Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 38 : Bertemu Para Elf



"Saya mengerti soal perasaan Anda berdua, Nona."


Ucapan Felix membuatku tersenyum simpul.


Pemuda itu lantas menyodorkan piring untukku, bermaksud menyuruhku untuk makan.


"Makanlah lebih dulu, Nona. Anak yang ada di dalam kandungan Anda pasti sudah sangat lapar," titah Felix sama seperti dugaanku.


"Bagaimana denganmu?"


"Saya akan pergi ke ladang untuk menghitung jumlah hasil panen. Saya akan kembali sebelum tengah hari," kata Felix sambil beringsut terburu-buru, keluar dari pintu belakang rumah.


Apa boleh buat. Aku hanya bisa menuruti perkataan Felix meski sebenarnya enggan untuk tidak melakukan apa pun seperti ini.


Dalam keheningan aku menikmati setiap suap dari makanan yang tersaji di depanku, rasanya begitu nikmat membuatku menghabiskan satu piring tanpa ragu-ragu.


Setelah makananku habis, aku lantas mencuci piringnya lalu mengembalikannya ke dalam kabinet piring seperti semula.


Kata Zayn rumah ini adalah milik Felix yang biasanya ia tinggali bersama Florence sang adik.


Karena kecantikannya yang amat menonjol, Florence beberapa bulan yang lalu dipaksa menjadi seorang pelayan oleh pihak kerajaan.


Malang sekali nasib gadis itu, terpaksa harus melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan karena ancaman dari pihak kerajaan yang keji.


Kakiku melangkah keluar dari rumah, mengedarkan pandanganku ke luar rumah mencari-cari sosok anak tampan bernama Atreus kemarin namun sayang dia tak nampak batang hidungnya.


Bibirku melengkung kebawah, sedih tak mendapati anak tampan itu di sekitar rumah.


Merasa tidak tahu harus melakukan apa, aku terus berjalan mengikuti jalan setapak yang ada di hadapanku.


Hamparan ladang gandum yang sangat luas menyapa pengelihatanku setelah aku berjalan tak begitu jauh dari rumah.


Ladang gandum itu sangat memanjakan mataku dengan warna kuning keemasannya yang begitu memukau pertanda panen akan segera tiba.


Aku terus berjalan hingga akhirnya aku mendapati beberapa orang Elf sedang sibuk bekerja di ladang sambil bercengkerama satu sama lain.


"Siapa kau?" tanya salah seorang Elf perempuan yang sudah mengangkat busur panahnya, mengarahkan senjata itu ke arahku.


Aku mengangkat kedua tangan. "ah, kalian bisa tanyakan saja pada Felix... Aku kemari bukan untuk tujuan yang buruk."


"Hei, turunkan busurmu, Viona!" Felix berteriak dari kejauhan sambil berlari menghampiri kami.


"Beliau adalah Nona Adeline, istri dari yang mulia Pangeran Zayn. Jangan sakiti beliau!" tambah Felix dengan napas tersengal-sengal setibanya ia di sebelahku.


Semua Elf yang ada di sini membelalakkan matanya tak percaya, memandang aku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


"Pangeran Zayn menikah dengan seorang manusia? Apa kau bercanda, Felix?" tanya Viona sinis.


"Apa kau tidak lihat betapa cantiknya Nona Adaline? Dia memiliki kecantikan yang bahkan membuat para dewi merasa iri," sahut Felix geram.


Apa ada larangan jika seorang Elf menikah dengan manusia di dunia Elf? Kenapa mereka memandangku dengan sinis seperti itu?


"Perlakukan Nona Adaline dengan baik, ini perintah yang mulia," tekan Felix kemudian.


"Apa boleh buat, karena Anda adalah istri dari yang mulia Pangeran Zayn yang rela kembali untuk negeri ini maka saya ucapkan selamat datang. Panggil saja saya Viona," ucap wanita Elf berambut putih itu masih dengan enggan.


"Apa yang bisa aku bantu untuk negeri ini?" tanyaku santun, mendudukkan diri di atas pondok kayu kecil di dekat jalan masuk menuju ladang gandum.


"Anda sungguh tidak perlu repot-repot, Nona. Kembalinya yang mulia Pangeran Zayn saja sudah menjadi angin segar bagi kami semua," ucap sang Elf pria yang sepertinya tertua di antara para Elf yang lain.


