Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 41 : Beralihnya Kekuasaan



"Paman, bersiaplah untuk dihukum pancung karena sudah merencanakan kudeta!"


Suara lantang Zayn membuat tak ada seorang pun yang berani berkutik, menggagalkan kudeta yang dilakukan oleh sang Paman.


Lelaki tua itu tak bergerak dari tempatnya, tubuhnya bergetar samar setelah mendapatkan tekanan dari Zayn.


"Mulai hari ini, aku, Zayn Adelard naik tahta menjadi raja yang ke delapan puluh sembilan kerajaan ini dan aku memerintahkan kalian para pengawal kerajaan untuk memenjarakan mantan raja sebagai perintah pertamaku," tegas Zayn merobek kesunyian.


"Baik, yang mulia."


"Hidup yang mulia raja Zayn!"


"Hidup yang mulia raja Zayn!"


Lima orang pengawal kerajaan langsung membawa mantan raja ke penjara bawah tanah sesuai perintah Zayn, sementara para bangsawan menyerahkan hadiah yang sudah mereka kepada aku dan Zayn.


"Semoga kerajaan kita dapat kembali makmur dibawah pemerintahan Anda, yang mulia," ucap pendeta penuh pengharapan.


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik sebagaimana Ayah memerintah di kerajaan ini," balas Zayn santun.


"Kita harus segera menyusun kabinet baru dan mengurus dayang serta kasim yang baru untuk yang mulia raja dan yang mulai ratu," ucap Paman Elliott memberi nasihat.


Aku diam saja, tidak begitu mengerti soal urusan kerajaan seperti ini. Lagi pula apa aku otomatis menjadi ratu karena sudah menikah dengan Zayn sebelum ia naik tahta?


"Paman benar. Aku akan mengurusnya segera bersama Adaline dan akan merundingkan hasilnya juga bersama Paman selaku penasihatku," final Zayn seraya membawaku keluar dari ruangan itu.


...****************...


"Jika kau menjadi raja di sini, apa yang harus aku lakukan? Mana mungkin aku harus menjadi seorang ratu yang tidak berguna?" tanyaku kesal seusai Zayn menjelaskan mengenai keputusannya untuk naik tahta atas keinginan para warga Elf.


Zayn menghela nafasnya, menyugar rambut lebatnya dengan jemari.


"Kau adalah wanita yang sangat cerdas, Ada. aku yakin sejuta persen bahwa kau akan menjadi ratu yang sangat disayangi oleh rakyat."


"Aku mana mungkin bisa menjadi ratu yang baik, Zayn. Aku hanya bisa mengurus administrasi dan keuangan mana aku tahu soal politik," sanggahku seraya melepas gaun yang aku kenakan, bermaksud menggantinya dengan pakaian tidur yang lebih nyaman.


"Justru itu kelebihanmu, Ada. ratu sebelumnya tak banyak yang mengerti soal administrasi, yang mereka tahu hanyalah menghabiskan banyak uang," kata Zayn sambil mendudukkan dirinya di ujung ranjang.


Dengan seulas senyuman, dia mengusap lembut perutku seolah menyapa anak kami yang masih berada di dalam kandunganku.


Tak lama lagi anak ini akan segera lahir ke dunia, membuat perasaanku terasa campur aduk.


Di satu sisi aku merasa bahagia, di sisi lain aku juga merasa cemas serta khawatir jika harus melahirkan anak ini di dunia Elf.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada Pamanmu itu? kau akan benar-benar melakukan hukum pancung padanya?"


Zayn mengangguk. "tentu. selama ini aku yang masih muda sudah diam saja membiarkan dia merenggut nyawa kedua orang tuaku maka ini sudah saatnya dia menerima ganjaran yang sepantasnya."


Zayn mengangguk. "aku paham akan hal itu, istriku. maka dari itu aku membiarkan dia hidup sampai kau sudah melahirkan nanti. lagi pula hukuman yang akan aku berikan sudah aku pikirkan matang-matang dan atas permintaan dari rakyat."


