Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 33 : Little Things



"Hey, sayang. Apa kau sudah makan?" sapa Zayn setibanya dia di rumah sepulangnya dari kantor.


Setelah aku dinyatakan positif hamil beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan untuk melakukan semua pekerjaanku di rumah untuk mengurangi mobilitas atas saran dari dokter.


Ya, karena aku hamil di usia yang masih sangat muda maka dokter menyarankan aku agar tidak melakukan terlalu banyak aktifitas demi menjaga kesehatanku dan buah hati kami.


"Bibi Alice sudah memasakkan makanan Asia yang kaya akan sayuran dan rasanya juga nikmat," balasku sambil mengusap-usap lembut perutku.


Beruntungnya, sebagai Ibu yang sedang hamil muda aku tidak terlalu sering merasa mual atau perasaan tak nyaman lainnya yang umumnya dirasakan oleh Ibu yang tengah hamil muda.


Bibi Alice, seorang janda tua yang tak lain tak bukan adalah salah seorang tetangga sudah aku kenal sejak kecil kini bekerja di rumahku untuk membantu beberapa pekerjaan rumah.


Wanita tua itu baru saja kehilangan suaminya beberapa bulan yang lalu. Meski sebenarnya ia sama sekali tak kekurangan uang tetapi ia memutuskan untuk bekerja padaku untuk mengisi waktu luang sebagai orang tua, toh semua anak Bibi Alice tinggal di kota lain mengikuti pasangan masing-masing.


"Kemana Bibi Alice sekarang?" tanya Zayn seraya melonggarkan simpul dasinya.


"Bibi Alice sudah pulang. Malam ini kau mau makan apa? Mau aku buatkan?"


Sudah cukup lama aku tidak memasak untuk Zayn sejak aku hamil. Zayn akan selalu mengomel jika aku melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak atau hal-hal sepele seperti membuang sampah di bak sampah di halaman depan rumah.


Mata pria itu mendelik setelah mendengar tawaranku, seolah sudah siap untuk menyemburku dengan ocehannya seperti biasa.


"Ayolah, Zayn... Aku rindu pada penggorengan dan minyak panas," ucapku berupaya membujuk Zayn dengan air muka melas.


Zayn menghela napas panjang.


"walau pun kau suka bertingkah atau berkata aneh seperti itu entah mengapa aku sangat mencintaimu, Adaline. ya sudah kau boleh memasak tapi dalam pengawasanku."


Senyum bahagia terpatri di wajahku, senang rasanya Zayn memperbolehkan aku untuk memasak makan malam kali ini. Selama ini Zayn yang akan selalu memasak makan malam untuk kami berdua.


Masakan Zayn memang sangat lezat, apa pun yang dia masak selalu terasa ajaib tapi tetap saja aku ingin menyuguhkan makanan yang kubuat menggunakan jerih payahku sendiri untuknya.


"Kau mau makan apa?" tanyaku saat Zayn mulai duduk dan mengawasi aku dari meja makan.


"Apa saja yang dimasak oleh istriku akan aku makan dengan senang hati. Jadi masaklah tanpa merasa terbebani," sahut Zayn dengan seulas senyum manis.


"Kalau begitu tunggulah sampai masakan yang aku buat dengan penuh cinta ini matang, Zayn!"


...****************...


Suasana kota yang penuh akan hiruk-pikuk perlahan mulai membuatku merasa bosan namun aku belum berani membahasnya bersama Zayn yang belakangan ini sangat fokus pada pekerjaannya.


Malam ini setelah makan malam kami selesai, Zayn nampak sibuk bermain-main dengan gitar akustik miliknya yang diberikan oleh Liam sebagai kado pernikahan kami.


Di ruang tengah, Zayn sibuk memainkan gitar itu sambil bersenandung dengan begitu merdu dengan posisi duduk di atas karpet sementara aku menontonnya dengan penuh minat di atas sofa.


"Zayn?"


"Ya, sayang?"


"Bisa kau nyanyikan lagu untuk anakmu?


Sepertinya dia ingin mendengarkan suara nyanyian ayahnya yang merdu," ucapku sambil memandang Zayn penuh harap.


