Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 54 : Pergantian Musim



Author POV


Hari berganti menjadi bulan, bulan pun berganti menjadi tahun tanpa terasa.


Musim datang silih berganti, lambat laun akhirnya berhasil membawa kemakmuran bagi kerajaan Elf.


Kesengajaan sosial bahkan tidak terasa di negeri itu, sebuah keistimewaan yang tidak akan banyak di temukan di tempat lain.


Kini Raja Zayn dan Ratu Adaline telah resmi turun dari jabatan ekslusif mereka satu tahun yang lalu, digantikan oleh sang putra mahkota, Atreus Adelard di usianya yang kala itu tepat menginjak dua puluh tahun.


Sama halnya dengan kakek dan ayahnya, Atreus berhasil mendapatkan kepercayaan serta kasih sayang rakyat berkat sikapnya yang selalu rendah hati nan santun.


Selain diberkahi dengan wajah yang setampan dewa, Atreus juga sangat cakap dan berwibawa lengkap dengan berbagai bakat mumpuni yang ia miliki.


Atreus juga berhasil membuat banyak kebijakan yang pro rakyat, kian membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik terutama bagi para petani dan pedagang kecil.


Bakat seni, beladiri bahkan sastra, Atreus menguasai semuanya dengan baik berkat didikan baik dari kedua orang tuanya.


Bahkan, Atreus lulus dari akademi dengan nilai paling tinggi di negerinya dengan segudang prestasi.


Meski belum memiliki seorang permaisuri, Atreus tetap mampu menjadi raja yang sangat baik di usianya yang masih muda.


Wajar saja, banyak dari bangsawan terpandang yang berusaha menjodohkan putrinya dengan Atreus sang raja muda yang diberkahi oleh begitu banyak bakat.


"Salam, yang mulia raja. Ada apa gerangan Anda memanggil saya?" tanya Felix setibanya ia di depan singgasana raja tempat Atreus menunggu kedatangannya.


"Tolong antarkan aku ke dunia manusia, Paman Felix. Aku sudah sangat merindukan Ayah dan Ibu setelah sekian lama tak berjumpa dengan mereka," jawab Atreus dengan kejujuran.


Sudah beberapa bulan berlalu, namun ia belum sempat mendatangi kedua orang tuanya di dunia manusia karena kesibukannya mengurus berbagai urusan negara.


Setelah turun tahta dengan damai, Zayn dan Adaline memutuskan untuk kembali tinggal di dunia manusia tempat sang mantan ratu berasal.


Pasangan suami istri itu sepakat untuk menghabiskan masa tua mereka, meski kini mereka belum terlalu tua, di dunia manusia untuk mengurus bisnis peninggalan orang tua Adaline yang masih terus berjalan dengan baik.


"Baiklah, yang mulia. Saya akan langsung menyiapkan kereta kuda sekarang juga. Kapan Anda ingin berangkat?"


"Aku mau berangkat malam ini, Paman. tolong persiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan."


"Baik, yang mulia. Saya akan mempersiapkan kereta kuda terbaik untuk berangkat malam ini."


Felix lantas pamit undur diri, beringsut menuju kandang kuda untuk mencari kuda terbaik yang bisa dipakai untuk keberangkatan mereka ke dunia manusia nanti malam.


Di dunia Elf, sekarang sedang musim semi.


Para Elf di kerajaan ini baru memulai musim panen buah persik mereka minggu lalu, mengingatkan Atreus kepada kedua orang tuanya yang sangat menyukai buah persik.


Pemuda itu sudah membeli beberapa kilogram buah persik hasil perkebunan milik warganya sebagai buah tangan untuk Ayah dan Ibunya.


Hari ini Atreus memiliki cukup banyak waktu senggang usai berlatih seni beladiri dan pedang bersama para jenderal, jadi ia memilih untuk sedikit beristirahat sejenak.


Setelah Atreus naik tahta, ia memperkuat struktur militer kerajaan dan merekrut banyak pemuda tangguh untuk menjadi prajurit baru.


