
Rakai dan Nayanika sudah memasuki usia yang cukup untuk MPASI. Nona tak pernah absen untuk meracik menu makan buat si kembar. Dua baby sitternya hanya akan menyuapi si kembar, karena setelah selesai membuatkan makanan untuk Rakai dan Nayanika, Nona kembali memasak makanan untuk Frenzy kemudian menyuapinya.
Memang Nona lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak sulungnya, agar gadis kecil itu tidak merasa diabaikan semenjak kedua adiknya lahir. Sejauh ini Rakai dan Nayanika dipegang penuh oleh mbak Juju dan Jiji.
Dan sore ini, setelah selesai membuatkan makan untuk kedua bayi kecilnya, Nona masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya. Ketika masih berkonsentrasi berendam di dalam bath up berwarna putih itu, terdengar suara pintu di ketuk.
" mamaa...mamaa..." teriak Frenzy dari luar
" iya sayang...mama mandi nak..."
" iya tau..enzy mau nanya, enzy boleh suapin dedek? "
" mba jiji sama juju kemana? "
" ada..tapi enzy ijin mama dulu..boleh? "
Nona berfikir sejenak, ini memang jam makan sore Rakai dan Nayanika. Makanan mereka pun telah ia siapkan.
" iya sayang..boleh..tapi sama mba Juju ya.."
" yeee...asiiikkk!!! oke maaa..." jawab Frenzy dengan girang sembari berlari keluar kamar, ditandai dengan suara pintu yang tertutup dengan suara keras.
Nona hanya tersenyum geli sembari menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya pun kembali melanjutkan aktifitas mandinya.
***
Setelah selesai membersihkan tubuh, Nona pun keluar kamar. Dia melangkahkan kaki ke arah kamar Rakai dan Nayanika yang berada di seberang kamarnya. Suasana hening, hanya terdengar celotehan suara Rakai.
Tangannya terulur memegang handel pintu dan membukanya. Pandangannya tertuju ke arah meja yang berada di tengah ruangan. Tampak mangkok berisi makanan Rakai masih utuh. Sedangkan dirinya melihat Frenzy tengah duduk di sebelah rakai yang dibaringkan di atas bouncher.
" lhooo..katanya suapin dedek? kok mangkoknya masih penuh sayang? " tanya Nona sembari mendekati kedua anaknya. Frenzy pun menoleh
" ini lagi enzy suapin..tadi enzy bikinin makanan sendiri buat dedek.." ucap gadis kecil itu polos
Nona terkejut kemudian menarik mangkok yang berada di tangan mungil. Dirinya mencium bau wangi dari mangkok bulat berwarna pink yang notabene adalah mangkok mainannya Frenzy.
" astaga frenzy!!!! Rakai kamu suapin apa?? mbaakk Jijiiiiii...." Nona berteriak dengan suara menggelegar membuat Frenzy kaget dan menangis seketika karena ini kali pertama melihat sang Mama berteriak sekeras itu.
Nona mendekati Rakai yang tengah berteriak-teriak kegirangan dan mulut belepotan cairan berwarna putih bercampur dengan sedikit warna kemerahan.
" ini apa frenzy??? " tanyanya dengan mata melotot
" hiks..itu..itu..enzy campurin itu sama tomat buat ma..makan..ma..makannya dedek.." jawabnya terbata-bata di sela sela tangisnya sembari menunjuk wadah bedak bayi tabur berwarna biru milik adiknya.
" astaaaagaaaaaa frenzyyyyy!!!!!! " teriak Nona sembari mengangkat tubuh gempal Rakai dan berlari keluar kamar. Sampai pintu dia berpapasan dengan mbak Jiji yang tengah tergopoh-gopoh berlari menghampirinya
" ada apa nyonya? "
" kamu darimana sih? kenapa bisa Rakai berdua dengan Frenzy?? dia suapin Rakai pake bedak campur tomat, aku gak tau Rakai makan seberapa banyak!!! " teriak Nona dengan wajah marah.
Mbak Jiji gemetar ketakutan
" maaf nyonya..tadi perut saya enggak enak, saya ke toilet sebentar..."
" mbak juju kemana? kenapa kamu tinggal sendirian mereka berduaa?? "
" Juju suapi Nayanika di taman belakang nyonya.."
" ah sudahlah, kamu urus Frenzy, saya mau bawa Rakai ke rumah sakit..!! "
Dengan setengah berlari, Nona menyambar ponsel yang berada di atas nakas kamar, sekaligus mengambil kunci mobil. Tergopoh-gopoh dirinya berlari menuruni tangga, sampai di ujung tangga dia berpapasan dengan Mama Neni yang baru saja pulang dari arisan.
" mau kemana nak? kok buru-buru? "
" kerumah sakit ma.."
" rumah sakit? kenapa? "
" Frenzy suapin Rakai pakai bedak campur tomat " jawabnya sembari berlari menuju arah mobil dan membuka pintunya.
Sepersekian detik mama Neni melongo, kemudian dengan secepat kilat dirinya berlari ke arah mobil.
