Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 10 : Langit Kelam Kopenhagen



Mata Zayn memicing, tatapan matanya kini berubah menjadi begitu tajam seperti sebuah pedang. "beraninya kau berkata seperti itu setelah mengambil semua hak miliknya!"


Suara Zayn terdengar begitu lantang menghantarkan emosinya seolah suaranya mampu mengoyak gendang telinga.


Sorot matanya berapi-api menggambarkan emosi meledak-ledak memandang Paman yang tangannya bahkan dihempaskan begitu saja oleh Zayn dengan tenaga yang cukup kuat.


Aku terkejut sekaligus takut kalau-kalau Zayn sampai menghadiahi Paman dengan bogem mentah, sungguh reaksi Zayn jauh dari ekspektasi awalku.


Pria yang tadinya kukira cuek dan dingin itu malah berubah menjadi sangat emosional cukup membuatku tak menyangka bahwa dia akan bersikap seperti itu.


"Memangnya kau ini siapa sampai mau membela gadis hina itu?" tantang Paman dengan senyum meremehkan.


Zayn tertawa sarkas. "kau tidak perlu tahu soal itu, yang perlu kau ketahui adalah semua kemewahan dan harta yang kau nikmati bersama istrimu adalah hak dari gadis yang kau sebut hina ini. kalau aku jadi kau sudah pasti aku tak akan bisa hidup dengan tenang setelah menguasai harta milik orang lain secara paksa."


Wajah pasangan suami istri itu lantas memerah, sepertinya mereka merasa semakin kesal setelah mendengar perkataan Zayn yang kuakui memang sangat menusuk itu.


Aku mengusap punggung lebar Zayn, berusaha membuat Zayn menghentikan perdebatan tak berguna dengan mereka tetapi Zayn sepertinya kali ini tidak mau menurut begitu saja.


"Aku belum selesai," bisik Zayn saat aku terus berusaha membuatnya menyudahi perdebatan itu.


Aku menggeleng cepat, namun Zayn tetap tidak peduli dan malah tersenyum mengejek kepada Paman dan Bibiku.


"Kenapa kalian hanya diam? apa semua yang aku katakan tadi benar?" Zayn tersenyum simetris. "oh, ada apa denganmu Nyonya Winters palsu? kenapa wajahmu sekarang semerah udang rebus? apa kau sedang mengenakan perhiasan milik mendiang Nyonya Winters yang asli?"


Mataku kontan mendelik tak percaya lalu memandang Zayn terheran-heran, bagaimana dia bisa tahu kalau kalung yang sedang dikenakan oleh Bibi adalah milik Mama? Paman mau pun Bibi kini malah nampak semakin merasa kesal dengan fakta yang diungkapkan oleh Zayn dengan seulas senyuman meremehkan.


"Lalu bagaimana denganmu, Tuan Winters palsu? apa kau bahagia menguasai perusahaan yang dibangun dengan penuh perjuangan dan keringat oleh saudara kandungmu dengan semena-mena begitu? ah, seharusnya orang seperti kalian berdua saja yang pergi ke akhirat bukannya kedua orang tua Ada," tambah Zayn sambil bersedekap dada.


Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa, semua hal yang ingin aku katakan sebagai pembelaan diri telah dikatakan oleh Zayn dengan begitu sempurna, membuatku merasa tak perlu lagi untuk membuka mulutku.


"Apa kalian tidak malu hidup mewah atas hasil kerja keras orang lain? dasar manusia hina. tapi ya sudahlah Ada, cepat atau lambat mereka akan menerima ganjaran dari setiap perbuatan mereka," tukas Zayn santai.


"Kau itu hanya anak muda yang tidak tahu apa-apa!" bentak Paman dengan wajah penuh amarahnya. ya, pria itu memang tempramental sejak masih kecil menurut penuturan Papaku.


"Jika aku hanya anak muda yang tidak tahu apa-apa bagaimana mungkin aku bisa tahu kalau kalian mengklaim semua asuransi jiwa milik orang tuanya Ada sekaligus milik Ada?"