Ya, suara Zayn sangatlah merdu namun sayang dia tak begitu suka menunjukkan bakat alaminya itu pada siapa pun termasuk aku istrinya sendiri.


Tanpa menjawab perkataanku, Zayn kembali mengalihkan atensinya pada gitar akustik berwarna hitam dalam rengkuhannya itu.


Jemari Zayn dengan lihai bergerak di atas gitar, memetik lembut setiap senar yang ada hingga menghasilkan alunan nada yang begitu merdu.


"Your hand fits in mine like it's made just for me


But bear this mind, it was meant to be


And I'm joining up the dots, with the freckles on your cheeks~


And it all makes sense to me


I know you've never loved


The crinkles by your eyes when you smile


You've never loved your stomach or your thighs


But I'll love them endlessly~"


Suara merdu Zayn berpadu sempurna dengan alunan merdu dari gitar, begitu membuai diriku untuk terus memusatkan perhatianku padanya.


Sepasang netra karamel jernih milik Zayn juga terpaku padaku, membuatku benar-benar yakin bahwa setiap kata manis yang ia nyanyikan memang berasal dari ketulusan cintanya kepadaku.


"I won't let these little things slip out of my mouth


But if I do, it's you


Oh, it's you, they add up to


I'm in love with you


And all these little things


You can't go to bed without a cup of tea


And maybe that's the reason that you talk in your sleep


And all those conversations are the secrets that I keep


Though it makes no sense to me


I know you never loved the sound of your voice on tape


You never want to know how much you weight


You still have to squeeze into your jeans


But you're perfect to me~"


Air mata menggenangi kedua pelupuk mataku, air mata bahagia yang diciptakan oleh suamiku.


Zayn memang bukanlah seorang manusia tetapi aku sangat bersyukur cinta kami berdua bisa bersatu menjadi cinta yang luar biasa.


Nyanyian merdu Zayn menjelaskan betapa ia mencintai aku dalam setiap bait katanya.


Aku tidak tahu kapan Zayn menciptakan lagu itu tetapi yang jelas lagu itu akan menjadi lagu favoritku sepanjang masa.


"Karena aku terlalu mencintaimu, aku jadi menuliskan kata-kata yang terlalu jujur dalam lirik lagunya," ucap Zayn setelah menyelesaikan lagunya dengan begitu sempurna.


"Aku bersyukur kau mau menerima lamaranku walau aku bukanlah seorang manusia, Adaline."


Aku beranjak turun dari sofa, menurunkan gitar dari pangkuan Zayn lantas memeluk pria itu erat-erat. Menangis bahagia dalam dekapan hangat Zayn sungguh membuatku merasakan apa itu tentram.


"Entah mengapa aku sangat bahagia mendengar lagu yang luar biasa itu, Zayn. Sekarang aku semakin ingin terus berada di sisimu sebagai istri dan Ibu dari anak-anakmu," aku mengungkapkan isi hatiku dengan penuh kejujuran.


Aku sungguh tidak menyangka Zayn dapat menciptakan lagu penuh cinta dan kejujuran seperti itu dan menyanyikannya dengan begitu luar biasa.


"Terima kasih istriku, Adaline. Katakan apa saja yang bisa membuatmu bahagia maka aku akan berusaha melakukan semuanya untukmu."


"Bagaimana kalau kita pergi berlibur? Bukankah kau belum memberikan aku hadiah atas kehamilan pertamaku ini?" godaku sambil mengusap rahang tegas Zayn yang terasa agak sedikit kasar karena ia belum bercukur.


"Tentu saja. Memangnya kau mau kemana?"


"Sebuah tempat yang romantis tentunya."


"Baiklah Nyonya Adelard, permintaan anda adalah perintah mutlak bagi saya."


"Hahaha baiklah tolong lakukanlah yang terbaik."


Laki-laki rupawan yang merupakan seorang Elf itu dengan senang hati melakukan apa saja demi kebahagiaanku, mana mungkin aku tidak semakin mencintainya?


Tanpa aba-aba Zayn langsung menggendong tubuhku ala bridal style.


"Kalau begitu sekarang kau harus memberikan aku kecupan manis!" seru Zayn bersemangat.


"Tidak mau! Haha!"