
"Tentu saja dengan senang hati aku akan melakukannya, sayang. Aku memang sudah merencanakan semua ini untuk membuat kau senang. Jadi tunggulah di sini, aku akan langsung menombak ikan," Zayn berucap dengan penuh semangat membuat senyumku merekah dengan lebarnya.
Setelah berseru dengan penuh semangat, Zayn meraih tombak kecil untuk menombak ikan yang diberikan oleh pengawal.
Menggunakan sebuah rakit yang tak begitu besar, Zayn serta Ricky sang pengawal mulai berburu ikan di danau.
Sementara Dicky sang sais, sibuk memasang tenda dengan bantuan beberapa batang kayu sebagai patoknya. Dengan santai dan lihai, Dicky bekerja seraya bersenandung kecil.
Nama mereka berdua mirip karena memang merupakan saudara kandung yang sudah bekerja pada kerajaan sebelum aku datang ke negeri ini.
Kedua pemuda itu tidak banyak bicara namun sangat kompak dan bisa saling melengkapi satu sama lain.
"Yang mulia ratu, lihatlah! Kami mendapatkan banyak ikan yang besar pasti akan sangat enak untuk kita masak sebagai makan malam hari ini!" Ricky berseru girang seraya mengacungkan tombak miliknya yang sudah menangkap sebuah ikan besar.
"Ambil ikan secukupnya saja," ucapku mewanti-wanti, takut ekosistem danau ini menjadi terganggu karena kami mengambil terlalu banyak ikan.
Baik Zayn dan Ricky menurut, mereka dengan patuh lantas kembali naik ke atas rakit seraya mendayung kembali menuju darat. Aku mengambilkan pakaian ganti untuk Zayn, sementara Dicky mengambilkan pakaian milik Ricky dari dalam tasnya.
"Ikan-ikannya masih hidup, biarkan saya yang membersihkannya yang mulia ratu," ucap Dicky menawarkan diri, mengambil sebuah wadah untuk menampung ikan-ikan hasil tangkapan Ricky dan Zayn yang semuanya masih hidup serta menggelepar.
"Hati-hati jangan sampai ikannya lepas lagi, Dicky," balasku memperingati pemuda yang tengah berjalan ke arah tepi danau itu.
Dengan cekatan Dicky meraih belati tajam miliknya, membuang sisik ikan serta isi perut ikan hasil tangkapan sampai benar-benar bersih.
Sementara Ricky dan Zayn bergantian mengganti pakaian, aku masih sibuk mengajak Atreus bermain sambil berjalan-jalan sedikit tak jauh dari tenda menikmati keindahan alam yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Sekawanan burung bangau nampak jelas dari seberang danau menandakan bahwa ekosistem di danau ini sangat terjaga. Mereka nampak menunggu ikan di tepi danau, sementara sebagian dari mereka ada yang sudah masuk ke dalam danau untuk berburu secara langsung.
Hari yang sudah beranjak malam menampilkan semburat jingga keemasan dari ufuk barat, menandakan bahwa matahari tak lama lagi akan segera terbenam. Aku tersenyum menikmati semua keindahan yang tersaji di hadapanku ini, tak lupa terus menggumamkan kata syukur dalam hati.
"Yang mulia raja, apa saya perlu mulai menyalakan api sekarang?" tanya Ricky yang baru saja kembali dari hutan dengan banyak ranting pohon kering di tangannya untuk membuat kayu bakar.
"Langsung saja nyalakan saja apinya, jika tidak dinyalakan sekarang pasti nyamuk-nyamuk akan berdatangan," balas Zayn, menyodorkan sebuah korek api kepada Dicky yang sedang sibuk menyusun kayu bakar yang sudah siap untuk dibakar.
Perlahan namun pasti, sang mentari mulai turun ke arah ufuk barat makin memamerkan pesona cantiknya yang sukses membuat aku tak mengalihkan pandanganku.
Dapat melihat matahari terbenam di tengah keindahan panorama indah alam yang luar biasa seperti ini bahkan tak pernah ada dalam benakku sebelumnya.
