Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 29 : Manisnya Buah Kesabaran



Cakrawala maha luas tak bertepi di kota Kopenhagen nampak biru sama seperti saat musim semi sebelumnya. Udara terasa segar yang memenuhi paru-paruku pagi ini juga terasa begitu melegakan.


"Apa kau sudah siap?" Zayn bertanya padaku sembari mengulurkan tangannya.


Aku meraih tangan Zayn, menggenggamnya erat kemudian. "ya. aku yang seharusnya yang paling siap di sini."


Bersama Zayn aku kemudian masuk ke dalam gedung utama pengadilan negeri, tempat digelarnya sidang perdana atas pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Paman dan Bibiku atas Papa dan Mama.


Pihak kepolisian sudah mengamankan Josh dan Jocelyn Winters dengan bukti-bukti kuat yang sudah berhasil dikumpulkan membuat perasaanku terasa lebih lega.


"Mari masuk. Sidangnya akan segera dimulai," ucap Oliver Vebraack, pengacara sekaligus teman semasa kecilku.


"Anda membawa semua berkas yang diperlukan, bukan?" tanyaku memastikan.


Oliver mengangguk. "tentu saja, saya sudah mempersiapkan semuanya secara matang."


Beriringan kami bertiga masuk ke dalam ruangan sidang. Di dalam ruangan besar bernuansa putih itu sudah ada Louis dan juga Liam, salah satu jaksa penuntut umum dalam kasus ini.


"Duduklah, hakim akan segera datang dan sidang akan langsung di mulai," titah Liam setelah menyadari kedatanganku bersama Zayn dan Oliver.


"Kakak ikut serta dalam sidang ini?" aku bertanya penasaran, kenapa malah Liam ikut serta menjadi jaksa penuntut umum.


"Aku yang mengajukan kasus ini dengan susah payah, mana mungkin aku tidak melakukannya sampai akhir? Setidaknya aku harus memberikan tuntunan yang setimpal dengan perbuatan mereka yang seperti iblis itu."


Saat Hakim ketua dan Hakim anggota memasuki ruangan sidang, semua hadirin yang hadir berdiri dari tempat duduknya memberikan penghormatan.


"Hadirin harap duduk di tempat yang telah disediakan karena sidang akan segera di mulai."


...****************...


Hari ini sidang putusan vonis telah dilangsungkan dan berjalan dengan lancar tanpa satu kendala apa pun. Louis dan Liam benar-benar menepati janji mereka untuk mengawal kasus ini sampai Paman dan Bibiku berhasil di jebloskan ke dalam hotel prodeo.


"Apa kamu tidak mau bertemu dengan Paman dan Bibimu sebelum mereka dijebloskan ke dalam penjara?" tawar Louis sesaat setelah sidang akhir putusan berakhir.


Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pria itu hari ini nampak modis dengan kemeja slim fit berwarna hitam serta celana jeans biru muda yang melekat pada tubuh tegapnya.


Josh dan Jocelyn Winters dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara yang cukup membuatku lega, dan semua aset yang dulunya mereka nikmati serta bangga-banggakan kini kembali menjadi milikku.


Ya, hidupku sudah kembali ke posisi yang seharusnya berkat bantuan orang-orang baik di sekitarku.


"Boleh, Kak. tolong antarkan aku," balasku setelah menimbang sejenak.


Louis tersenyum, mengusap lembut puncak kepalaku. "adikku ternyata tetap saja menjadi keponakan yang baik terlepas dari apa yang sudah mereka lakukan."


Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum lantas berjalan beriringan bersama Louis menuju mobil tahanan yang hendak membawa Paman dan Bibi ke lapas yang sudah ditentukan.


Mobil tahanan itu masih berada di area parkir gedung utama pengadilan negeri, terlihat begitu mencolok dengan ukurannya yang besar.


"Lihat, mereka sedang digiring masuk," ucap Louis sambil mengedikan dagunya ke arah Paman dan Bibi yang sedang digiring masuk ke dalam mobil oleh dua orang petugas dengan borgol yang menghiasi pergelangan tangan keduanya.


"Bagaimana perasaan kalian sekarang, Paman dan Bibiku tersayang?" sapaan itu aku layangkan saat keduanya hendak masuk ke dalam mobil tahanan.