Penjelasan dari Zayn membuatku sadar jika menjadi raja bukanlah hal yang mudah.


Ia harus mempertimbangkan banyak hal terlebih dahulu sebelum mengambil satu keputusan, tentu itu bukanlah hal yang mudah.


"Sejujurnya itu merupakan keputusan paling berat yang harus aku ambil dan lakukan, sayang. Tetapi aku adalah raja bagi rakyatku maka aku harus melakukannya dengan baik dan menjaga kepercayaan mereka terhadapku," tambah Zayn dengan sorot mata sendu.


"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, Zayn. Aku harap kau juga memikirkan soal Florence kasihan jika Felix terus mengkhawatirkan adiknya," sahutku seraya mengancingkan baju tidur yang baru selesai aku pakai.


"Aku sudah memulangkan Florence dengan aman dari paviliun belakang istana tempat para calon selir ditempatkan. Semua wanita yang ada di sana pun sudah aku pulangkan dengan selamat ke tempat mereka berada seharusnya jadi kau tidak perlu risau, anak itu pasti sedang melepas rindu dengan Felix," terang Zayn, dengan kedua tangannya yang sibuk menanggalkan pakaian.


"Aku lega mendengarnya. ngomong-ngomong apa aku perlu belajar tata krama agar bisa menjadi ratu yang lebih baik lagi?"


Zayn terkekeh. "kalau bagian itu aku tidak akan memaksa, toh kau juga menjadi ratu bukan karena keinginanmu mana mungkin aku mau menambah beban yang harus kau tanggung."


Bisa menjadi seorang ratu sama sekali tak pernah terbersit dalam benakku selama aku hidup.


Selama ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup dengan apa yang aku miliki, bukan untuk mencari kekuasaan dan harta berlimpah.


Mendapatkan status sosial setinggi ini memang bukanlah yang aku inginkan namun aku memutuskan untuk menerima dan mensyukuri semuanya yang telah diberikan oleh Tuhan dengan harapan kelak anakku akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik ketimbang kehidupanku.


"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, yang mulia," ucapku dengan seulas senyum.


Zayn tersenyum geli. "kau sama sekali tidak cocok bersikap formal seperti itu kepadaku, rasanya sangat aneh. aku tetaplah suamimu, jangan panggil aku seperti itu."


"Hei, bukankah itu tidak sopan?"


"Aku adalah satu-satunya raja di kerajaan Elf yang menikahi seorang manusia biasa, itu adalah sesuatu yang sangat langka. Jadi sekalian saja kita menjalani kehidupan suami istri kerajaan kita dengan seperti biasanya toh kita menikah bukan karena urusan politik," kata Zayn dengan penuh kebanggaan membuatku tergelak geli.


"Kau memang sangat aneh, Zayn. Disaat raja-raja lain menuruti peraturan yang sudah ada sejak berabad-abad lamanya kau malah mau membuat peraturan sendiri."


Zayn merebahkan dirinya di atas kasur lebar milik kami dengan air muka santai.


"aku tidak mau pusing memerintah dengan peraturan kuno seperti itu, Ada. keadaan dunia selalu berubah mana mungkin aku hanya terpaku pada setumpuk buku hukum tua yang bahkan sudah sangat lapuk itu."


Zayn tetaplah Zayn meski pun kini ia adalah seorang raja di tanah kelahirannya.


Dia tetap menjadi lelaki yang bertindak sesuai kata hatinya tanpa mau mempedulikan hal-hal yang menurutnya tidak penting.


Aku menyandarkan kepalaku pada bahu lebar milik Zayn. "kalau begitu pimpinan saja negeri ini dengan caramu tetapi dengan catatan kau harus bisa membuat negeri ini kembali makmur seperti sediakala, Zayn. Jangan kecewakan rakyatmu, lakukan segalanya yang terbaik untuk mereka tanpa memandang status sosial mereka semata."


Aku harap kehidupan baru kami sebagai raja dan ratu kerajaan Elf akan membawa perubahan baik untuk negeri yang sangat indah bagai surga ini.