Beauty And Elf

Beauty And Elf
Bab 32 : Kehidupan Baru



Aku tersenyum nakal. "enaknya makan apa ya? Eum.. Apakah aku boleh memakanmu, Zayn?"


Zayn mendengus geli mendengar pertanyaanku.


"kau bahkan sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk memakanku."


"Aku masih bisa kok--"


"Hentikan, untuk bangun saja kau tidak memiliki tenaga," cibir Zayn sambil tertawa membuatku cemberut.


Langit yang sudah nampak temaram membuat Zayn menyalakan lampu tidur lantas berbaring di sampingku.


"Jangan pikirkan yang aneh-aneh dulu, kau harus istirahat. Besok kita harus ke dokter untuk memeriksakan kesehatanmu," titah Zayn sambil mengusap lembut punggungku.


"Iya baiklah, suamiku."


Aku memejamkan mata, berusaha tertidur tatkala mendengar suara langkah Zayn yang menjauh sepertinya hendak membereskan dapur.


Sekali lagi aku bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian serta penuh cinta seperti Zayn, sang Elf yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku akan menjadi pasangan hidupku.


Semoga rumah tangga yang aku bina bersama Zayn akan selalu harmonis dalam lindungan Tuhan.


...****************...


"Kau tidak masuk kerja hari ini?" tanyaku pada Zayn yang sedang sibuk mengancingkan kemeja hitamnya.


Sesuai kesepakatan yang kami buat semalam, kami akan pergi ke klinik kesehatan terdekat hari ini.


Pria itu menggeleng. "tidak. kesehatan istriku jelas lebih utama jadi aku harus menemanimu seharian ini dan lagian aku juga perlu hari libur."


Aku tersenyum penuh, cara penyampaian Zayn memang tidak romantis tapi aku tahu betul betapa dia mempedulikan aku lebih dari apa pun.


Buru-buru aku mengenakan cardigan, bersiap untuk pergi ke klinik kesehatan guna memeriksa kesehatanku.


Zayn beringsut lebih dahulu menuju garasi untuk memanaskan mesin mobil sebelum berangkat.


"Terima kasih, Zayn," cicitku sembari berjalan menyusulnya menuju garasi.


"Kau terus mengucapkan terima kasih dan maaf untuk setiap hal-hal kecil, mulai sekarang hargailah setiap kata-katamu itu karena kau sangat berharga."


Aku tidak menyangka lelaki dingin ini bisa mengucapkan kata-kata penuh makna seperti itu yang membuatku merasa sedikit terharu.


Zayn memintaku untuk lebih menghargai diriku? Sungguh lelaki yang diluar dugaan, meski sudah menjadi suamiku pun dia tetap melakukan hal mengejutkan seperti itu.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat."


Zayn mengangguk, tersenyum tipis seraya membukakan pintu mobil untukku.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju klinik kesehatan di pusat kota tak jauh dari rumahku.


Jalanan hari ini cukup lengang, mengingat sekarang bukan jam berangkat kerja atau pun jam pulang kerja sehingga tak banyak kendaraan yang melewati jalan arteri kali ini.


Meski sudah cukup lama kembali tinggal di kota, aku tetap saja terkesima dengan pemandangan kota Kopenhagen yang luar biasa cantiknya.


Sepersekian saat berlalu hingga akhirnya aku dan Zayn tiba di halaman klinik kesehatan.


Dengan hati-hati Zayn memarkirkan mobil di area parkir menjajari mobil-mobil lainnya.


Zayn menggamit tanganku, perlahan melangkah masuk ke dalam klinik untuk menemui dokter yang sudah membuat janji dengan kami berdua.


"Tuan dan Nyonya Adelard, Anda sudah datang?" sapa Dokter William, dokter spesialis yang dihubungi oleh Zayn semalam.


Dokter William mengangguk.


"kalau begitu Nyonya silakan berbaring di atas bangsal periksa."


