
Zayn terkekeh geli mendengar ucapanku.
"Mana mungkin aku akan memakan tikus? Malah aku ingin menaikkan derajat hewan pengerat itu menjadi jauh lebih berguna ketimbang semestinya."
Dahiku mengernyit. "kalau begitu kau boleh tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan pada tikus-tikus itu nantinya."
"Baiklah, kita harus menunggu Paman Elliott kembali lebih dulu. Sembari menunggu makanlah terlebih dahulu, aku harus melakukan persiapan yang lain juga agar kita bisa berangkat pagi-pagi sekali ke dunia Elf," ucap Zayn sambil mendorong kecil punggungku menuju pintu utama mansion.
Sejak tadi aku memang belum makan, wajar kalau Zayn mulai khawatir. Sebagai ibu hamil aku juga seharusnya lebih memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam perutku.
Kalau sudah begini mau tak mau aku menurut, masuk ke dalam dapur dan menyaksikan daging rusa panggang yang sudah tersaji dengan nikmat di atas meja makan beserta lauk pendamping lainnya.
Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan daging rusa panggang yang selama ini tak bisa aku temukan di kota karena memang tidak ada yang menjualnya di sana.
Rasa daging rusa dan daging sapi menurutku tak jauh berbeda, hanya saja aku merasa kalau daging rusa jauh lebih empuk dan memiliki serat yang jauh lebih sedikit sehingga mudah untuk dikunyah.
Sudah merasa nyaman dengan posisi duduk, aku langsung mengambil piring dan mengisinya dengan daging rusa serta sayur mayur yang sudah dimasak dengan begitu nikmat oleh Zayn.
Dalam keheningan aku menikmati setiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulutku, memuji kenikmatan masakan suamiku dalam hati.
Lambat laun waktu berlalu, sampai aku dapat mendengar suara langkah kaki tergopoh-gopoh datang ke padaku membuat perasaanku dibalut rasa panik.
"Sayang?"
"Kenapa kau lari-larian seperti itu?"
"Ayo ke kamar, kita harus mulai berkemas sekarang juga sebelum keberadaan kita bisa diketahui oleh musuh!"
Dengan perasaan panik yang kian menjadi, Zayn menggamit tanganku membawaku menuju kamar bermaksud untuk berkemas sesegera mungkin sebelum musuh yang entah siapa itu dapat mengetahui keberadaan kami.
...****************...
Aku yang masih setengah mengantuk kini mau tak mau harus meninggalkan ranjang nyamanku demi memulai perjalanan yang aman ke dunia Elf bersama Zayn dan Paman Elliott.
Meski sekarang sedang musim panas, tetap saja udara dingin saat fajar terasa menusuk tulang. Dengan tudung hitam yang menutupi kepala dan tubuhku, aku beringsut keluar dari mansion bersama Zayn.
"Selamat pagi yang mulia Pangeran Zayn dan Nona Adaline. Mari kita mulai perjalanannya sekarang karena saya merasakan firasat yang tidak mengenakkan," sapa Paman Elliott sambil membuka pintu kereta kuda.
Kereta kuda? Tapi di mana kuda yang akan menarik keretanya? Bukankah Paman Elliott juga kemari dengan berjalan kaki?
Zayn mengangguk, membuka kandang besi kecil yang berisi dua ekor tikus di dalamnya.
Aku bergidik ngeri melihat dua tikus itu menggeliat saat ekor mereka dipegang oleh Paman Elliott.
"Karena kereta kuda membutuhkan kuda, maka jadilah kalian berdua kuda jantan yang kuat dan perkasa!" Zayn berseru, menunjuk dua ekor tikus itu bergantian.
Secara ajaib, jari telunjuk Zayn mengeluarkan seberkas cahaya biru yang tidak terlalu menyilaukan namun cahaya ajaib itu mampu membuat kedua tikus tersebut berubah menjadi dua ekor kuda hitam yang gagah.
Aku terperangah dibuatnya, Zayn benar-benar membuatku takjub sekali lagi!