"Oh iya, panggil saja saya Jimmy," tambah sang Elf dengan seulas senyum.


"Memangnya apa yang terjadi dengan negeri kalian yang indah ini sampai-sampai aku banyak melihat Elf yang cantik serta tampan dengan wajah muram?" aku memberanikan diri bertanya, berusaha mengambil hati para Elf di sekitarku.


Jimmy menghela. "raja yang sekarang memerintah dengan sangat kacau. keadaan ekonomi kian memburuk, belum lagi banyak masalah sosial yang timbul akibat keputusannya yang lebih menguntungkan orang-orang kaya."


Viona tersenyum masam. "kira-kira begitulah masalahnya. hanya suamimu saja yang bisa menjadi solusi terbaik untuk memperbaiki kembali negeri ini seperti semula."


Aku mengangguk paham, mengulas senyum kepada mereka. "aku hanya bisa mendoakan semoga negeri ini bisa kembali makmur seperti sedia kala."


Diluar dugaanku pembicaraan kami malah berlanjut menjadi lebih panjang serta menyenangkan, mereka juga bahkan sampai penasaran dengan kehidupan aku dan Zayn di dunia manusia.


"Jadi kalian tinggal di kota? Apa yang kalian kerjakan jika tidak bercocok tanam seperti di sini?" tanya Felix penasaran setelah aku menjelaskan sedikit tentang kehidupan aku dan Zayn di kota.


"Kami bekerja untuk menghasilkan barang lain, bukan dalam bentuk tanaman seperti buah-buahan atau sayur-sayuran. Aku dan Zayn melakukan pekerjaan yang agak sulit kalau aku jelaskan," jawabku sedikit bingung menjelaskan makna perusahaan kepada mereka.


"Kurasa Zayn akan bisa menjelaskannya kepada kalian dengan lebih rinci," imbuhku.


"Yang mulia Pangeran Zayn memang sangat brilian, dia bahkan bisa hidup dengan sangat baik di negeri orang lain," puji Jimmy dengan seulas senyuman bangga.


Aku mengangguk setuju. "ya. Zayn dapat melakukan pekerjaan apa saja makanya aku bisa hidup dengan nyaman dan aman sebagai istrinya."


Melihat sedikit senyuman dari para Elf di depanku, aku semakin berharap langit kelabu yang menutupi bangsa ini akan segera berlalu.


Sayang sekali bila negeri seindah ini harus terpuruk lebih lama lagi.


"Saya tidak heran kenapa yang mulia Pangeran Zayn jatuh hati kepada Nona Adaline," Felix tersenyum penuh arti.


"Anda adalah pribadi yang apa adanya, cerdas serta menarik selain dari wajah yang cantik nan anggun yang Anda miliki," ucap Jimmy sambil terkekeh kecil, membuat Viona tersenyum kecut.


"Ayah bahkan tidak pernah memuji aku seperti itu," cibir Viona.


"Huh, ayah hanya mengatakan segalanya sesuai fakta. Cobalah untuk menjadi perempuan yang lebih anggun," balas Jimmy setengah menggoda anaknya.


Viona adalah gadis yang sangat cantik, hanya saja ia berpenampilan seperti laki-laki terlebih busur panah yang ada di punggungnya sukses membuat siapa pun gentar untuk mendekati dirinya.


Berbeda dengan wanita Elf lainnya yang anggun dengan rambut putih mereka yang panjang, Viona malah memotong rambutnya pendek sebahu membuatnya terlihat mencolok dibandingkan para wanita Elf lainnya.


"Apa Paman Jimmy tahu bahwa semua perempuan itu terlahir dengan warna kecantikan mereka tersendiri? Jangan paksa Viona untuk menjadi seperti orang lain," ucapku menyampaikan pendapat seraya tersenyum lembut.


Viona tersenyum tipis, sepasang netra tajamnya memancarkan sinar yang lebih lembut membuatnya terlihat lebih cantik.


Viona mengangguk, memandang Ayahnya dan aku bergantian. "baiklah, Ayah, aku setuju kalau Nona Adaline memanglah wanita yang luar biasa hingga berhasil merebut hati yang mulia Pangeran Zayn."