Dibantu oleh Zayn aku menaiki bangsal pemeriksaan dan berbaring di sana, Dokter William pun langsung melakukan pemeriksaan kesehatan padaku secara detail.


Dokter William bergumam, memandang padaku dan Zayn bergantian setelah selesai melakukan pemeriksaan kepadaku.


"Tuan dan Nyonya Adelard, selamat untuk Anda berdua karena Nyonya sedang mengandung."


Aku dan Zayn kontan saling memandang setelah mendengar penuturan Dokter William yang ia ucapkan dengan seulas senyuman tulus.


"Anda serius?" Zayn bertanya mencoba memastikan.


"Tentu saja. Sekali lagi selamat untuk Anda berdua, Tuan dan Nyonya Adelard. Mohon jaga pola makan Anda, Nyonya. Makanlah dengan teratur dan perhatikan juga gizinya," ucap Dokter William memberikan nasihat dengan seulas senyum.


"Saya akan lebih memperhatikan asupan makanan istri saya, terima kasih Dokter William."


...****************...


Langit malam ini terlihat jauh lebih menawan karena suasana hatiku yang sangat baik hari ini.


Angin berhembus lembut, dengan bintang-bintang yang bersinar terang berdampingan dengan bulan sabit yang tak kalah cantiknya.


Setelah mendapatkan kabar gembira mengenai kehamilanku dari Dokter William, Zayn juga menjadi lebih hati-hati dalam memberikan asupan makanan untukku.


Malam ini bahkan lagi-lagi Zayn memasak aneka makanan enak kaya akan nutrisi lengkap mulai dari olahan daging hingga sayuran siap tersedia di meja makan membuat selera makanku meningkat.


Daging ayam panggang, sayuran dengan berbagai olahan bahkan buah-buahan yang telah dikupas dan di potong pun telah siap tersedia.


"Ayo makan, aku sudah memasak semua makanan yang kau butuhkan," titah Zayn sambil mengajakku masuk ke area dapur, duduk di meja makan.


"Zayn... Apa aku harus makan semuanya seperti itu?" tanyaku kikuk, melihat betapa banyak makanan yang tersaji di atas meja.


Aku bahkan bingung harus makan yang mana terlebih dahulu.


"Harus, kau butuh asupan nutrisi yang lengkap makanya aku memasak semua ini khusus untukmu," tutur Zayn seraya memberikan aku piring.


Masakan Zayn selalu nikmat, aku tak tahu apakah para Elf juga menggunakan kekuatan sihir untuk membuat setiap makanan yang mereka masak terasa jauh lebih nikmat dari pada biasanya.


"Perkataan suami adalah perintah mutlak, baiklah aku akan makan semampu yang bisa diterima oleh perutku," balasku sambil mulai mengisi piringku dengan berbagai macam makanan yang dibuat oleh Zayn.


Pria itu tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat jauh berbeda dari pada senyuman yang pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya.


"Terima kasih telah mengandung anak kita, Adaline. Aku akan selalu menjaga kau dan anak kita apa pun yang terjadi," ucap Zayn penuh keseriusan.


Aku menggenggam erat tangan kokoh Zayn, memandang pria itu lurus penuh keyakinan.


"Aku akan berusaha untuk menjadi istri dan Ibu yang baik untuk anak-anak kita nantinya, Zayn."


Kami berdua saling melemparkan senyum, bahagia atas semua hal yang telah kami dapatkan setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Tentu saja. Sebagai suami istri kita harus bekerja sama untuk melewati semua badai yang akan datang kapan pun itu bersama-sama, istriku tersayang."


"Entah mengapa aku merasa sangat bahagia melihat kau tersenyum seperti itu, wahai Zayn suamiku."


"Apa-apaan itu? Haha mengapa gaya bicaramu tiba-tiba jadi seperti bangsawan dari kerajaan?"


Semoga saja Tuhan selalu memberkati pernikahan kami hingga kedepannya rumah tangga kami akan selalu seperti ini, bahagia tanpa badai yang berarti. Ya, walau kami harus terus saling mengejek seperti itu sampai tua nanti.