Dua ekor kuda itu meringkik, lalu tanpa membuang lebih banyak waktu Paman Elliott langsung menyiapkan kereta kuda agar kami bisa segera memulai perjalanan menuju dunia Elf.
"Ya, aku akan naik lebih dulu. Tolong masukkan barang-barang bawaan kita ke dalam keretanya," balasku sambil naik ke dalam kereta kuda.
Tak kusangka aku akan sungguhan naik kereta kuda seperti ini, sungguh luar biasa. Kukira selamanya aku hanya akan mengetahui kereta kuda melalui buku dongeng yang aku baca.
Zayn menyusul aku masuk ke dalam kereta kuda.
"mari jalan, Paman Elliott. akan lebih baik kalau kita segera tiba di kerajaan Elf sebelum musuh tiba di sini.
Setelah suara kuda meringkik terdengar, kereta kuda yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan halaman mansion.
"Apa perjalanan ini akan aman, Zayn?" tanyaku khawatir kepada Zayn.
"Aku akan menjaminnya dengan nyawaku, sayang. kita akan sampai dan pulang dengan selamat nantinya kau tak perlu khawatir," jawab Zayn dengan seulas senyuman meyakinkan.
Aku tak punya pilihan lain selain mempercayai Zayn suamiku dan Paman Elliott yang sedang mengendarai kereta kuda ini sebagai sais.
"Baiklah. Aku harap kau sungguh bisa menepati janjimu, Zayn."
Perjalanan kami di mulai sebelum matahari terbit, namun entah bagaimana caranya Paman Elliott dapat mengendalikan kereta kuda dengan begitu aman tanpa bantuan penerangan sedikit pun.
Jalanan hutan yang gelap dan sempit dapat dilalui dengan sempurna oleh kereta kuda sampai akhirnya kami mulai memasuki kawasan lembah yang curam.
Walau pun diluar masih terlihat gelap, samar-samar aku dapat melihat pemandangan di luar kereta kuda. Nampak pepohonan rimbun mengapit jalan setapak yang kami lalui dengan begitu rapat dan lurus layaknya pembatas jalan di jalanan kota.
Angin berhembus cukup kencang, namun tak cukup untuk membuatku merasa kedinginan karena jubah yang kupakai berbahan cukup tebal.
Zayn nampak sangat menikmati perjalanan kali ini, membuatku merasa bahwa ia juga merindukan kampung halamannya, tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan.
"Andai aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibu mertua di kerajaan Elf," gumamku sambil melihat ke luar jendela kereta kuda.
"Sebenarnya aku juga berharap bisa bertemu mereka, tetapi mana mungkin karena seperti yang kau tahu kedua orang tuaku sudah wafat," sahut Zayn dengan senyuman sendu.
Aku tahu ini hal yang sangat berat untuk Zayn tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi masalah yang ada di kerajaan Elf tempatnya lahir.
Sebagai pewaris tahta tunggal yang sah, hanya Zayn yang mampu menggulingkan kekuasaan Paman kandungnya yang sewenang-wenang itu, kalau ia tidak segera bertindak bangsa Elf bisa benar-benar punah perlahan-lahan.
"Aku sejujurnya merasa terbebani karena lahir sebagai seorang pangeran tetapi apa boleh buat, aku harus segera mengambil keputusan tepat sebelum pamanku membuat lebih banyak kekacauan yang mengakibatkan punahnya bangsa Elf," tutur Zayn sambil tertunduk lesu.
"Lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan, Zayn. Sebagai istrimu aku akan selalu mendukung pilihanmu selagi itu adalah yang terbaik," kataku berusaha menguatkan Zayn.
Zayn menyandarkan kepalanya di bahuku.
"aku sungguh berharap bisa mengambil keputusan yang cepat lagi tepat demi kelangsungan hidup bangsaku yang selama ini sudah banyak menderita akibat perburuan Paman."
Matahari yang perlahan mulai terbit di ufuk timur membuatku tersenyum yakin sembari mengusap puncak kepala Zayn.
"Aku yakin kau akan berhasil melakukan yang terbaik, suamiku."