
"Kau tidak lupa 'kan? kita masih punya hari libur."
Zayn berujar dengan senyuman lembut, mengusap puncak kepalaku penuh sayang. Meski begitu, aku tetap bimbang untuk pulang setelah sekian lama.
"Tidak usah memikirkan yang tidak perlu, istriku. Besok kita bisa langsung terbang sebelum matahari terbit menuju rumahmu, bagaimana?"
"Kau sungguh tidak keberatan? Bukankah kau juga sudah lama tidak terbang?" tanyaku sangsi, mengingat Zayn memang tak pernah lagi terlihat terbang setelah kami menetap di kerajaan Elf.
"Kata siapa aku sudah lama tidak terbang? Aku malah lebih sering terbang semenjak menjadi raja," Zayn berkata congkak, ditimpali oleh anggukan oleh Ricky dan Dicky.
"Betul, yang mulia ratu. Beliau bahkan selalu rajin berlatih bela diri dan terbang di waktu bersamaan, kami selalu berlatih bersama sebanyak lima hari dalam seminggu," jelas Ricky menambahkan.
"Ya, makanya beliau selalu pulang ke istana setelah matahari terbenam," kini giliran Dicky yang bersuara.
Aku menimbang sejenak. Aku memang masih memiliki hari libur, namun entah mengapa aku merasa ragu untuk mengiyakan tawaran Zayn.
"Jika yang mulia ratu merasa ragu, saya akan ikut pergi ke dunia manusia dan menggendong yang mulia pangeran. Apakah Anda mau?" tawar Ricky yang sepertinya mengerti mengapa aku merasa ragu.
"Baiklah jika kalian semua memaksa, kita akan berangkat sebelum matahari terbit," ucapku final.
Setelah merasa kenyang, kami lantas beranjak menuju tenda untuk mulai beristirahat mengingat terbang ke dunia manusia yang tidaklah dekat memang cukup menguras energi bagi para Elf ini nantinya.
Langit kelam yang membentang luar tak bertepi itu kini menampilkan taburan bintang yang mempesona lengkap dengan kehadiran sang bulan purnama kian menambah keindahan malam ini.
"Mama, Papa, besok aku akan pulang ke rumah kita lagi bersama suami dan anakku."
...****************...
Hembusan angin lembut pagi itu berhasil menghantar aku pulang ke rumah masa kecilku.
Setelah terbang sekitar tiga puluh lima menit, kami tiba dengan selamat di pelataran rumahku.
Ricky nampak begitu kagum, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah menikmati perbedaan suasana yang ada di sini.
"Dunia manusia ternyata memang sangat jauh berbeda, saya kagum dengan keahlian manusia dalam hal pembangunan," ucap Ricky jujur masih dengan pandangan yang menelisik.
"Begitulah kehidupan di sini, sayang sekali aku tidak bisa menunjukkan semuanya karena kita tidak punya banyak waktu untuk jalan-jalan," ucapku sambil membuka pintu rumah untuk masuk ke dalamnya.
Hawa hangat yang amat familiar menyambut kepulanganku ke rumah ini. Suasana hangat yang sangat aku rindukan meski kini tidak ada lagi kedua orang tuaku.
Sebuah figura besar berisi fotoku bersama Mama dan Papa terpampang di ruang tamu, menyambut kedatangan kami di rumah yang menjadi saksi bisu indahnya masa kecilku itu.
"Atreus, ini nenek dan kakekmu sekarang mereka berdua sudah ada di surga," ucapku lirih sambil menunjuk figura besar itu dengan Atreus dalam gendonganku.
Rasanya waktu cepat sekali berlalu.
Aku yang dulu masih menjadi anak semata wayang kesayangan sepasang suami istri yang sedang tersenyum lebar dalam foto itu kini datang bersama anak serta suamiku.
Begitu banyak kesulitan yang sudah aku lalui sepeninggal Papa dan Mama.
Semua proses yang telah aku lewati kini membuatku semakin bijak dan sabar untuk melalui semua proses yang harus aku lalui.
