
Tanpa pikir panjang, Tuan White mengangguk.
"ya, aku akan melakukannya. demi keadilan orang tuamu dan kebahagiaan anak dan istriku di surga. kalian hanya perlu kemari kapan saja jika membutuhkan bantuan dariku."
Perasaan lega memenuhi hatiku tatkala Tuan White mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan. Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang memakan banyak waktu serta tenaga ini dapat berbuah manis.
"Apakah Anda yakin akan benar-benar berpihak kepada kami, Tuan White?" tanyaku memastikan.
Pria itu mengangguk mantap, meraih tanganku dan menjabatnya. "demi keadilan yang telah tersamarkan selama bertahun-tahun saya akan melakukannya dengan sebaik-baiknya."
"Terima kasih banyak, Tuan... terima kasih," ucapku penuh syukur, membuat Zayn dan Tuan White tersenyum.
"Sama-sama. Kalian hanya perlu memberi kabar padaku kalau sidangnya akan segera dimulai," tutup Tuan White dengan seulas senyum yang belum memudar.
Aku kembali mengucapkan syukur, bahagia akhirnya perjuanganku selama ini akan segera membuahkan hasil. Aku dan Zayn lalu pamit undur diri kepada Tuan White, bergegas pulang untuk kembali mengatur rencana agar dapat menjerat Paman dan Bibiku segera ke dalam penjara.
Aku benar-benar tidak sabar mengantarkan mereka ke dalam kehidupan yang penuh penderitaan seperti yang pernah aku rasakan dulu agar apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu terhadap kedua orang tuaku dan aku mendapatkan balasan yang setimpal.
...****************...
"Bagaimana kata Louis?" Zayn bertanya setelah aku keluar dari kantor Louis usai menjelaskan kesediaan Tuan White untuk menjadi saksi.
"Louis bilang dia akan langsung melimpahkan berkasnya ke kejaksaan hari ini juga dibantu dengan Liam. Jadi kita hanya perlu menunggu sambil mengatur rencana yang lebih matang," aku menjelaskan dengan seulas senyum lega yang terpatri di wajahku, membuat Zayn tersenyum tipis.
"Aku senang kerja kerasmu selama ini akan membuahkan hasil yang manis," balas Zayn sambil merangkul bahuku.
"Ngomong-ngomong, bagaimana soal pengacara kedua orang tuamu dulu? Apa mereka masih hidup?" tanya Zayn sambil menyelaraskan langkahnya denganku.
"Louis bilang dia sudah meninggal satu tahun yang lalu, anaknya pun tak ada yang bekerja di bidang yang sama," jawabku sedikit lesu, mengingat pengacara itu mengetahui banyak hal seputar kehidupan keluargaku baik dari segi bisnis mau pun secara personal.
"Tapi kau tenang saja, Liam dan Louis sudah menyiapkan pengacara yang sangat bagus untuk membantumu dalam sidang nanti," kata Zayn dengan seulas senyum hangat, begitu berbeda dari sosoknya yang selama ini sangat dingin.
"Benarkah?"
"Ya. Kabar baiknya lagi pengacara itu adalah keponakan dari pengacara orang tuamu dan dia juga mengetahui soal kejanggalan dalam kecelakaan itu," Papar Zayn membuatku teringat kepada seorang bocah laki-laki yang dulu sering dibawa oleh Tuan pengacara bertandang ke rumahku atau kantor Papa.
"Oliver? Apa benar dia jadi mengikuti jejak Pamannya?" aku terkekeh geli mengingat bagaimana kelakuannya waktu kecil dulu.
Ya, bisa dibilang aku cukup banyak menghabiskan waktu bersama Oliver yang berusia lima tahun lebih tua dariku. Tak kusangka dia betul-betul menjadi seorang pengacara sukses walau saat masih kecil dia begitu pemalu.
Zayn mengangguk. "betul. Oliver Vebraack yang akan menjadi pengacaramu di sidang nanti, dan dia juga siap membawa semua berkas milik orang tuamu yang ada di kantor Pamannya dulu termasuk surat wasiat yang ditulis langsung oleh Papamu dulu."
