
"Oh, Adaline? apakah kamu Adaline Winters?"
Mendengar seseorang menyebut namaku dengan benar apalagi sampai menyebutkan nama belakang aku kontan kaget, bagaimana bisa masih ada orang yang mengenali aku setelah sewindu lebih waktu berlalu sejak hari terakhir kehidupanku di kota ini?
Aku mengalihkan atensi ke sumber suara lantas mendapati sosok pria bertubuh tegap dengan seragam polisi melekat di tubuhnya tengah melemparkan senyum yang entah bagaimana bisa membuatku merasa amat familiar.
"Iya, betul. tapi apakah kita saling mengenal, Pak?" tanyaku bingung.
Pria itu terkekeh, tawanya terdengar begitu renyah dan lagi-lagi membuatku merasa familiar dengan sosok polisi berpangkat di hadapanku ini.
"Ah, apa kamu sungguh sudah melupakan Kakakmu di panti asuhan ini? hahaha!"
Aku kaget, spontan menutup mulutku yang ternganga. "Kak Louis? Louis Tomlinson iya 'kan?"
Dia terkekeh. "salah. sekarang aku sudah menjadi Inspektur Louis Tomlinson."
Aku dan Louis kontan langsung berpelukan melepaskan rindu setelah sekian tahun tidak bertemu. Terakhir kali aku melihat Louis dia masih belum setinggi sekarang, bahkan dia belum menyelesaikan sekolahnya kala itu.
"Bagaimana kabar Kakak?"
Louis mengusap puncak kepalaku dengan lembut sebagai mana dia dulu sering melakukannya.
"sekarang jauh lebih baik. bagaimana denganmu?"
"Aku juga hidup dan tumbuh dengan baik," dustaku berusaha mengaburkan fakta betapa kacaunya hidupku setelah tak memiliki tempat bernaung usai panti asuhan tutup.
"Aku lega mendengarnya. mau mengobrol sambil makan siang bersama di kantorku? kebetulan aku membeli ekstra makanan hari ini," tawar Louis masih dengan senyuman khasnya yang begitu hangat.
"Makan siang bersama kakakku setelah sekian lama? bagaimana aku bisa menolak?"
Sambil berbincang ringan, aku dan Louis berjalan masuk menuju kantor Louis yang terletak di tengah-tengah kantor polisi.
"Duduklah, aku ambilkan minuman dulu sebentar."
Aku mengangguk mengiyakan. Louis lalu beranjak menuju pantry di bagian belakang kantornya untuk mengambil air minum. Aku mengedarkan pandangan, melihat-lihat ruangan kerja Louis yang tergolong cukup luas dengan pernak-pernik minimalis bertema maskulin. Di beberapa sisi ruangan nampak potret diri Louis dengan seragam dinasnya, juga beberapa penghargaan yang berhasil dia raih sepanjang karirnya.
"Apakah aku semakin tampan sekarang?" goda Louis setelah kembali dengan satu buah pitcher kaca berisi penuh air putih serta dua buah gelas.
Aku mengangguk antusias. "itu terlihat jelas. sekarang kakak menjadi semakin tampan dan juga mapan aku bangga."
Louis terkekeh. "adikku memang selalu manis tak peduli berapa pun usianya."
Aku tersipu-sipu. "hentikan itu, Kak. mari makan, aku sudah lapar."
Louis membuka dua bungkus makanannya, memberikan satunya untukku. "kalau kamu masih lapar bilang ya, biar aku belikan lagi."
"Ini sudah cukup, Kak."
Aku dan Louis makan dengan posisi saling berhadapan, fokus dengan makanan masing-masing setelah berdoa sebelum makan.
Louis terlihat sangat gagah dengan seragam polisi yang membalut tubuhnya, membuatku yakin kalau ia setidaknya sudah memiliki seorang kekasih atau bahkan istri. Kami menikmati makan siang dengan nikmat hingga akhirnya piringku dan Louis benar-benar bersih tanpa sisa makanan.
"Apa makanannya enak? mau aku belikan lagi untuk dibawa pulang?" Louis dengan antusias menayaiku setelah melihat piringku yang kosong.