Ricky dibantu oleh Dicky mulai menyulut api untuk membuat api unggun sebagai penerangan serta bahan bakar untuk memasak kami malam ini dengan gigih. Sesekali mereka saling menyalahkan tatkala apinya tidak jadi menyala hingga akhirnya Zayn yang frustasi ikut turun tangan membantu.
"Akhirnya apinya menyala juga," kataku sambil tergelak geli setelah ketiga pria itu berhasil menyalakan api yang cukup besar.
Ricky dan Dicky hanya bisa meringis, membuat aku semakin tergelak.
"Raja kalian itu sangat emosional, ingatlah untuk tidak membuatnya kesal lagi kalau kalian tidak mau dihukum pancung," ledekku, membuat Zayn melotot sebal.
Ya walau Zayn nampak kesal setelah aku ejek, dia tetap dengan telaten menusuk ikan-ikan hasil buruannya menggunakan beberapa batang ranting kecil agar mudah untuk dibakar.
"Apa kalian membawa jeruk nipis dan garam?" tanya Zayn kepada Ricky dan Dicky.
"Biar saya yang ambilkan, yang mulia," Ricky melangkah dengan penuh semangat menuju tenda, mengambil jeruk nipis dan garam sebagai penyedap rasa untuk makan malam kami kali ini.
Tak seberapa lama, Ricky kembali dengan sebungkus garam halus dan beberapa buah jeruk nipis di tangannya.
Dibantu oleh Dicky, Zayn mulai melumuri ikan-ikan itu dengan garam dan perasaan jeruk nipis hingga menimbulkan aroma khas.
"Yang mulia ratu, apa manusia juga makan ikan bakar dengan cara yang sama?" Dicky bertanya dengan antusias meski tangannya sedang sibuk melumuri ikan dengan garam.
"Ya. Dulu Papa, ah, maksudnya ayahku sering membuatkan ikan bakar untukku saat aku masih kecil tetapi dengan bumbu yang sedikit berbeda. Dibantu dengan ibuku, beliau memasak ikan bakar yang sangat nikmat di halaman belakang rumah kami," aku bercerita, mengenang sedikit masa lalu yang indah bersama Papa dan Mama.
"Tetapi saat aku pergi bersama orang tuaku ke pantai, kami juga memasak ikan dengan cara yang sama persis seperti ini," tambahku dengan segurat senyuman yang terpatri di wajahku.
Sambil terus mendengarkan aku bercerita, sesekali Ricky dan Dicky menimpali dengan penuh antusias nampak sangat tertarik dengan kehidupan lamaku sebagai seorang manusia biasa.
Sementara Zayn, ia hanya menjadi pendengar setia sambil memamerkan senyumnya yang hangat dengan sinar mata yang amat teduh.
"Jika ada kesempatan aku juga ingin pulang dan bermalam di rumah lamaku di dunia manusia," ucapku yang kian merindukan kehidupan lamaku.
Meski pun kehidupan di dunia Elf ini sangat luar biasa dan membuat aku bahagia, namun aku tak dapat membohongi perasaanku yang tetap merindukan siapa diriku sebenarnya dan tanah kehadiranku di dunia manusia.
Aku merindukan rumahku, aku merindukan pekerjaanku, aku juga merindukan semua kakak angkatku yang masih hidup di sana tanpa tahu di mana keberadaan diriku saat ini.
Aku penasaran apa sekarang Louis sudah menikah, bagaimana kabar Liam dan Harry? Apa Niall sudah mempunyai anak, aku penasaran dengan semua itu namun sayang aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk menemui mereka semua seperti dulu saat aku belum menjadi seorang ratu.
"Kau benar-benar ingin pulang?" suara Zayn bertanya dengan lembut, masih dengan pandangannya yang tertuju kepadaku sepenuhnya.
"Aku mau jika aku mampu, Zayn. Tapi sekarang aku adalah seorang ratu mana boleh egois hanya demi mementingkan apa yang aku inginkan," jawabku tanpa keraguan.
"Kau tidak lupa 'kan? kita masih punya hari libur."