
Kereta kuda yang ditumpangi oleh Felix dan Atreus akhirnya tiba di kota Kopenhagen saat malam kembali bertahta.
Berbeda dengan dunia Elf yang cenderung sepi saat malam datang, warga kota Kopenhagen tetap sibuk dengan urusan mereka masing-masing di pusat kota.
Pedagang makanan masih sibuk menjajakan dagangannya, ada beberapa pasangan yang sedang memadu kasih di tepi sungai dan ada pula beberapa orang yang hanya sekedar berjalan-jalan menikmati suasana malam di kota cantik itu.
"Apa Paman memberi tahu Ibu dan Ayah soal kedatanganku?" tanya Atreus sambil menikmati pemandangan kota yang amat berbeda dari kerajaan tempatnya memimpin.
Felix menggeleng. "belum, yang mulia. saya melakukannya sesuai dengan perintah Anda."
"Bagus. Sebentar lagi kita akan sampai, Ayah dan Ibu pasti akan sangat terkejut."
Langkah kaki kuda yang panjang akhirnya berhasil membawa Atreus tiba di kediaman kedua orang tuanya. Atreus turun dari kereta kuda dengan terburu, memanggil kedua orang tuanya.
"Atreus?! Itu benar kamu, Nak?" sang Ibu berseru girang, berlarian menuju pintu gerbang besar rumahnya untuk membuka pintu untuk anak semata wayangnya itu.
"Ada apa, istriku? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Zayn sang Ayah keluar dari rumah, menyusul langkah istrinya.
Setelah dapat melihat bahwa istrinya sudah membuka pintu gerbang untuk anak mereka, Zayn tersenyum hangat menyambut kedatangan sang putra setelah sekian lama.
Atreus memeluk Ibunya. "maaf aku baru bisa datang sekarang, Ibu. banyak sekali urusan negara yang harus aku selesaikan."
Ada menyambut pelukan putranya tak kalah hangat. "tidak apa-apa, sayang. Ibu tahu ada begitu banyak hal yang harus kau urus sebagai seorang raja."
"Kau tidak mau memeluk ayahmu, Atreus?" tanya Zayn sinis, cemburu melihat anak dan istrinya berpelukan dengan begitu hangat.
"Rupanya ada yang sedang terbakar api cemburu, Ibu," goda Atreus, meledek Ayahnya membuat sang Ibu terkekeh geli.
"Huh, kalian ini," Zayn mendecak sebal, dengan bibir mengerucut membuat Atreus dan Ada tertawa geli.
"Aku bercanda, Ayah. Kemari, aku juga sangat ingin memeluk ayahku yang paling tampan sejagat raya ini," ucap Atreus sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang Ayah.
Kedua pria itu lantas bertukar pelukan, melepaskan rindu masing-masing setelah sekian lama tidak berjumpa.
Zayn dan Atreus memiliki postur yang sama tinggi dengan wajah tampan yang nyaris serupa, membuat Ada tersenyum bangga bisa memiliki dua pria tampan itu sebagai anak dan istrinya.
Mereka semua lantas masuk ke dalam rumah, termasuk Felix dan sang sais.
Rumah yang sudah begitu dirindukan oleh Atreus kini sudah kembali ia pijak, membuat perasaan pemuda itu terasa lebih baik.
Atreus tersenyum, menggandeng tangan sang Ibu dengan erat sambil menimpali candaan dari sang Ayah.
"Ayah, apa aku boleh menikahi seorang manusia juga?" tanya Atreus tiba-tiba saat mereka semua sudah beranjak menuju meja makan untuk makan bersama.
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu, Atreus?" sang Ibu menanggapi, memandang anaknya bingung.
"Aku hanya terpikir untuk memiliki istri seperti Ibu, wanita tangguh namun penuh dengan cinta," jawab Atreus mengungkapkan pendapatnya.
"Selagi wanita pilihanmu adalah wanita yang baik dan tahu bagaimana caranya beretika, maka aku dan Adaline selaku orang tuamu tidak akan pernah merasa keberatan," Zayn memberikan jawabannya dengan cara yang memuaskan.