Aku menggeleng cepat. "kita bisa makan berdua seperti ini lagi lain kali kalau ada kesempatan."
"Bagaimana kabar Kak Liam?" tanyaku penasaran dengan kabar kakak angkatku yang satu lagi itu.
"Dia menyelesaikan pendidikannya dengan sangat baik dan sekarang sukses menjadi seorang jaksa," papar Louis dengan seulas senyum bangga.
Andai kala itu aku juga mendapatkan orang tua asuh atau setidaknya pekerjaan setelah keluar dari panti asuhan. Namun dalam sisi ini aku tidaklah seberuntung Liam atau pun Louis yang bisa menjadi pribadi yang sukses.
"Aku bangga memiliki dua orang kakak yang sudah sukses di jalurnya masing-masing," sahutku dengan. senyum bangga yang tersungging.
"Tapi bisakah kamu menebak apakah aku sudah menikah?"
Aku geli mendengar pertanyaan Louis.
"setidaknya kurasa kakak sudah mempunyai kekasih."
Louis tersenyum bodoh. "sama sekali belum. aku terlalu banyak membuang-buang waktu di kantor ini sampai lupa bagaimana rasanya memegang tangan seorang gadis."
Aku terkekeh. "kalau begitu jangan sampai kakak menjadi bujang lapuk!"
Louis tersenyum masam. "ya semoga saja itu tidak terjadi. akan mengerikan jika aku tetap menjadi bujangan sampai tua."
"Ngomong-ngomong apa tujuanmu kemari? apalagi kamu pergi ke tempat bangkai mobil korban kecelakaan dikumpulkan," Louis baru sadar dari momen nostalgia lalu mulai menanyakan tujuanku datang ke kantor polisi pusat.
"Ah, soal itu. apa kakak ingat apa alasanku dulu terlantar di jalanan saat pertama kali kita bertemu?"
"Kedua orang tuamu yang sudah tiada?"
"Ya. aku merasa kasus kecelakaan yang menewaskan Papa dan Mama terlalu janggal kalau dipikir-pikir. jadi aku ingin mengusut ulang kasus itu dengan caraku sendiri, Kak."
"Kejanggalan seperti apa yang kamu maksud?"
"Aku belum bisa membuktikan kecurigaanku itu, Kak. maka dari itu aku ingin mengumpulkan bukti-bukti yang lebih valid untuk menjerat pelaku yang terlibat," jelasku setelah mengingat-ingat perkataan Zayn.
"Tapi bukankah kasus itu sudah terlalu lama? apa kamu yakin ingin menelisik kasus ini lagi?"
Aku mengangguk yakin. "dulu aku hanya anak-anak, Kak. mana ada orang yang mau mendengarkan cerita dari seorang anak kecil bukan? maka kurasa ini adalah saat yang paling tepat."
Louis menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "pemikiranmu memang sangat cerdik. kalau begitu aku akan berusaha membantumu semampuku untuk kembali mengajukan kasus ini di meja hijau."
"Kakak serius?!"
"Iya, Adaline. aku akan membantumu sebisa yang dapat kulakukan dengan wewenangku saat ini."
Dadaku terasa sangat longgar sekarang, setidaknya ada orang lain selain Zayn di sisiku untuk membantu mengusut ulang kasus ini. Kini aku hanya bisa berharap semoga Tuhan melancarkan segala langkahku demi mengantar orang tuaku menuju peristirahatan terakhir yang damai selamanya.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan, Kak?"
Louis menimbang sejenak, hingga beberapa saat berlalu ia beringsut menuju komputernya yang terduduk di atas meja kerjanya dalam mode stand by sejak tadi.
"aku tidak akan menjadi inspektur dalam usia semudah ini kalau tidak memperhitungkan segala langkah dengan cermat."
Jemari Louis dengan cekatan menjelajahi setiap jajaran huruf di atas keyboard mencoba mencari sesuatu dengan komputernya. Sorot matanya terlihat begitu serius, maniknya bergerak cepat kesana kemari membuatku enggan mengajaknya bicara agar tidak memecahkan fokusnya Louis.
"Kecelakaan pasangan suami istri Winters? apa ini dokumen menyangkut kasus kecelakaan kedua orang tuamu?"