" udah, kamu duduk samping,biar mama yang nyetir.."
Tak berapa lama, mereka berdua sudah sampai di rumah sakit yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Dan Mama Neni benar-benar mengendarai mobil dengan kecepatan seperti ambulance.
Apa jangan-jangan waktu masih muda, mama pernah jadi sopir ambulance ya? ngebutnya cakep bener. haha.
Dalam waktu singkat, Rakai mendapat penanganan. Dokter menguras isi perut Rakai. Dan hebatnya bayi tampan itu sama sekali tak menangis.
Dia mengusap wajah cantiknya dan membayangkan kejadian yang baru saja ia lewati. Tiba-tiba pintu ruangan VIP tersebut terbuka lebar, tampak Vigra sudah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir.
Ahh...sampai lupa menghubungi papa Vigra. Pasti ini Mama yang menelponnya.
" kenapa Non? rakai kenapa?" tanyanya sembari mendekati sang anak yang tertidur pulas di atas ranjang pasien.
" maaf mas gra..aku teledor.."
Nona pun menjelaskan dengan detail awal mula kejadian tersebut bisa terjadi dan di akhiri dengan penjelasan dokter bahwa Rakai baik-baik saja. Vigra pun meraih tubuh mungil sang istri dalam pelukannya.
" yaudah..gak papa..yang penting sekarang Rakai udah sehat..trus Frenzy gimana? kamu bentak-bentak dia kan? pasti sekarang dia sedih banget.."
Nona menghela nafas dan dengan wajah penuh penyesalan dia berkata
" aku panik mas..aku kaget..refleks aja marahin dia...ahh..gimana ini,tadi pas aku tinggal dia masih nangis.."
" yaudah, setelah ini kita ketemu frenzy..Mama udah pulang tadi soalnya mbak Jiji katanya telpun Frenzy nangis terus sedari tadi.."
Nona pun semakin merasa bersalah telah membentak anak gadisnya yang masih balita tersebut. Bagaimana pun dia masih belum paham.
****
Benar saja, sesampainya dirumah Frenzy sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah lebih dari dua jam tak berhenti menangis.
Nona pun semakin merasa bersalah ketika melihat mata anak gadinya yang membengkak. Di elusnya perlahan pipi dan jidat Frenzy secara perlahan, namun gerakan tangannya membuat sang gadis membuka matanya perlahan.
Ketika melihat wajah sang mama yang tersenyum memandanginya, pecahlah tangis gadis itu.
" maaaamaaa..huaaaa...maafin enzyy mamaa...mamaaa.." Air mata kembali tumpah membasahi pipi merahnya. Nona langsung meraih tubuh kecil itu dalam pelukannya
" mama minta maaf ya sayang..udah marah marah, mama cuman kaget liat dedek Rakai kamu suapin bedak.."
" enzy takut sama mama..mama menakutkan.." ucapnya sembari sesenggukan
" maaf ya syaang..itu pertama dan terakhir mama bentak kamu nak..maafin mama..."
" enzy juga maaf ma.."
" iya sayang..mama maafin..tapi besok gak boleh ya? bedak itu bukan untuk di makan sayang..."
" kalo tomat? " tanyanya polos
" tomat bisa dimakan tapi kalo dicampur sama bedak, gak boleh nak..tuh, dedek Rakai sampai harus di suntik sama pak dokter tadi.."
" iya? dedek Rakai pasti nangis..maaf yaa.." tangisnya kembali pecah.
Pintu terbuka dan Vigra masuk kedalam kamar Frenzy, melihat sang papa datang, frenzy langsung melompat kedalam pelukan sang Papa.
" papaaaa..maafin enzy ya.." tangisnya kembali pecah
" iya..kan frenzy ga tau..besok-besok jangan lagi ya..frenzy sayang sama dedek Rakai kan?"
" sayaang banget..sama dedek Nayanika juga.."
" oke bagus..yaudah frenzy sekarang bobok ya..tuh matanya gede gitu kebanyakan nangis.."
" tapi kelonin mama ya.."
" papa enggak? "
" enggak, papa bauk belum mandi.."
Vigra tergelak, dirinya memang belum membersihkan tubuh karena begitu sampai rumah dirinya langsung menyidang kedua baby sitternya. Kenapa bisa sampai kecolongan hal-hal yang cukup membahayakan anak-anaknya.
Dibaringkannya tubuh mungil itu di atas ranjang. Menyelimuti kemudian mencium keningnya.
" yaudah, kelonin mama bentar trus bobok ya.."
" kok bentar? kenapa? " tanyanya polos
" ya kan mama harus ngelonin Papa juga.."
Jawabannya mendapat pelototan sang istri namun mendapat anggukan setuju dari sang anak. Seperti biasa , Vigra tersenyum tengil dan berbisik ke arah Nona
" buruan ya..papa keloninnya sambil ***** juga ya.."
Namun sebelum cubitan mendarat di perutnya, dirinya sudah bergerak cepat menuju arah pintu,tak lupa sembari melakukan kissbye ke arah dua wanita yang ia cintai.