Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 44 : Eksekusi Pelaku Percobaan Kudeta



Seperti hari-hari biasanya, keadaan kerajaan sangat tentram dan damai. Hari ini, berdua dengan Zayn aku sedang meninjau ulang pembukuan keuangan negara dan beberapa dokumen penting kenegaraan yang dikerjakan oleh Zayn.


Atensi kami berdua lantas beralih kepada Paman Elliott yang datang dengan seulas senyum hangat khasnya, namun sepertinya ada hal penting yang akan ia sampaikan kali ini.


"Permisi, yang mulia raja dan yang mulia ratu, eksekusi mati terdakwa Alberto Adelard akan dilaksanakan hari ini jika Anda sekalian lupa. para bangsawan, petinggi kerajaan serta beberapa perwakilan dari rakyat juga akan datang untuk menyaksikan eksekusinya," jelas Paman Elliott tatkala aku dan Zayn sedang membaca ulang pembukuan keuangan negara yang telah aku kerjakan.


Zayn mengangguk paham. "aku hampir lupa, Paman. terima kasih sudah mengingatkan."


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan, yang mulia. Oh ya, eksekusi akan dilakukan tengah hari," tambah Paman Elliott kemudian pamit undur diri.


Aku memandang Zayn lurus, mencoba membaca isi hati suamiku itu saat ini. Namun, ia seperti tidak menunjukkan emosi apa-apa seakan menganggap eksekusi mati pamannya itu bukanlah sesuatu yang penting hingga bisa mengalihkan fokusnya dari buku keuangan yang ada di tangannya itu.


"Ada apa?" tanya Zayn kalem tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kau yakin akan mengeksekusi mati pamanmu sendiri?" tanyaku setengah berbisik, berusaha berbicara sepelan mungkin agar para pelayan dan kasim yang tengah berjaga di depan pintu ruang kerja kami tidak mendengar percakapan ini.


"Ya. memangnya kenapa? Dia bahkan tak segan untuk membunuhku bahkan sejak aku masih kecil," jawab Zayn masih sama santainya.


Zayn tidak menganggap serius pertanyaan dariku, artinya ia sudah benar-benar tidak bisa memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh sang Paman.


"Aku melakukan semua ini bukan semata untuk membalaskan dendam, tapi bukankah kau juga sudah tahu betapa menderitanya rakyat selama ini karena dia? Para rakyat setiap hari datang ke gerbang utama istana untuk menuntut lelaki itu agar segera di eksekusi mati," jelas Zayn, kini balas menatapku.


"Tidak hanya melakukan kudeta, dia juga telah banyak mencuri uang rakyat dengan cara korupsi hingga banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Apa pantas dia diberikan kesempatan untuk hidup? Tidak, Adaline," tambah Zayn dengan air muka serius.


Aku membetulkan jubah kerajaan Zayn yang miring. "ya. kurasa kau benar, suamiku. Kalau begitu kita harus segera menyelesaikan pekerjaan ini sebab sebentar lagi tengah hari."


Meski dengan perasaan gelisah, aku tetap melanjutkan pekerjaanku untuk meninjau ulang pembukuan keuangan negara bersama Zayn satu persatu dengan teliti.


Sesekali kami berdiskusi hingga menemukan titik temu terbaik untuk sebuah masalah, membuatku merasa Zayn memanglah pantas untuk menjadi seorang raja. Selain cerdas dan bijak, dia juga selalu mengutamakan kepentingan rakyat.


"Atreus sedang apa ya?" tanya Zayn sambil menutup buku tebal di hadapannya.


Senyumnya mengembang, membuat hatiku terasa lebih hangat.


Senyum indah itulah yang membuatku yakin untuk melepas masa lajang di usia muda untuk bersama dengannya selamanya.


"Anak itu suka sekali tidur, sebelum kemari aku baru saja menyusui Atreus lalu dia tidur dengan sangat nyenyak," jawabku dengan senyuman sumringah.


"Sudah kuduga, Atreus sangat mirip dengan ibunya yang seorang tukang tidur," ledek Zayn sambil terkekeh geli.


Ya, aku memang gampang sekali tidur kapan pun dan dimana pun jadi Zayn suka sekali meledekku seperti itu.