Sementara Felix, ia naikkan jabatannya menjadi jendral sekaligus ajudan yang selalu menemani kemana pun Atreus pergi.


Kehidupan di kerajaan kini sudah menjadi jauh lebih baik. Atreus lega bisa menciptakan kehidupan yang nyaman dan tentram bagi seluruh rakyatnya.


"Ayah, Ibu, aku akan mampir untuk pulang sebentar lagi," gumam pemuda itu sambil memandang ke luar jendela besar istana.


...****************...


Jalan terjal yang dilalui oleh Atreus malam ini tak menjadi penghalang bagi mereka untuk bergegas menuju dunia manusia.


Bersama seorang sais kepercayaan Atreus, mereka berangkat dengan berbagai macam oleh-oleh dari negeri Elf yang memang dibeli langsung oleh Atreus beberapa hari sebelum tanpa sepengetahuan orang lain.


Sebagai anak semata wayang, Atreus memang mendapatkan limpahan kasih sayang luar biasa dari Ayah dan Ibunya hingga ia pun juga sangat menyayangi kedua orang tuanya.


"Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Dulu, Duke Zayn dan Duchess Adaline datang ke rumah saya pertama kali saat tiba di kerajaan. Kala itu, Duchess Adaline sedang mengandung Anda, yang mulia," Felix mulai bercerita mengenang masa lalu saat rintik hujan gerimis mulai turun, nampak dari jendela kereta kuda.


"Benarkah itu Paman? Apa Ibu mengalami kehamilan yang sulit?" Atreus bertanya khawatir.


"Saya rasa itu memang cukup sulit untuk Duchess Adaline, mengingat waktu itu dia bahkan belum berusia dua puluh tahun dan harus menempuh perjalanan jauh serta berbahaya seperti ini saat sedang hamil besar," tutur Felix setelah menyalakan cerutunya.


"Dan lagi, kerajaan sedang dalam kondisi yang buruk kala itu. Namun, berkat kegigihan dan kerja sama yang baik diantara Duke Zayn dan Duchess Adaline setelah menjadi raja dan ratu mereka berhasil menjadikan kerajaan kita menjadi seperti surga," sambung Felix.


"Tidak heran orang-orang selalu memuja Ayah dan Ibu, selalu mengatakan hal baik tentang mereka," Atreus berujar dengan senyuman bangga.


"Iya, yang mulia. Selain sukses menjadi raja dan ratu yang luar biasa mereka juga berhasil menjadi pasangan yang sangat romantis dan penuh kasih sayang tak jarang membuat kami para prajurit merasa iri," terang Felix, kembali mengenang masa-masa awal kepemimpinan pasangan raja dan ratu sebelumnya.


Atreus tersenyum. "Ayahku memang dingin, tapi dia tetap memperlakukan Ibu dengan sangat romantis."


Felix tergelak kemudian. "terkadang saya juga merasa heran, yang mulia. beliau memperlakukan kami sangat dingin seperti sedang berhadapan dengan gunung es namun saat istrinya datang ia seolah berubah menjadi seekor anak kucing yang menggemaskan."


Langit kelam yang menaungi mereka malam itu penuh bintang meski tanpa kehadiran sang rembulan mau pun awan.


Bertemankan hujan gerimis, kereta kuda terus melaju mengoyak kesunyian malam di jalanan terjal kaki perbukitan perbatasan dunia Elf dan dunia manusia.


Walau sedang terbungkus dalam kegelapan, panorama indah yang terbentang itu tetap nampak walau samar.


Meski jalannya terjal serta berbahaya, namun keindahan panorama yang terbentang di sepanjang jalan selalu bisa membuat Atreus merasa senang.


Atreus terkekeh geli. "begitulah orang tuaku, aku bersyukur terlahir menjadi anak mereka. meski berasal dari dua ras yang berbeda mereka berdua selalu bisa saling melengkapi satu sama lain."


Agaknya Tuhan memang mengabulkan doa tulus dari Adaline perihal kebahagiaan keluarga kecilnya yang bahkan selalu terjaga dengan baik sampai saat ini.