Darahku mendidih setelah mendengar kalimat yang diutarakan Zayn, jelas, aku yang selama ini hidup tanpa tujuan di hutan seharusnya dapat hidup dengan lebih baik jika dapat mengklaim semua asuransi jiwa milik orang tuaku yang jumlahnya tidak main-main itu.


Mereka memang sungguh keterlaluan, bagaimana mungkin mereka sama sekali tidak memikirkan nasibku setelah mereka tendang dengan begitu kejam saat masih kecil dari rumahku sendiri?


"Berhentilah bicara tanpa fakta yang konkret!" balas Bibi dengan nada tinggi.


Langit malam terlihat semakin kelam, tertutup oleh awan mendung yang berwarna kelabu pekat.


Zayn masih nampak begitu siap melawan Paman dan Bibiku berbeda denganku yang sekarang bingung bagaimana bisa Zayn tahu mengenai hal-hal yang bersifat tidak umum seperti itu.


Dinginnya angin malam sedikit membuatku merasa gentar tetapi Zayn dengan cepat langsung menggamit tanganku, berupaya memberikan sedikit kehangatan untukku.


"Sepertinya aku memang harus memberimu pelajaran bocah tengik sialan!"


"Zayn, awas!"


Kepalan tinju milik Paman nyaris saja mengenai wajah mulus Zayn, sungguh itu benar-benar akan terjadi kalau Zayn terlambat menoleh sedikit saja.


Mata Zayn berkilat-kilat dibalik senyum simetris yang ia tampakkan. "sejujurnya aku tidak mau menggunakan kekuatan fisik tapi apa boleh buat sepertinya Paman yang menginginkan itu."


"Jangan mengalah hanya karena aku lebih muda, Paman. ayo, pukul aku lagi!" tantang Zayn yang kali ini sukses memancing emosi Paman hingga pria yang lebih tua melayangkan tinjunya lagi kepada Zayn secara bertubi-tubi.


Dengan kecepatannya yang luar biasa Zayn selalu dapat menghindari serangan Paman dengan mudah tanpa sedikit pun terkena.


"Ada, bukankah Pamanmu ini dulunya adalah seorang petinju? bagaimana mungkin pukulannya ini sangat payah bahkan tak ada satu pun yang bisa mengenai tubuhku?" ujar Zayn sambil tergelak, terus menghindari pukulan Paman dengan begitu ringan bagai dahan pohon yang tertiup angin.


Detik demi detik telah bertukar menjadi menit, Paman sudah nampak kelelahan terus mengeluarkan banyak tenaga untuk menyerang Zayn namun semua pukulannya lewat begitu saja tidak ada apa-apanya bagi Zayn.


Keringat mengucur deras dari dahi Paman menandakan ia betul-betul kehilangan banyak tenaga hanya untuk mendaratkan satu pukulan saja di tubuh Zayn namun semuanya malah meleset begitu saja.


"Apa Paman sudah puas bermain-main denganku?" tanya Zayn yang sejujurnya mengejek.


"itu artinya kau memang payah dalam semua aspek jika dibandingkan dengan saudaramu."


Dengan napas tersengal-sengal Paman masih dapat memandang Zayn nyalang. "aku akan membalasmu, kau hanya perlu menunggu!"


Zayn tertawa, menyugar rambut kelam sekelam langit malam miliknya dengan jemari.


"aku akan menunggu pembalasanmu dengan tidak sabar, Paman. kalau begitu kau perlu melatih skill bertandingmu lagi agar tidak sepayah malam ini."


"Zayn, sudah cukup... hentikan, ayo kita pulang saja. kita tidak perlu meladeni mereka lebih jauh," lirihku seraya memeluk lengan kanan Zayn, berharap dia tidak akan benar-benar adu jotos dengan Paman.


Zayn menghela napasnya panjang setelah sempat beradu pandang beberapa saat denganku.


"Adaline, kau tahu? aku hanya tidak habis pikir bagaimana bisa di setiap universe dalam kehidupan ini selalu saja ada orang tamak seperti Paman dan Bibimu itu?"