"Hentikan sebelum aku memukulmu, Zayn!"


"Hei, hentikan itu Adaline!"


Aku bersyukur memiliki kehidupan pernikahan yang sangat bahagia dan lengkap bersama dengan Zayn.


Seperti yang aku duga sebelumnya, orang-orang yang datang ke pelaksanaan eksekusi mati terdakwa Alberto Adelard sangatlah ramai dari berbagai macam kalangan.


Di tengah teriknya sengatan sinar matahari, sang terdakwa diikat ke sebuah batang kayu besar dan dibiarkan menjadi bahan hinaan serta caci maki orang-orang yang menyaksikannya.


Bahkan, beberapa orang juga melemparkan telur busuk atau sayuran busuk ke arahnya mengungkapkan rasa benci sambil mengumpat seolah tidak peduli bahwa ada raja dan ratu di depan mereka.


Bersama Zayn dan ditemani oleh beberapa pengawal kerajaan, aku duduk di singgasana menyaksikan kejadian itu dalam diam.


"Negeri ini tidak tahu caranya berbohong. Semua orang selalu mengatakan apa pun sesuai perasaannya tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi," bisik Zayn dengan pandangan tertuju pada terdakwa.


"Jadi itu alasannya mereka mengumpat walau di depan mereka ada raja dan ratu?" tanyaku.


"Iya. Mereka pikir kita tidak dapat mendengar umpatan yang mereka lontarkan. Berbeda dengan di dunia manusia yang bahkan tidak dapat diprediksi apakah seseorang sedang berbohong atau tidak," imbuh Zayn masih dengan suara berbisik.


Dua orang algojo kemudian datang dengan masing-masing sebilah pedang besar di punggung mereka. Dengan wajah tertutupi oleh kain hitam serta setelan pakaian hitam-hitam keduanya memasuki area eksekusi.


"Eksekusi mati terhadap terdakwa Alberto Adelard akan dilaksanakan sekarang. Harap meninggalkan tempat ini jika Anda takut atau trauma terhadap darah," ucap Paman Elliott memberikan himbauan.


Nampak beberapa orang menepi dari tempat mereka berdiri, ada pula yang maju mendekat.


Jendral kerajaan Elf memasangkan kain hitam penutup kepala kepada terdakwa sementara para algojo mengasah pedang mereka di pinggir lapangan.


Dadaku berdebar kencang, mau tak mau aku harus melihat eksekusi mati ini sebagai seorang ratu.


Zayn menggamit tanganku, meremasnya lembut berusaha memberikan sensasi nyaman.


"Kau hanya perlu memejamkan mata saat para algojo mengayunkan pedangnya."


Baru saja rapat kedua bibir Zayn, kedua algojo berbadan besar tinggi itu langsung mengayunkan pedangnya berbarengan tepat di leher belakang sang terdakwa.


Lututku seketika melemas, cepat-cepat aku memejamkan mata tidak ingin melihat kejadian mengerikan itu di depan mataku.


"Bukalah matamu, dia sudah selesai dipenggal," titah Zayn dengan suara tenang seperti biasanya.


Dan benar saja, saat membuka mata aku mendapati tubuh Alberto Adelard sudah tak bernyawa dengan kepala terputus.


Kepalanya yang sudah terputus dari tubuhnya tergeletak di tanah, sementara tubuhnya langsung dibungkus dengan kain hitam dan dibopong oleh beberapa prajurit menjauh dari lapangan eksekusi.


"Aku sudah melakukan apa yang kalian inginkan, rakyatku. Maka hiduplah kalian dengan tenang dan lupakan apa yang sudah dia lakukan terhadap negeri ini!" Zayn berseru tegas, mendapatkan sorakan meriah dari para rakyat.


Bagaimana bisa mereka menyaksikan eksekusi mati selayaknya menonton sirkus? Apa kerajaan ini sudah sering melakukan eksekusi mati seperti ini hingga rakyatnya bisa terbiasa seperti itu?


"Hidup yang mulia raja Zayn! Hidup yang mulia ratu Adaline!" seru mereka bersama-sama.


Dengan perasaan campur aduk, aku tetap memaksakan diri untuk tersenyum kepada mereka para rakyat kerajaan Elf.