Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 37 : Kehidupan di Dunia Elf



"Kita akan menyusun siasat terbaik bersama-sama. Tetapi selain siasat, aku juga harus mengajarkan istriku bagaimana caranya memanah," pungkas Zayn serius.


Apa?! Aku jelas kaget bukan kepalang, sama sekali tidak terpikir olehku bahwa Zayn akan berkata demikian. Memanah katanya? Yang benar saja!


"Apa tidak terlalu berbahaya untuk istri Anda, yang mulia?" tanya Paman Elliott khawatir.


Melihat kandunganku yang kian membesar, kekhawatiran Paman Elliott tentu saja sangat berdasar dan wajar.


"Aku hanya akan mengajarkan cara yang mendasar kalau-kalau nanti dibutuhkan, Paman. Aku mana mungkin menyuruh istriku pergi bertarung ke medan perang," sahut Zayn yang semakin membuat aku bergidik ngeri.


"Selagi aku tidak terluka dan mati maka tidak masalah," ucapku sarkas membuat semua orang tertegun tak percaya.


"Kenapa? Bukankah itu perintah engkau, wahai suamiku?" tanyaku sebal kepada Zayn yang memandangku heran tanpa berkedip.


"Tapi aku tidak mengharapkan kau mati," sanggah Zayn sambil memijat pelipisnya.


"Ya sudah. Maka aturlah siasat kalian aku akan mengikutinya selagi kalian tidak menyuruhku mati," pungkasku cepat, kemudian berlalu keluar dari rumah enggan berdebat lebih lanjut dengan Zayn.


Dalam diam aku duduk di halaman depan rumah, mengamati gerak-gerik para Elf yang berlalu lalang di depan rumah. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang terbang membuat langit terlihat begitu ramai dengan para Elf.


Seperti yang aku lihat sebelumnya, air muka para Elf nampak muram membuatku bersimpati memikirkan agaknya apa yang menjadi permasalahan di dunia Elf yang sangat indah ini.


"Selamat sore, Nona. Apakah Anda seorang manusia?" tanya seorang Elf laki-laki kecil berwajah manis dengan senyum malu-malu.


Anak Elf itu terlihat sangat menggemaskan dan tampan membuat aku tak ragu-ragu menjawab pertanyaan polosnya.


"Iya. Aku manusia biasa tapi suamiku adalah seorang Elf," jawabku dengan seulas senyum.


"Wah, itu luar biasa sekali! Nona, kenalkan namaku Atreus. Siapa nama Anda?"


"Senang bertemu denganmu, Atreus. Namaku Adaline. nanti sering-seringlah mampir kemari ya."


Anak Elf yang tampan itu tersenyum.


"dengan senang hati, Nona Adaline. kalau begitu saya permisi dulu."


Jadi namanya Atreus? Entah mengapa aku merasa sangat ingin melahirkan anak laki-laki setelah melihat wajah Atreus yang amat rupawan.


Rasa bimbang juga terbesit dalam benakku, akankah anakku bisa memiliki rupa yang istimewa seperti ayahnya?


...****************...


"Nona, apa Anda mau mencoba belajar memasak dengan sihir?" tawar Felix setelah Zayn dan Paman Elliott pergi ke istana kerjaan.


Aku menggaruk tengkuk tidak yakin.


"apa aku boleh melakukannya?"


Felix mengangguk. "ya, tentu saja. jika anda mau saya akan dengan senang hati mengajari anda."


Aku mengangkat kedua bahu.


"aku tidak yakin seorang manusia biasa dapat melakukan sihir seperti yang para Elf lakukan."


Tangan Felix dengan terampil memotong sayur-sayuran yang telah ia cuci sebelumnya. Sayuran yang ada di sini pun sedikit berbeda dengan yang setiap hari aku jumpai di dunia manusia.


Buah dan sayur di dunia Elf memiliki ukuran yang jauh lebih besar, cukup membuatku kaget saat pertama kali melihatnya tadi pagi.


"Anda bisa melakukannya jika Anda mau. Apa selama ini yang mulia tidak pernah memasak di depan Anda?"


"tentu saja aku sering melihat Zayn memasak, cara dia memasak juga sama saja seperti manusia kebanyakan makanya aku tidak menyangka kalau Elf biasa memasak menggunakan sihir."


"Bagaimana dengan rasa makanan yang dibuat oleh yang mulia?" tanya Felix dengan seulas senyum penuh misteri.


"Sangat nikmat... Aku tidak pernah makan makanan senikmat yang dibuat oleh Zayn," paparku jujur, mengakui masakan Zayn adalah makanan yang paling lezat yang pernah aku makan.


