan genggaman tangannya setelah kami menjejaki tanah kembali. "belum, tapi kurasa aku akan segera merasakannya."


Ditengah rasa bingung yang melanda diriku karena rentetan kalimatnya yang begitu ambigu, Zayn malah kembali melanjutkan langkahnya ke depan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong.


"Kau mau dimakan singa atau harimau? cepat pilih atau kematian konyol akan menjemputmu segera!"


"Tunggu aku, Zayn! kau ini menyebalkan sekali dasar titisan singa!"


"Apa kau bilang?!"


...****************...


Aku memandang figura kayu kecil dalam genggaman tanganku, berusaha menahan isak tangis yang keluar dari bibirku agar tidak menggangu kawananku yang sedang terlelap tidur.


Figura kecil yang begitu berarti, berisi fotoku bersama Mama dan Papa yang menjadi salah satu kado natal dari mereka saat aku masih kecil dulu.


Rasa rindu berkecamuk dalam benakku, membuatku tak kuasa menahan tangis terkenang masa kecilku yang indah dengan kehadiran Mama serta Papa sebagai keluarga utuh penuh cinta.


Sejujurnya aku ingin kembali ke rumahku tetapi berhadapan dengan Paman dan Bibi tentu saja bukan hal mudah yang dapat aku lakukan seorang diri. Mereka tentu saja tidak akan tinggal diam jika aku berani kembali ke rumahku.


Terlepas dari harta sesungguhnya aku hanya rindu menghabiskan makan malamku di atas meja makan dengan diiringi tawa ceria dari Mama dan Papa yang terus saja bercanda seraya memamerkan kemesraan mereka di depanku dan Bibi Liana.


Aku rindu omelan Mama saat aku tidak menghabiskan masakannya, aku rindu candaan Papa yang tak jarang malah menjadi sangat garing. Ya, sepasang suami istri manis yang sayangnya harus pergi begitu cepat tanpa sempat melihatku, anak semata wayang mereka tumbuh dewasa.


Aku menegakkan punggung, bersandar pada dinding goa sebab napasku sudah mulai terasa sesak karena tangisku yang tak kunjung reda.


Dalam-dalam aku menarik napas berusaha mengembalikan sistem pernapasanku menjadi normal seperti semula.


Kenangan-kenangan indah nan manis saat aku masih tinggal di Kopenhagen berputar secara otomatis di otakku bagaikan film dokumenter berhasil membuat dadaku semakin terasa sesak dan penuh.


Aku meraih mantelku yang warnanya sudah agak kusam lantas mengenakannya berharap rasa dingin yang menjalari tubuhku akan sedikit berkurang.


Salju tidak turun lagi seperti beberapa hari yang lalu namun ini masih musim dingin, beberapa sisi tanah bahkan masih tertutup salju begitu pula dengan sumber air yang juga masih sedikit membeku karena dinginnya udara.


Kedua tungkai kakiku melangkah, beranjak dari tempat tidur sederhana berupa anyaman tikar dari daun yang aku buat sendiri saat baru tinggal di dalam goa ini. Bukanlah tempat tidur yang nyaman memang namun aku bersyukur bisa tidur dengan aman selama berbulan-bulan hidup di hutan seperti ini bersama kawanan kera.


Tiba di mulut goa, kulihat api unggun yang tadi aku buat untuk memasak makan malam bersama Zayn sudah berubah menjadi bara api kecil.


Aku menghela panjang, mengambil posisi duduk di depan bara api dengan tangan terulur ke depan berharap bara api kecil itu masih mampu menghangatkan kulit telapak tanganku walau sedikit.


Langit malam ini terlihat begitu cantik dengan jutaan bintang yang bertaburan, sekilas membuatku teringat pada kembang api yang selalu aku nyalakan bersama Papa saat malam pergantian tahun. Aku tersenyum tipis mengenang kembali senyuman serta tawa Papa kala itu membuat tubuhku seolah lupa kalau tengah malam di musim dingin kali ini dinginnya bahkan sanggup membekukan sebuah apel dengan mudahnya.


"Tuhan, kumohon buatlah aku lupa pada semua kesedihan ini."