
"Yang mulia ratu, gaun mana yang ingin Anda pakai hari ini?" Artina bertanya seraya memegang dua buah gaun, hendak menunjukkannya kepadaku yang sedang memakaikan baju Atreus.
Dua buah gaun dengan desain serta warna yang berbeda, yang satu berwarna biru navy dengan potongan dada rendah sementara yang satunya berwarna merah muda dengan potongan leher yang tinggi.
Sejak Atreus lahir, Zayn kini lebih memperhatikan cara berpakaianku bahkan hingga ke hal-hal detail seperti potongan baju yang akan aku pakai.
Tak jarang, Zayn memanggil para perancang busana yang ada di negeri ini untuk membuatkan baju yang paling cocok dikenakan olehku seorang.
Aku menggeleng kukuh. "tidak keduanya, Artina. seharian ini aku akan berada di luar istana mana mungkin aku harus mengenakan pakaian yang tidak nyaman seperti itu."
Artina menggaruk kulit kepalanya dengan jari telunjuk, nampak bingung karena aku sudah menolak banyak gaun yang ia sodorkan padaku.
"Nah, Atreus sudah minum susu, mandi dan memakai baju. Sekarang kau pergilah sarapan karena aku akan memilih gaunku sendiri hari ini," ucapku, berusaha mengusir Artina untuk langsung pergi bergabung dengan para pelayan lain di ruang makan mereka.
Hari ini, aku dan Zayn akan pergi melakukan kunjungan kerja ke salah satu desa terluar dari kerajaan. Jadi mana mungkin aku mau memakai gaun yang membuat kulitku terasa gatal dan gerah? Itu akan menjadi masalah!
Aku membuka lemari besar milikku yang berisi puluhan gaun yang tergantung dengan rapi di dalamnya. Ada banyak sekali gaun yang bisa langsung aku pakai hari ini, tapi gaun-gaun ini terlalu mewah dengan bahan yang tidak menyerap keringat membuatku mendecak sebal.
"Zayn! Zayn!" panggilku dengan suara melengking ke arah kamar mandi tempat Zayn masih mandi.
"Kenapa sih kau menyebalkan sekali?!" tanyaku masih dengan teriakan, membuat Atreus tertawa geli melihatku.
"Menyebalkan apanya lagi sih, sayang?" Zayn balas bertanya dari dalam kamar mandi dengan suara yang masih kalem.
"Apa kau tahu seharusnya aku punya gaun berbahan sutra atau katun untuk melakukan kunjungan kerja ke luar kota?" ucapku panjang lebar melayangkan protes.
Mendengar protes dariku, Zayn yang sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi lantas menyeka air yang masih membasahi helaian rambutnya dengan handuk.
"Kenapa kau tidak pakai baju berkuda saja? Bukankah kau punya banyak sekali baju berkuda?" tanya Zayn dengan bodohnya membuatku kesal dan kontan saja menginjak kakinya kuat-kuat.
Aku melotot padanya. "kau memang raja yang baik sekali untuk rakyat tapi kau adalah suami yang sangat payah, Zayn! Mana mungkin aku pakai baju berkuda disaat mereka para rakyat bahkan berusaha menyambutku dengan susah payah seperti itu."
Zayn cengengesan memamerkan jajaran gigi rapi nan putih miliknya seolah tak melakukan dosa apa pun membuat aku makin geram.
"Ya sudah, dari pada memakai pakaian yang merepotkan itu bagaimana kalau kita pakai pakaian dari dunia manusia saja?" tawar Zayn yang kali ini menjadi angin segar untukku.
Pakaian kerajaan yang biasa aku pakai setiap hari memang sangat menawan, anggun serta mewah namun sungguh merepotkan berbeda dengan pakaian dari dunia manusia yang selalu aku kenakan sebelum naik tahta.
"Kebetulan aku membawa sebuah long dress, jadi kurasa itu jauh lebih baik ketimbang aku harus memakai baju-baju berat dan membuat gerah ini," ucapku seraya membuka koper tempatku menyimpan pakaian manusia yang kubawa.