"Nah, jadi poin utama yang saya maksudkan mengenai sihir di sini adalah mengenai rasa masakannya. Kami para Elf memasak dengan campuran sihir khas, bisa tolong pinjamkan telapak tangan Anda?"


Aku membuka kedua telapak tanganku mengikuti instruksi dari Felix, sementara pemuda itu menggosokkan kedua telapak tangannya di atas tanganku yang terbuka.


Secara ajaib, muncul serbuk-serbuk kecil berwarna emas yang keluar dari gesekan tangan Felix yang kemudian jatuh ke atas telapak tanganku.


"Bubuk emas ini adalah rahasia kenikmatan masakan kami, bangsa Elf. Anda bisa mencampurkan bubuk emasnya ke dalam masakan Anda," jelas Felix.


Aku mengangguk, menuangkan bubuk emas yang ada di telapak tanganku ke dalam masakan yang sedang kami buat. Aroma wangi yang begitu menggugah selera langsung menguar begitu bubuk emas bercampur dengan bahan masakan.


Aku memandang panci yang berisi masakan dengan tatapan takjub.


"luar biasa! tapi kenapa aku tidak pernah melihat bubuk emas saat Zayn sedang memasak untukku?"


"Sederhana, itu artinya yang mulia langsung memasukkan bubuk emasnya ke dalam bahan makanan tanpa mengeluarkannya lebih dahulu," terang Felix sambil mengangkat panci dari tungku, memindahkannya ke atas meja makan.


"Wah, bisa begitu?" tanyaku antusias.


Felix mengangguk. "ya, Nona. hanya Elf dengan kekuatan magis luar biasa saja yang bisa melakukannya dan yang mulai Pangeran Zayn adalah orangnya."


Aku tidak begitu kaget kalau Zayn adalah seorang pangeran mengingat rupanya yang begitu cocok dengan gelar kehormatan seperti itu, tapi apa katanya? Orang dengan kekuatan magis luar biasa? Ini cukup membuatku kaget!


"Mungkin Anda juga sudah melihatnya, bahwa yang mulia juga mampu mengubah bentuk hewan menjadi sesuai keinginannya," tambah Felix, menjelaskan lebih dalam tentang Zayn dengan penuh minat.


Aku mengangguk. "dia mengubah dua ekor tikus menjadi kuda hitam yang gagah di depan mataku saat kami hendak menuju kemari."


Felix menghela lantas tersenyum sendu.


"maka dari itu, Nona, kami para Elf membutuhkan yang mulia Pangeran Zayn untuk menyelamatkan kami semua dari penderitaan ini."


"Aku mengerti mengapa kalian mengandalkan suamiku, Felix. Aku juga mengerti bagaimana perasaanmu dan para Elf lainnya jadi kau tak perlu risau, lakukan saja apa yang sudah menjadi siasat kalian dengan sebaik-baiknya," kataku seraya menepuk samar bahu lebar milik Felix.


"Bisakah Anda memberitahu saya satu hal, Nona?"


"Katakan apa itu, Felix?"


"Mengapa Anda memutuskan untuk menikah dengan yang mulia Pangeran Zayn yang jelas Anda tahu bahwa dia bukanlah seorang manusia?"


Aku tersenyum, mengenang kembali masa di mana aku terus terjatuh dalam pesona seorang Elf bernama Zayn Adelard sang pangeran Elf hingga menerima lamarannya tanpa pikir panjang.


"Bukanlah hal yang rumit, dia mencintai aku dan aku mencintai dia. Setelah yakin bahwa kami saling mencintai, Zayn melamarku lalu kami menikah," jelasku singkat masih dengan senyuman yang tersungging.


"Tapi saya rasa alasannya bukan hanya itu," kata Felix curiga membuatku terkekeh.


"Ya. Kau tahu? Zayn adalah satu-satunya sosok yang mau berada di sisi seorang anak sebatang kara seperti diriku ini. Aku tak tahu apa jadinya jika Zayn dan aku tidak bertemu hari itu."


"Seperti yang mulia Pangeran Zayn mencintai Anda, Anda juga ternyata mencintai beliau dengan begitu tulus dan dalam. Saya merasa sangat lega sekaligus senang mendengarnya."


Aku tersenyum. "tentu saja, aku mencintai Zayn Adelard suamiku bukan karena dia adalah seorang pangeran dari bangsa Elf. ya... walau kadang kami sering bertengkar untuk hal-hal yang tidak perlu tapi kami sebenarnya sangatlah saling mencintai."


"Saya mengerti soal perasaan Anda berdua, Nona."