Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 50 : Pohon Wisteria



"Apa kau mau menambah anak lagi?" tanya Zayn tiba-tiba ketika kami duduk di sebuah gazebo di bawah pohon Wisteria sambil mengajak Atreus menghirup udara segar di luar istana.


Hari ini aku dan Zayn sedang mengambil hari libur, membebaskan diri dari segala kegiatan kenegaraan sampai tiga hari ke depan.


Kepalaku dan Zayn rasanya sangat penat serta berat, hingga akhirnya Zayn memilih untuk mengambil libur bersama denganku.


Libur pertama hari ini kami gunakan untuk bersantai, sementara besok dan lusa kami ingin berjalan-jalan ke luar kerajaan Elf untuk menyegarkan pikiran selama liburan.


Zayn mempersiapkan liburan yang istimewa, entah kemana tujuannya sebab ia bilang rahasia namun sudah menyiapkannya dengan matang.


Aku terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari Zayn, sungguh dia sepertinya sudah dipengaruhi oleh Paman Elliott.


Atreus masih terlalu kecil, mana mungkin aku mau melahirkan lagi sebelum Atreus cukup besar untuk memiliki seorang adik?


"Aku malah ingin kau bertanya apakah kau masih waras, Zayn?" ledekku masih dengan sisa tawa.


Cuaca pagi ini sangat bagus, awan nampak begitu tipis menghiasi sang maha luas cakrawala dengan burung-burung yang terbang dengan begitu bebasnya. Tak ketinggalan, bunga-bunga di sekitar istana juga mekar dengan cantik serta wanginya yang semerbak.


"Kenapa kau malah mengejekku seperti itu? Barang tentu aku masih dalam kondisi yang sepenuhnya waras," Zayn cemberut, membaringkan tubuh mungil Atreus di lantai gazebo membiarkan sang anak melihat keindahan langit secara langsung.


"Atreus bahkan belum berusia satu tahun, biarkan anak itu besar terlebih dahulu. Memangnya kau mau kalau Atreus jadi kurang mendapatkan kasih sayang karena kita harus mengurus adiknya?" aku berujar santai, memandang ke arah langit membayangkan kedua orang tuaku tengah melihatku dan tersenyum di balik awan.


"Aku bukan menginginkannya sekarang, istriku. Mana mungkin aku menyuruhmu melahirkan lagi dalam waktu dekat," Zayn membalas dengan kalem, mengikuti arah pandanganku kemudian.


"Kau tahu? Aku bahkan ingin Atreus menjadi satu-satunya anak kita. Aku tidak ingin Atreus merasakan kesenjangan antara dia dan adiknya nanti," tambahku sambil menyandarkan kepalaku di bahu lebar milik Zayn.


Pikiran Zayn nampak menerawang jauh, menimbang sejenak usai aku mengucapkan apa yang ada di dalam benakku. Sungguh, aku tidak mau jika nantinya anakku merasa tidak nyaman dengan kehidupannya seperti yang dulu aku rasakan.


Aku sangat menyayangi Atreus lebih dari apa pun, aku tidak mau jika nanti dalam hidupnya dia merasakan kesulitan yang amat berat seperti diriku dulu. Aku berharap kehidupan Atreus selalu bahagia dan lurus dalam perlindungan Tuhan.


"Kau benar, istriku. Kita harus memikirkan juga bagaimana kebahagiaan anak ini kedepannya. Maaf, aku tidak memikirkannya dengan benar."


"Zayn?"


"Ya? Apa ada yang mau kau katakan?"


"Bagaimana perasaanmu setelah menikah denganku selama ini? Apa kau merasa bahagia?"


Zayn berbalik memandangku lamat, meraih kedua tanganku lalu meremasnya dengan lembut.


Lagi-lagi aku terpesona dengan sepasang obsidian karamel jernih milik Zayn yang begitu menawan, membuatku kian jatuh cinta kepada Ayah dari anakku itu.


"Jangan menanyakan hal bodoh seperti itu lagi, Ada. Kau tahu? Menikah denganmu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah aku rasakan. sampai detik ini, aku tak pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan kau sebagai istriku, Adaline."


