
"Yang mulia raja dan ratu, apakah Anda sekalian melihat jurang di depan sana?"
"Apa? Jurang?!" aku dan Zayn berseru kaget karena mendengar pertanyaan salah seorang prajurit kerajaan.
Kereta kuda yang kami tumpangi kemudian berhenti tepat beberapa meter di depan jurang yang dimaksud oleh para pengawal.
Dan benar saja, sebuah jurang menganga di tengah-tengah jalan membuat akses utama dari pusat kerajaan ke desa terputus.
"Wajar saja orang-orang desa semuanya bilang mereka terisolasi," Zayn bergumam, memperhatikan jalanan yang terputus cukup jauh.
"Johnny?" panggil Zayn.
"Ya, yang mulia?"
"Kembalilah ke istana lebih dulu, katakan kepada semua jajaran istana untuk langsung kemari dengan peralatan serta bahan bangunan terbaik. Kita harus segera memperbaiki jalanan ini," titah Zayn seraya memperhatikan lebih jelas jalanan yang terputus itu.
"Baiklah, yang mulia."
Johnny langsung saja berbalik dengan kudanya, dengan kecepatan tinggi dia memacu kudanya kembali ke arah istana.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan, yang mulia?" tanya salah seorang pengawal kepada Zayn.
"Apa kalian punya kertas dan pulpen?"
Buru-buru para pengawal kerajaan menggeledah isi tas mereka, mencari kertas dan pulpen yang dicari oleh Zayn.
"Ada, yang mulia," balas salah seorang pengawal sambil cepat-cepat menyerahkan segulung kertas besar dan pulpen kepada Zayn.
Zayn mengambil kertas serta pulpen dari pengawal kerajaan, dia lantas duduk di bawah sebuah pohon besar seraya membentang gulungan kertas besar itu di atas tanah beralaskan rumput.
"Zayn, apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan Atreus yang sedang tidur dalam gendonganku.
"Membuat peta konsep untuk membangun jembatan baru. Aku tahu Atreus sedang tidur, jadi akan lebih melelahkan lagi jika kita kembali lagi ke istana sekarang. Paling tidak, pasukan dari kerajaan akan datang dua jam lagi jadi sementara lebih baik kita beristirahat di sini sambil memikirkan solusi yang lebih baik," terang Zayn dengan serius, mulai menggambar dengan pulpen di tangannya.
"Agar kita bisa sampai ke desa, kita perlu membangun jembatan sementara terlebih dahulu, bukan?"
Zayn tersenyum tipis, mengangguk. "istriku memang sangat cerdas. ya, sekarang aku sedang membuat peta konsep untuk jembatan sementara terlebih dahulu. berhubung kita sama sekali tidak memiliki alat dan bahan untuk memotong kayu, maka yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu."
Setelah diperintahkan oleh Zayn sang raja, para pengawal kerajaan mulai membuka perbekalan mereka. Apa boleh buat? Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah menunggu seraya mencari solusi yang terbaik.
"Makanlah lebih dulu, sayang," suruh Zayn sambil menyodorkan kotak perbekalan yang ia bawa.
Aku mengangguk dan menurut lantas mulai makan tak lupa menyuapi makanan kepada Zayn juga. Atreus yang sedang tertidur pulas dibaringkan di sebelahku menggunakan alas jubah kerajaan milik Zayn, anak itu sama sekali tidak terbangun nampaknya sangat kelelahan.
...****************...
"Tarik sedikit ke arah kanan, teman-teman!" teriakku memberikan komando.
Semua pria yang merupakan para petinggi kerajaan, bangsawan serta prajurit kerajaan tengah berusaha mendirikan jembatan darurat. Zayn juga ikut turun ke lapangan dan menyuruhku untuk mengarahkan pembangunan menggunakan peta konsep.
Sesuai arahan dariku, mereka mengarahkan balok kayu besar yang mereka gotong sedikit menyerong ke kanan lalu menurunkannya dengan selamat.
"Yang mulia raja dan yang mulia ratu, apakah Anda sekalian tetap ingin melanjutkan kunjungan kerja ke desa di seberang itu?" tanya Paman Elliott.