Sebuah long dress bermotif floral dengan warna dominan merah muda menjadi pilihanku, sementara Zayn memiliki untuk memakai hoodie berwarna senada dipadukan dengan celana jeans biru muda.
"Ketimbang kunjungan kerja, kurasa pakaian ini malah lebih mirip untuk pergi kencan di coffee shop," gelak Zayn sambil mengancingkan resleting long dress yang aku kenakan.
"Memangnya kau mau pakai gaun yang beratnya lebih berat dari pada anakmu setiap hari?" ketusku sambil mengikat rambutku sendiri seperti yang selama ini ingin sekali aku lakukan.
Meski pun kini aku adalah seorang ratu tapi tetap saja ada banyak hal yang belum terbiasa aku lakukan. Contohnya, seperti kejadian barusan --aku suka sekali berteriak jika kesal atau sedang berusaha mencari Zayn.
Meski hal itu jauh dari kesan anggun, namun semua orang-orang, di kerajaan telah memaklumi itu dan mengatakan bahwa aku tak perlu memaksakan diri untuk menjadi super sempurna.
Bukannya takut pada sikap galak yang aku tunjukkan, Zayn malah terkekeh geli.
"kau tetap saja menggemaskan walau sudah menjadi seorang ibu ya, Adaline."
Walau pun aku dan Zayn sudah menikah dan memiliki Atreus, tetap saja aku kadang tersipu-sipu mendengar ucapan manis dari Zayn seperti barusan.
Setelah rampung bersiap-siap, kami lantas menaiki kereta kuda yang sudah menunggu sejak tadi. Ditemani oleh Paman Elliott dan pengawalan dari para prajurit kerajaan, kami bertolak menuju desa yang menjadi tujuan kami untuk melakukan peninjauan lokasi.
Semua mata kini tertuju kepada aku dan Zayn kurasa karena pakaian yang kami kenakan sangat nyentrik kali ini.
"Kenapa yang mulia raja dan ratu memakai pakaian seperti itu?" tanya salah seorang prajurit setelah kereta kuda bergerak menjauhi istana kerajaan.
"Ini pakaian yang kami bawa dari dunia manusia. Kami mengenakan pakaian ini demi kenyamanan kunjungan kerja kita. Jangan banyak bicara agar kita bisa sampai tepat waktu," tukas Zayn.
Sang prajurit mengangguk paham, meski sejujurnya ia masih sedikit bingung. Dengan kudanya, dia berjalan mendahului kereta guna untuk melakukan pengawalan
Jika kalian pikir menjadi seorang ratu mudah? Oh, tentu saja tidak! Aku harus terus berpikir jernih sampai kadang kepalaku sakit sendiri.
Mengurus anak, suami dan urusan negara bukanlah sebuah lelucon tentunya.
Beruntung, walau Zayn kerap kali menyebalkan karena beberapa hal tetapi dia tetap saja merupakan suami yang super pengertian dan penuh kasih sayang.
Dalam diam, aku menikmati perjalanan ke arah desa dengan kerta kuda yang kami tumpangi.
Sais membawa kereta kuda dengan sangat hati-hati ditengah jalanan beralaskan tanah merah yang berdebu luar biasa.
Di sisi kanan dan kiri jalanan ini memiliki kawasan perbukitan hijau yang eksotis, membuat Atreus nampak begitu antusias memperhatikan pemandangan sekitar dalam perjalanan kali ini.
Maklum, aku baru kali ini membawa serta Atreus keluar dari istana kerajaan sehingga ia suka tertawaan ketika melihat objek-objek yang menurutnya terlihat asing. Beruntungnya, sepanjang perjalanan ini Atreus sangat tenang bahkan sama sekali tidak menangis walau diganggu oleh sang Ayah.
"Yang mulia raja dan ratu, apakah Anda sekalian melihat jurang di depan sana?"
"Apa? Jurang?!"