Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 39 : Pengharapan Besar Para Elf



Zayn dan Paman Elliott kembali ke rumah setelah hari menjelang malam saat hujan mulai turun dengan derasnya.


Entah mengapa malam ini aku merasa resah setelah beradu pandang dengan Zayn, seperti akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat meski aku tak bisa menerka apa yang akan terjadi.


Perasaanku terasa kurang nyaman meski Zayn yang biasanya berekspresi dingin kini nampak tersenyum begitu hangat, semakin menambah kecurigaan serta perasaan tak nyaman dalam benakku.


Aku, Zayn, Paman Elliott serta Felix kini sedang makan malam di ruang makan. Suasananya seperti makan malam keluarga pada umumnya, penuh dengan perbincangan ringan dan canda.


"Kenapa kau diam saja, sayang? Apa kau sakit?" tanya Zayn setelah menyadari sikapku yang sejak tadi enggan membaur dengan pembicaraan mereka.


Aku menggeleng pelan. "tidak. hanya saja aku merasa sedikit mual. silakan lanjutkan makan kalian, terima kasih atas hidangannya yang nikmat ini aku akan istirahat dulu."


Aku bangkit dari kursi, membawa piring kotor milikku tak lupa mencucinya lalu mengembalikannya ke dalam kabinet piring.


Dengan langkah lunglai, aku melangkah masuk ke kamar yang aku tempati dengan Zayn.


Pikiranku berkecamuk, rasanya otak ini penuh sekali membuatku merasa pening.


Tiba di kamar aku langsung duduk lesehan di atas karpet, memandang ke luar jendela mengamati pohon-pohon besar yang sedang dihinggapi oleh kunang-kunang yang bersinar begitu cantik.


Kunang-kunang sudah cukup langka di dunia manusia, aku sudah sangat jarang melihatnya di tempat tinggalku terlebih lagi di kota.


"Apa masakan Felix tidak enak?" tanya Zayn sekonyong-konyong masuk ke dalam kamar, sukses membuatku tersentak kecil.


Aku tersenyum tipis, menggeleng.


"bukan begitu. Aku 'kan sudah bilang perutku sedang mual jadi nafsu makanku menghilang."


Zayn duduk di sisi kanan tubuhku, menarik lembut kepalaku untuk bersandar pada bahu lebarnya.


Aku menghela, menerima perlakuannya.


Kurasa Zayn sedang berniat mengatakan sesuatu.


"Kau sedang mual atau sedang memikirkan sesuatu? Jangan lupa kalau kau tidak mungkin bisa berbohong padaku," ucap Zayn sambil memandangku lurus.


Aku tersenyum samar. "kurasa kau tahu apa yang sedang aku khawatirkan."


"Aku memang berniat menyelamatkan bangsaku namun para rakyat yang sudah mengetahui kepulanganku meminta aku untuk kembali ke kerajaan dan menjadi raja yang baru," jelas Zayn berusaha memberikan pengertian.


"Aku sudah menduga hal itu, Zayn. kau bebas menentukan akan tetap tinggal di sini atau pulang ke dunia manusia bersamaku," balasku.


Zayn membelai lembut puncak kepalaku.


"mana mungkin aku akan meninggalkan istriku sendirian? kemana pun kau pergi maka aku juga akan selalu ada di sampingmu."


"Aku juga berharap kau selalu ada di sisiku sebagai suami serta ayah dari anak yang sedang aku kandung ini, Zayn."


"Tentu saja, sayang. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak dan istirahatlah. Aku akan menyanyikan lagu pengantar tidur khas bangsa Elf, kau pasti akan menyukainya."


Perasaanku tak juga membaik. Ya, begitulah wanita hamil yang perasaannya sangat sensitif dan tidak stabil.


...****************...


Setelah beberapa kali bertemu, ternyata Viona adalah gadis yang sangat baik. Sama seperti Elf lainnya dia juga sangat pandai memasak, apa lagi kue kering karena semua kue kering yang ia buat rasanya sangat nikmat.


"Oh, pie susu? Aku baru tahu kalau di sini juga ada pie susu," ucapku takjub setelah melihat pie susu buatan Viona yang sangat menggoda di dalam keranjang kayu yang ia bawa.


