
"Dan aku yakin, mereka berdua akan sangat bangga padamu yang sudah berusaha keras untuk mengungkap kasus ini."
Ucapan Zayn membuatku menghela panjang dibalik seulas senyum tipis mengingat bagaimana kedua orang tuaku tersenyum semasa mereka hidup.
Sepasang suami istri yang dulu mati-matian berjuang untuk kebahagiaan serta kehidupan layak untukku, mana mungkin aku diam saja disaat seperti ini? Kedua kelopak mataku menutup sekejap, berusaha mengusir rasa putus asa yang mulai merayapi benakku.
"Aku tidak akan menyerah sampai kita berhasil menjebloskan pelakunya ke dalam penjara, Zayn. sampai kapan pun aku akan selalu memperjuangkan kebenaran untuk Papa dan Mama," aku berujar mantap.
"Bagus. kalau begitu kita harus lebih bersemangat lagi mulai sekarang tapi jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu," kata Zayn memperingatkan aku, mengingat sepekan belakangan aku makan dengan sangat tidak teratur.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan Zayn bertukar cerita atau lebih tepatnya Zayn yang lebih banyak mendengarkan berbagai cerita random yang aku ceritakan mulai dari kejadian lucu hingga kejadian yang cukup membuatku malu pada masanya.
Rintik hujan gerimis mulai turun tatkala sepeda motor yang dikendarai oleh Zayn berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan desa terakhir menuju hutan.
Tiupan angin yang semakin kencang membuat Zayn tak memiliki pilihan lain selain menarik gas sepeda motornya lebih dalam lagi agar bisa segera tiba di mansion sebelum hujan semakin deras.
Tanpa aba-aba, Zayn menarik kedua pergelangan tanganku ke pinggangnya sesaat setelah menambah kecepatan sepeda motornya membuatku merasa seperti sedang dibonceng oleh seorang pembalap profesional.
"Pegangan yang erat jika kau tidak mau terjatuh," titah Zayn --yang sepertinya juga tidak membutuhkan persetujuan dariku.
Semakin deras air hujan yang turun membasahi bumi, makin dalam pula Zayn menarik tali gas sepeda motornya membelah kesunyian jalan setapak di hutan petang ini.
Sungguh, aku merasa jantungku seperti mau copot dibuat oleh Zayn!
"Zayn, apa kita sedang dikejar oleh malaikat maut?!" tanyaku gemas pada Zayn yang tak juga kunjung mengurangi kecepatan sepeda motornya.
Pria itu hanya terkekeh, hingga akhirnya sepeda motor yang kami tumpangi berhasil masuk ke pekarangan mansion Zayn.
Tanpa pikir panjang aku langsung turun dari sepeda motor itu, mengabaikan Zayn dan beringsut menuju kamar tempatku biasa tidur saat menginap di mansion ini.
Merasa pakaianku lembab tanpa pikir panjang aku lantas beranjak menuju lemari untuk mengambil pakaian lain untuk berganti.
Tetapi pergerakanku terhenti setelah kedua tangan Zayn mengunci tubuhku di depan pintu lemari, dengan bingung aku memandang pria yang kini sudah berjarak kurang dari dua puluh sentimeter dariku itu.
"Apa yang kau lakukan?" aku bertanya dengan bingung sekaligus heran, terlebih kini Zayn sedang memamerkan keindahan tubuh bagian atasnya tanpa menutupnya dengan sehelai benang pun.
"Mencari kehangatan tentu saja," balas Zayn dengan suara rendahnya yang sukses membuat bulu romaku meremang serta darahku berdesir.
Jantungku rasanya menggila, pikiranku kehilangan kewarasannya setelah aku menyadari bahwa dada Zayn sungguh bidang dengan otot perut yang terbentuk dengan begitu sempurna.
Sungguh bukanlah pemandangan indah yang bisa aku tolak begitu saja walau aku menikmatinya dengan pipiku yang rasanya sama panasnya dengan suhu api unggun.
Jemari Zayn perlahan-lahan bergerak, menurunkan mantelku yang sudah lembab terkena air hujan.
Wajah tampan milik Zayn nampak merah padam dengan tatapan yang seolah-olah begitu menginginkan diriku dalam gelora asmara yang begitu membuncah.