"Untuk sekarang aku belum menemukan calon istri yang tepat, Ayah, Ibu. Aku masih ingin fokus mengurus negara agar bisa menjadi lebih baik lagi."
Meski sejujurnya ia belum mau Atreus menikah, tetapi negara yang dipimpin oleh putra semata wayangnya itu membutuhkan seorang ratu yang kompeten.
Setidaknya, Ada ingin Atreus mendapatkan istri yang cerdas sehingga dapat diandalkan juga oleh Atreus sebagai ratunya.
"Apa yang dikatakan oleh Ibumu sangat benar, Atreus. fokus utamamu memang negerimu tapi ingatlah juga pada dirimu sendiri," imbuh Zayn.
"Aku akan mempertimbangkannya lagi, Ayah. Aku tidak mau memberikan menantu yang tidak menyenangkan untuk kalian," Atreus menyahut dengan seulas senyum.
Rembulan yang semakin meninggi membuat malam kian sunyi. Obrolan keluarga kecil itu kemudian terhenti oleh rasa kantuk yang sudah mulai datang.
Setelah membersihkan beberapa kamar tamu, Zayn menyuruh Felix dan Daniel sang sais untuk beristirahat.
Meski rumah yang ditempati oleh Adaline dan Zayn sudah berumur cukup tua, namun rumah itu sangat bersih serta terawat membuat Felix dan Daniel sangat menyukainya.
Walau rumah itu terletak di dekat jantung kota Kopenhagen, rumah mereka tetap terasa tentram dan sejuk dengan aneka tanaman yang tumbuh dengan sangat terawat.
Mereka tidak heran, mengingat Zayn sang mantan raja memang sangat suka berkebun sejak dulu.
"Tuan Felix, rumah ini sangat luar biasa. Bagaimana menurut Anda?" Daniel berujar kagum, memandang ke luar jendela.
"Aku sependapat denganmu. Rumah ini memang sangat bagus, setiap detailnya sangat terjaga.
Duke Zayn dan Duchess Adaline memang sangat merawat rumah ini dan rutin melakukan renovasi untuk menjaga konstruksinya. Rumah ini merupakan warisan dari orang tua Duchess Adaline," papar Felix antusias.
...****************...
"Istriku?"
"Ada apa, suamiku?"
Zayn memeluk erat Adaline dengan seulas senyum hangat, istrinya yang sudah menemani hidupnya selama lebih dari dua dekade.
Berbagai macam batu sandungan dalam rumah tangga itu telah mereka lalui dengan baik berkat kerja sama.
Elf tampan itu merasa sangat bahagia dapat menjalani biduk rumah tangga yang begitu bahagia bersama Adaline, manusia cantik pilihannya.
Adaline menyambut hangat pelukan dari suaminya, bersyukur cinta mereka tetap bisa bertahan dengan begitu kuat tanpa terkikis oleh waktu. Wanita itu tidak menyangka, pernikahannya dengan Zayn terus berjalan langgeng hingga kini usia rumah tangga mereka menginjak usia dua puluh satu tahun.
"Aku bersyukur Tuhan mempertemukan dan menyatukan kita sampai saat ini. Aku bahagia, tidak, sangat bahagia telah menjadi suamimu dan ayah dari Atreus anak kita," Zayn berucap penuh kejujuran dan makna, memandang lurus sang pujaan hati penuh cinta.
Cinta yang tumbuh subur di dalam hati Zayn dan Adaline seolah tak pernah lekang oleh waktu. Mereka tetap saling mencintai dengan begitu menggebu-gebu seperti hubungan mereka di awal-awal hubungan mereka.
"Aku juga sangat bersyukur Tuhan selalu setia mendengarkan doaku untuk kebaikan keluarga kecil kita, suamiku. Aku mencintaimu."
"Aku jauh lebih mencintaimu, Adaline."
Zayn kembali merengkuh tubuh mungil istrinya, menghadiahi kecupan manis nan hangat penuh dengan cinta di kening Adaline yang sudah nampak memunculkan kerutan halus.
Cinta yang berliku di antara seorang pria elf dan seorang wanita biasa itu kini berakhir dengan begitu indah dan manis berkat campur tangan Tuhan yang begitu baik.