"Ya, begitulah. Pie susu ini adalah kreasi salah seorang Elf yang pernah pergi ke dunia manusia selain yang mulia Pangeran Zayn," terang Viona sembari duduk di sebelahku.


Para Elf yang lain sedang bekerja di ladang, sementara aku menikmati panorama indah yang tersaji di sekitar ladang.


Sungai kecil yang mengalir tenang, pepohonan rimbun membuat sejuk, serta bunga-bunga penuh warna yang tumbuh liar di berbagai sisi tak jauh dari ladang gandum. Angin juga bertiup dengan lembut, terasa menyejukkan.


"Aku baru tahu kalau resep ini juga dari dunia manusia. Ngomong-ngomong benar nih aku boleh mencicipi pie susu buatanmu, Viona?"


Viona tersenyum simpul. "tentu saja, Nona. Sebuah kehormatan bagi saya jika Anda kembali berkenan mencicipi kue buatan saya."


Aku balas tersenyum, mengambil sepotong pie susu dari keranjang yang di bawa oleh Viona lantas memakannya dengan nikmat.


Rasanya memang nikmat, tapi terasa cukup berbeda dengan pie susu yang biasa aku makan di dunia manusia.


"Ini sangat enak, Viona," kataku dengan seulas senyum senang.


"Nona, saya sungguh berharap yang mulia Pangeran Zayn bisa kembali menetap di sini dan menjadi raja seperti yang seharusnya," ungkap Viona, seperti yang sudah aku duga sebelumnya.


Aku pandangi gadis Elf yang elok itu.


"aku juga selalu memikirkan itu belakangan ini, Viona. Tetapi aku dan Zayn juga memiliki kehidupan di dunia manusia terlebih aku juga akan segera melahirkan anak kami."


"Maaf sudah mengatakan hal yang membuat Anda merasa sulit, Nona. Tetapi itu adalah hal yang diinginkan oleh para Elf yang ada di negeri ini karena kami sudah sangat menderita selama bertahun-tahun, Nona."


"Sebagai istri, aku hanya bisa memberikan dukungan yang terbaik untuk Zayn. Aku tidak akan memaksanya untuk melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan, Viona," balasku sambil memandang ke atas, menikmati keindahan langit biru yang maha luas tak bertepi.


Viona mengangguk paham, seulas senyum terpatri di wajah cantiknya. "Anda benar-benar istri yang baik, Nona."


"Terima kasih. Ah, bukankah kalian bangsa Elf terkenal dengan keahlian memanah yang luar biasa?"


Kedua bahu Viona langsung berdiri tegap mendengar pertanyaanku, nampak begitu antusias saat aku menyinggung soal panah.


"Tentu saja! Bangsa Elf adalah pemanah terbaik dari segala penjuru dunia! Bukankah Nona sudah melihat bagaimana keahlian yang mulia Pangeran Zayn saat sedang berburu dengan panah?"


"Ya, itu sangat keren! Maka dari itu aku sangat tertarik untuk belajar memanah juga," kataku dengan mata berbinar-binar, bangga melihat betapa kerennya Zayn saat sedang memegang busur panahnya.


"Saya akan dengan senang hati mengajari Anda memanah jika mau, Nona!"


"Benarkah? Apa kau tidak keberatan jika aku belajar memanah darimu?" tanyaku sangsi.


Viona menggeleng cepat. "sama sekali tidak, Nona! Saya malah akan sangat bangga jika menjadi orang yang bisa mengajarkan Anda memanah dengan baik dan benar karena kita tidak pernah tahu kapan perang akan terjadi."


"Apa? Perang?"


"Betul, Nona. Karena kebodohan raja yang sedang berkuasa sekarang kita semua akan menghadapi kesulitan dalam waktu dekat. Saya harap yang mulia Pangeran Zayn dapat menyelesaikan masalah dari yang lebih kecil hingga terbesar dengan baik sebelum perang jadi benar-benar pecah kembali di negeri ini," papar Viona blak-blakan menyatakan pendapatnya.


Harapan besar dari para Elf di negeri ini sedang bertumpu pada Zayn suamiku. Aku harap Zayn dapat menemukan jalan terbaik dalam waktu dekat sebelum perang yang dikatakan oleh Viona benar-benar meletus dan membahayakan banyak nyawa yang tak berdosa.