Atreus tersenyum sumringah setelah melihat foto Mama dan Papa, membuat perasaanku menghangat.
Setelah puas melihat-lihat bagian depan rumah, aku membawa Ricky ke kamar tamu untuk ia beristirahat. Sementara aku dan Zayn naik ke lantai dua menuju kamar yang memang semula kami tempati saat baru menikah.
Setelah aku menetap di dunia Elf sebagai seorang ratu, aku mempekerjakan orang lain untuk membersihkan rumah ini secara teratur dan rupanya beliau melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
Rumah ini tertata sangat rapi dan bersih, membuatku merasa lega. Kurasa aku harus memberikan bonus untuk Paman itu nanti.
"Rumahnya sangat bersih, hasil kerja paman itu rupanya sangat bagus," kata Zayn sambil membaringkan Atreus di atas kasur.
Aku mengangguk. "betul, aku berencana ingin memberikannya bonus."
Setelah yakin Atreus sudah tidur, aku beringsut turun ke dapur untuk mulai memasak.
Sudah lama aku tidak memasak di dapur, untunglah tadi aku sempat berbelanja di pasar tadi.
Cahaya temaram menerangi langkahku menuju dapur. Aku lantas menekan saklar untuk menyalakan lampu agar dapat memasak dengan cukup cahaya.
Aku mencuci sayuran yang hendak kumasak di westafel seraya bersenandung kecil, menikmati setiap momen yang tak bisa aku lakukan setiap hari seperti ini.
Seorang ratu tidak diperkenankan untuk masuk ke dapur di dunia Elf dan itu sudah menjadi sebuah peraturan mutlak sejak zaman leluhur.
Jadi ya, aku tidak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti yang biasa aku lakukan di sini.
Aku hanya diperbolehkan mengasuh Atreus sebaik-baiknya, memberikan ia pendidikan terbaik di berbagai bidang agar dapat menjadi penerus kerajaan yang sempurna.
"Kau mau langsung memasak?" Zayn bertanya di ambang pintu dapur, memperhatikan aku yang baru saja selesai mencuci sayuran.
"Ya, aku lapar Zayn. Sambil memikirkan masa depan Atreus aku ingin masak makan makanan enak setelah sekian lama," jelasku seraya menaikkan penggorengan di atas tungku kompor.
Aku mulai menumis bumbu yang sudah aku racik, sementara Zayn duduk di meja makan sambil memperhatikan aku.
"Kenapa kau terlalu memikirkan masa depan Atreus seperti itu?"
"Aku seorang ibu, Zayn. Rasanya tanpa diberikan perintah pun aku ingin selalu memberikan yang terbaik untuknya."
Sekarang aku mengerti dengan baik mengapa Mama selalu rela melakukan banyak hal untukku sewaktu aku kecil dulu.
Zayn bangkit dari duduknya, merengkuh pinggangku lantas melayangkan kecupan hangat di puncak kepalaku. Rasanya sangat hangat dan nyaman, pria itu selalu memperlakukan aku dengan penuh cinta.
"Iya, aku tahu sayang. Aku juga akan selalu memberikan yang terbaik untuk Atreus. Beberapa tahun lagi aku yakin Atreus sudah dapat menjadi pewaris tahta yang pantas untuk kerajaan. Aku akan mendidiknya dengan sebaik-baiknya."
Air mata menggenangi kedua pelupuk mataku. Perasaanku terasa campur aduk antara sedih sekaligus terharu. Aku menghambur ke dalam pelukan Zayn merasa tak sanggup lagi membendung air mata yang terus saja mengalir dengan deras.
"Terima kasih sudah memberikan aku banyak kebahagiaan selama ini, Zayn."
"Aku hanya melakukan apa yang sepatutnya aku lakukan, Ada. Aku ingin membuat orang tuamu tidak menyesal telah memberikan restu mereka kepadaku."
Tuhan, tolong jagalah selalu keluarga kecil kami ini.
Hanya suami dan anakku yang kini aku miliki sebagai harta yang paling berharga.