Dengan lembut Zayn meraih daguku, ******* bibirku dengan begitu lembut hingga aku benar-benar kehilangan akal sehatku.
...****************...
Mataku belum sepenuhnya terbuka saat aku menyadari ada sesuatu yang hangat menempel di punggung dan perutku, membuat mataku kontan terbelalak tak percaya.
"Apa yang kulakukan semalam?!" aku berseru panik saat mengintip ke dalam selimutku dan mendapati sepasang tangan kekar tengah melingkar di pinggangku dan itu sudah tentu milik Zayn.
Perlahan aku berbalik, mengamati sepasang mata indahnya yang masih terpejam dengan begitu damai bagai seorang malaikat.
Sepasang alis tebal serta bulu mata Zayn yang panjang nan lentik selalu sukses membuatku jatuh ke dalam pesona pria yang tidak satu ras denganku itu, membuatku selalu kehilangan akal sehatku.
"Apa aku berdosa jikalau aku mencintaimu, Tuan Elf? ah, habisnya kau terlalu mempesona," aku tersenyum tipis sambil menyugar helaian rambut lebat Zayn menggunakan jari-jariku.
Rahang Zayn yang begitu lurus nan tegas membingkai wajah rupawan miliknya, menambah nilai ketampanan serta pesona miliknya yang selalu sukses menyebabkan aku semakin jatuh dan jatuh ke dalam pesona seorang Zayn Adelard yang begitu memabukkan.
"Aku bisa menyamar menjadi manusia dan menikahimu sekarang juga jika kau mau, Adeline Serendipity Winters," balas suara parau milik Zayn meski kedua mata pria itu masih terpejam.
Aku tersenyum kecut. "bicaramu jadi melantur sekarang,"
Zayn lantas bangkit dari posisi tidurnya, menutupi seluruh tubuhku yang masih polos tanpa sehelai benang pun dengan selimut.
"aku tidak bercanda soal itu. aku sudah merenggut apa yang sepatutnya kau jaga, maka aku harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku perbuat padamu."
"Kau bisa melakukannya karena aku juga menginginkannya," tukasku cepat. "jadi kau tidak perlu merasa terbebani seperti itu karena pernikahan bagiku adalah sesuatu yang sakral, tidak bisa dilakukan secara terpaksa."
"Kenapa kau masih juga tidak mengerti apa maksudku?" Zayn mengacak rambutnya frustasi.
"Apa maksudmu?"
"Apa yang kau pikirkan sampai kau sama sekali tidak bisa merasakan betapa besar perasaanku padamu, Nona Winters?"
"Tapi--"
"Ya. aku tahu, kau manusia dan aku adalah seorang Elf. itu yang selama ini kau takutkan, bukan? kau tahu betapa aku tidak peduli soal asal-usulmu?"
Aku tertunduk mendengar pengakuan dari Zayn yang dia utarakan dengan tegas itu.
Lidahku rasanya kelu, tak mampu berkata apa-apa meski sejujurnya aku sangat ingin mengatakan betapa aku juga menginginkan dirinya.
"Maaf jika caraku menyatakan perasaan sangat buruk seperti ini. tapi satu hal yang perlu kau tahu bahwa aku tak akan pernah membiarkanmu memikul semua beban berat itu seorang diri lagi."
Perkataan Zayn lagi-lagi membuat pertahanan dalam benakku runtuh. Buru-buru aku merengkuh tubuh tegap itu, tidak ingin siapa pun dapat memeluknya selain diriku.
Zayn menangkup wajahku dengan kedua tangannya, memandang mataku lurus penuh peneguhan.
"setiap hari, setiap jam, menit dan detik aku selalu jatuh cinta padamu, Adaline Serendipity Winters. jadi kumohon bisakah kau terus disini? berada di sisiku dalam kondisi apa pun."
Aku yang tak mampu membalas permintaan manis dari Zayn hanya bisa membalasnya dengan sebuah kecupan yang tak kalah manisnya.
Mulai hari ini, jam ini, menit ini serta detik ini aku dengan sepenuh hati akan selalu mencintai Zayn Adelard apa pun dan bagaimana pun kondisinya.