"Apa sekarang kau puas?" tanya Paman dengan air muka suramnya, memandangku nyalang.


"Kau pikir aku tidak bisa membalas semua ini?!" teriak Bibi murka.


Aku tersenyum simetris. "aku menunggunya dengan senang hati. Ngomong-ngomong apa aku juga perlu membawa kasus penggelapan dana yang kalian lakukan di perusahaan Papa ke meja hijau? Jangan kalian pikir aku tidak tahu semuanya."


"Kalau begitu sampai jumpa dua puluh tahun lagi, Paman dan Bibiku tersayang. Jika kalian merasa kurang dengan masa hukumannya, aku juga akan dengan senang hati menambahkannya karena kejahatan yang kalian lakukan semuanya sudah keterlaluan," imbuhku dengan senyuman dingin.


"Ayo pulang, Ada. Mereka harus segera dijebloskan ke penjara, bukan?" kata Louis dengan tutur kata lembut khasnya.


Aku mengangguk. "baiklah ayo pergi, Kak. aku juga sudah muak berhadapan dengan manusia iblis seperti mereka."


Seulas senyum dingin aku sunggingkan.


"sekali lagi sampai jumpa, dua puluh tahun lagi Paman dan Bibiku tersayang."


...****************...


Suara nyanyian burung terdengar merdu, menguar di segala penjuru hutan bagai nyanyian dari surga.


Suasana hutan yang tenang selalu berhasil membuat hatiku merasa tentram.


"Apa kau yakin akan kembali ke kota?" Zayn bertanya entah untuk yang ke berapa kalinya mengenai keputusanku untuk kembali ke kota.


Meski sejujurnya berat untukku tapi aku tidak memiliki pilihan lain selain tetap tinggal di kota dan mengelola semua bisnis milik orang tuaku.


Aku tersenyum sendu. "aku sungguh tak memiliki pilihan lain, surat wasiat orang tuaku menyatakan kalau aku adalah ahli waris mutlak yang harus mengelola semuanya."


Zayn mengulurkan tas besar berisi pakaian milikku.


"baiklah, aku mengerti."


Dahiku mengernyit. "memangnya aku tidak boleh lagi datang kemari sampai kau harus menyerahkan semua pakaianku seperti itu?"


Kedua netra jernih milik Zayn memandangku bingung. "lalu bagaimana kau akan berganti pakaian kalau semuanya ada di sini?"


"Aku sudah membeli semua kebutuhanku sebelum datang kemari," jawabku santai sambil bergelayut manja di lengan Zayn.


"Apa yang akan aku lakukan kalau kau kembali ke kota? Masa iya aku harus sendirian seperti orang yang menyedihkan lagi?"


Zayn nampak seperti orang linglung, memandangku dengan sorot mata yang begitu sendu seolah tak ingin berpisah denganku.


Terlepas dari sikapnya yang terkadang jauh lebih dingin ketimbang gunung es di kutub selatan, Zayn tetaplah kekasih yang sangat aku cintai jadi berpisah dengannya juga bukanlah hal yang mudah bagiku.


"Kau bisa datang padaku kapan saja jika merindukan aku," balasku yang sudah mulai menangis dalam pelukan Zayn.


Mau bagaimana pun juga aku sudah benar-benar jatuh cinta kepada Zayn. Berpisah dengannya bukanlah persoalan mudah seperti yang barusan aku katakan, pria Elf itu juga nampaknya tidak setuju dengan perkataanku barusan.


"Kau tidak perlu membohongi perasaanmu seperti itu. aku tahu dengan jelas bahwa kau tidak akan bisa melakukan itu dalam waktu yang lama," ucap Zayn yang kali ini terdengar begitu memilukan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Di sisi lain aku bahagia bisa mendapatkan semua yang sudah seharusnya menjadi hak milikku kembali tetapi aku juga tidak mau berpisah denganmu..." lirihku di depan dada bidang Zayn yang selalu bisa memberikan kenyamanan luar biasa untukku.


"Dari pada kita berpisah, aku punya solusi yang jauh lebih baik," Zayn berujar dengan seulas senyum sukses membuatku bertanya-tanya dalam hati.