Senyumku merekah, seiring dengan sinar mentari yang perlahan mulai bertukar warna menjadi jingga. Zayn masih setia merangkul bahuku, menemani perjalananku sekali lagi tanpa pamrih.
"Aku lega karena di dunia ini ternyata masih ada orang baik," ucapku seraya memandang ke arah sungai Sont yang juga nampak memantulkan cahaya jingga dari sang mentari.
...****************...
Langit malam ini juga sepertinya menyesuaikan diri dengan kebahagiaanku hari ini, terbukti dengan terangnya sang rembulan bertemankan taburan bintang yang begitu cantik.
Dari atas balkon, berdua dengan Zayn ditemani segelas coklat hangat di tangan masing-masing kami menikmati panorama itu.
"Orang tuamu sepertinya benar-benar bahagia sampai menyajikan keindahan seperti ini untukmu," bisik Zayn tepat di telinga kananku.
Aku terkekeh, berdiri dalam diam di pelukannya.
Zayn memelukku dari belakang dengan begitu hangat, menghalau semua rasa dingin yang datang menghampiri.
"Terima kasih, Papa dan Mama. Tapi kalian juga harus berterima kasih kepada Zayn yang selama ini selalu membantuku untuk menuntaskan kasus kalian. Aku harap kalian juga bersedia membantuku untuk melancarkan kasus ini sampai selesai, ya," ucapku sambil memandang ke arah langit, berharap Papa dan Mama mendengar apa yang aku katakan.
Aku memang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari mereka tapi aku yakin mereka bisa melihatku dari surga sekarang.
"Zayn, apa kau tidak merindukan orang tuamu?" tanyaku spontan saat melihat Zayn memandang kosong ke arah langit.
"Meski pun Ayahku mungkin tak sehangat Papamu, tapi aku tetap merindukan dia sebagai seorang anak. Begitu pun dengan Ibuku, aku sungguh ingin bertemu dengan mereka jika diberikan kesempatan."
Aku dan Zayn memang berada di posisi yang sangat sulit, harus tumbuh tanpa didampingi oleh orang tua. Terlebih Zayn yang kala itu adalah seorang pangeran, pewaris tahta tunggal kerajaan Elf tempatnya berasal.
Tubuhku berbalik, aku menyandarkan dahiku di atas dada bidang Zayn, menikmati aroma tubuhnya yang begitu memabukkan. Kedua tanganku dengan lembut mengusap punggung lebar milik Zayn, berusaha menghibur pria itu karena aku tahu betapa terluka dirinya saat ini.
Berbeda denganku yang mudah mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, Zayn cenderung kesulitan untuk melakukannya dan lebih memilih untuk diam memendam segalanya.
"Aku tidak apa-apa, sungguh," imbuh Zayn setelah kurasa berhasil membaca pikiranku.
Aku tersenyum. "andai waktu itu aku dan Oli tidak mencari kayu bakar sampai kemari, kurasa kita tidak akan pernah bertemu."
Zayn melonggarkan pelukannya, menurunkan pandangannya kepadaku.
"jika itu tidak terjadi maka aku tidak akan pernah jatuh cinta pada kedua netra sebiru kristal milikmu ini, Adaline."
Kedua tanganku terulur, menangkup rahang tegas milik Zayn dengan lembut.
"dan aku juga tidak akan mungkin jatuh cinta pada Elf yang sangat tampan ini. agaknya kita harus berterima kasih kepada Oli yang sudah membuat kita bisa saling memandang seperti ini."
Zayn tanpa seizinku lantas melahap bibirku tanpa ragu, begitu lembut dan terasa manis membuat kedua lututku terasa lemas tak bertenaga, begitu menikmati sentuhannya yang selalu sukses membuatku jatuh cinta kepadanya lebih dalam lagi dan lagi setiap detiknya.
Aku tidak peduli apa pun yang akan aku hadapi di depan nantinya, yang aku tahu hanya kekuatan cintaku dan Zayn dapat mengalahkan segalanya.