Zayn mengangguk mantap. "tentu saja. kalian bisa melanjutkan pekerjaan dan mendirikan tenda darurat di sebelah sana untuk bermalam."
"Bagaimana dengan Anda, yang mulia?" Paman Elliott bertanya lagi.
"Kami akan bermalam di desa sesuai dengan permintaan warga desa. Paman juga harus ikut," balas Zayn cepat seraya membawaku naik ke dalam kereta kuda.
Kereta kuda kembali melaju. Bersama dengan Paman Elliott dan beberapa pengawal kerajaan kami menyebrangi jembatan darurat yang baru saja selesai dibangun.
"Untung saja kita bisa menyelesaikan jembatannya tepat waktu, para warga desa pasti sudah menunggu kita sejak tadi siang," ucapku seiring dengan masuknya kereta kuda ke dalam kawasan desa.
"Iya, semoga saja kita bisa langsung menyelesaikan jembatannya setelah kunjungan kerja ini," balas Zayn dengan seulas senyum tipis.
Tak lama berselang, para warga desa yang menyadari kedatangan orang-orang kerajaan lantas menyambut kami dengan senyuman yang amat ramah tamah.
Meski hari sudah beranjak malam, mereka tetap melakukan penyambutan untuk kami dengan adat khas pedesaan yang mengagumkan.
"Selamat datang di desa kami, yang mulia raja dan yang mulia ratu. Maaf sudah merepotkan Anda berdua seperti ini," sambut seorang pria tua dengan kumis dan janggut panjang yang kuduga merupakan kepala desa.
"Sudah merupakan kewajiban kami, Tuan," balas Zayn santun dengan senyuman ramah.
"Hampir saja saya lupa, perkenalkan nama sama Morgan, kepala desa Walton yang indah ini."
Walau desa ini terletak di tempat yang terpencil, namun tak kalah indah dengan pusat pemerintahan kerajaan Elf. Banyak pohon Wisteria dengan berbagai warna berjajar rapi di sepanjang jalan yang cukup lebar menuju desa, belum lagi berbagai macam bunga penuh warna tumbuh di berbagai titik dalam desa.
Udara desa ini terasa sangat segar, suara gemericik air juga menarik perhatianku.
Setelah berbincang ringan, kepala desa dan beberapa warga desa mengajak kami masuk ke rumah kepala desa untuk menikmati jamuan yang telah siap mereka sajikan.
Dengan hati-hati, para pengawal kerajaan memutuskan untuk mencicipi semua makanan yang tersaji di atas meja perjamuan untuk memastikan tidak ada makanan yang beracun.
"Semuanya aman, yang mulia. Silakan Anda berdua juga makan," lapor salah seorang pengawal.
Merasa semuanya aman, aku dan Zayn kemudian mulai makan dengan Atreus yang kini sudah bangun dalam gendonganku. Atreus yang merasa sedang berada di tempat yang asing terus saja mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru arah mencoba menerka agaknya ia sedang berada di mana.
"Pangeran Atreus sungguh sangat tampan dan menggemaskan. Beliau akan menjadi putra mahkota yang sangat berani di kemudian hari," puji Tuan Morgan yang duduk tepat di depanku.
"Itu semua karena aku berhasil memilih ibu yang luar biasa untuknya maka ia akan tumbuh dengan baik kedepannya," Zayn menyahut sambil menggoda diriku, membuat aku tersenyum geli.
"Anda berdua terlihat sangat saling mencintai, yang mulia. Semua orang yang melihatnya langsung mengetahui itu," timpal Nyonya Morgan seraya menambahkan hidangan untuk kami.
Nyonya Morgan juga tetap nampak cantik meski wajahnya sudah nampak keriput. Senyuman hangat dan ramah khas seorang ibu baik hati menghiasi wajahnya membuatku teringat kepada Mama.
"Kami menikah karena memang saling mencintai, Nyonya," balasku lembut.
Tuan Morgan tersenyum. "kalau begitu saya doakan pernikahan yang mulia raja dan yang mulia ratu senantiasa harmonis dalam lindungan Tuhan. Mari bersulang!"
"Bersulang!"