"Terkadang aku takut, membayangkan masa depan Atreus bagaimana setelah kita tiada nanti, Zayn. Aku khawatir kehidupannya nanti tidak berjalan dengan baik seperti kehidupanku dulu," ucapku jujur sambil menatap lurus kepada Zayn dengan penuh kekhawatiran.


Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana sulitnya kehidupanku dulu sebelum bertemu dengan Zayn di hutan itu.


Bibirku melengkung ke bawah. "apa dia tidak akan menjadi bahan olok-olok karena ibunya seorang manusia?"


Zayn menggeleng. "tentu tidak, bangsa Elf tidak akan memperlakukan pemimpin mereka serendah itu. toh biar bagaimana pun Atreus adalah putra mahkota dariku langsung."


Angin yang berhembus cukup kencang membawa beberapa daun kering turut berayun di udara, membuat Atreus kian pulas dalam tidurnya.


Atreus sangat manis terlebih saat tidur, membuat rasa sayangku kepadanya semakin bertambah.


"Tidak usah memikirkan segalanya terlalu jauh, istriku. Sudah banyak hal yang harus kau urus maka sedikit bersantai itu tidak masalah," Zayn berkata sambil merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya.


Aku memejamkan mata, merasakan ketentraman di dalam benakku. Zayn yang kini seperti bukan ia yang dulu, lelaki dingin yang selalu memperlakukan aku sesuka hatinya.


Zayn sekarang jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat dulu baru pertama mengenalku, menjadi pribadi yang jauh lebih hangat baik kepadaku, anaknya mau pun rakyatnya terlepas dari status sosial mereka.


"Terima kasih sudah memberikan banyak kebahagiaan kepadaku, Zayn."


"Ya ampun, sudah kubilang berapa kali kalau kau tidak perlu mengatakan hal-hal yang tidak perlu?"


Entahlah Zayn, aku hanya terlalu bahagia menjadi istri sekaligus ibu dari anakmu.


Aku mohon, Tuhan, jagalah selalu rumah tangga dan keluarga kecilku ini agar senantiasa jauh dari segala macam kejelekan.


Dilain tempat...


"Tuan penasihat! Bukankah Anda bisa melihat itu? Yang mulia raja dan yang mulia ratu sangat harmonis!" seorang pengawal berseru heboh di balik pintu pagar, sibuk menyaksikan keromantisan Zayn dan Adaline.


Paman Elliott tertawa kecil. "ya, mereka memang sangat mesra dan selalu bisa saling menguatkan itulah yang dinamakan dengan cinta sejati."


"Apa Tuan Penasihat tidak merasa iri?" tanya pengawal yang lainnya, kali ini seorang perempuan.


"Sama sekali tidak, Nona. Aku menganggap mereka berdua seperti anakku sendiri, mendiang istriku juga pasti sangat bahagia melihat yang mulia raja kini menemukan pelabuhan hati yang tepat," Paman Elliott berujar bijak dengan senyuman menyejukkan hati khasnya.


"Tidak salah kalau yang mulia raja Zayn memilih Anda sebagai penasihat."


"Ya, tidak seperti raja sebelumnya yang sangat bodoh dan tamak, yang mulia raja yang sekarang selalu memikirkan rakyat lebih dulu."


"Kau benar, baik raja dan ratu semuanya sangat bijak dan penuh kasih."


Paman Elliott mengangguk setuju. "ya, mereka bahkan tanpa ragu mengorbankan kehidupan mereka yang sudah sangat mapan di dunia manusia demi keselamatan semua rakyat Elf di kerajaan ini. sebuah pengorbanan yang amat luar biasa."


Begitulah kehidupan Zayn dan Adaline serta rakyat dari kerajaan Elf yang kini perlahan namun pasti kian membaik. Bidang ekonomi kerajaan mereka terus mengalami peningkatan, belum lagi hal-hal lainnya yang juga turut meningkatkan kebahagiaan para rakyat.


Sepasang raja dan ratu muda itu begitu dicintai oleh rakyatnya karena segala perlakuan baik mereka tanpa memandang status sosial atau kekayaan seseorang.