
Seperti biasa, tiap hari minggu Vigra datang mengunjungi frenzy. Nona juga libur membuat kue jika hari minggu.Dia masih bekerja di toko roti nyonya diana, dengan sistem work from home. Gajinya amat sangat cukup untuk membiaya hidup dirinya dan juga frenzy. Karna dia tak perlu membayar biaya kontrakan,karna di awal menikah dulu mendiang suaminya sudah menyewa rumah ini 3 tahun lamanya. Dan Ini adalah tahun ketiga dia menempati rumah ini, itu artinya masa kontrak rumah ini sebentar lagi habis. Dan Nona belum memiliki uang yang cukup untuk menyewa rumah ini walo untuk satu tahun saja. Tapi dia diam saja. Enggan membicarakan hal ini dengan vigra.
Ketika vigra sampai dirumah, frenzy sedang tantrum.Nangis guling-guling teriak teriak. Tergopoh gopoh Vigra mendatangi anak itu lalu menggendongnya, dan dia heran ketika melihat Nona hanya duduk memandangi sang anak yang sedang menangis.
" kok di biarin sih non? nangis gini... sampe capek tuh mukanya.." kata vigra sambil mengusap wajah frenzy yang masih sesenggukan
" gapapa mas..dia lagi aku sapih.."
" sapih? " ucapnya tak paham
" iya,di sapih..bentar lagi dia 2 tahun mas..jadi ***** nya udahan..nah ini udah hari ketiga.. dia gak *****.. cuman tiap ngantuk dia nangis minta ***** "
" oh gitu...yaudah..boboknya papa gendong aja ya.."
" jangan digendong mas.."
"lah kenapa? ***** g boleh,gendong g boleh..kan kasian"
" kalo mau bobok digendong,nanti aku yang repot mas ...kalo mas gra gak diisini nanti dia boboknya minta gendongan .."
" oh gitu..masuk akal...yaudah..papa kelonin di kamar ya frenz? papa elus elus ya..."
Sang anak mengangguk. Vigra berjalan ke arah kamar lalu berhenti,menengok ke belakang
" mama minta di keloni sambil di elus elus juga gak?" tawarnya dan di sambut lemparan boneka milik frenzy tepat mengenai dahinya
"aduuhh..mama barbar frenz...liat aja besok pasti minta terus "
Muka Nona memerah,menahan malu. Dadanya berdesir. Untuk membuang perasaan malunya,dia menyibukkan diri membersihkan ruang tamu yang berantakan.
Setengah jam kemudian, vigra sudah keluar kamar. Frenzy sudah tidur. Dia mendekati Nona yang sedang duduk di sofa .
Nona menoleh
" frenzy udah bobok mas?"
Vigra mengangguk. mendudukkan tubuhnya di sebelah Nona. Hati nona berdesir, halah..cuman di jejerin aja deg degan.
" kalo udah di sapih, bearti dia nanti minum susu formula?"
" iya mas..udah mau dua tahun, ASI juga udah gak berpengaruh buat dia..jadi harus susu..tapi kalo makannya dia banyak, gak usah susu gapapa kali mas.."
"udah..tetep susu aja..kasihan..nanti aku ya yang beliin dia susu ya.."
" aku juga sudah bisa beliin dia susu non..aku udah kerja sekarang.."
" iya mas..tapi kan.."
" iya aku tau..aku belum resmi jadi papa dia, tapi kalo ak latian beliin dia susu dari sekarang, gak ada salahnya kan?"
Nona diam kemudian mengangguk.
" oh iya..dulu kata kamu rumah ini disewa suami kamu 3 tahun kan? "
ah..tepat sekali. vigra membahas sesuatu
yang sedang dipikirkan Nona.
" iya mas..kenapa?"
" bukannya bentar lagi udah 3 tahun ya? trus apa rencana kamu? "
" hmm..belum tau mas.." jawabnya lirih.
" kalo kamu tidak mau kehilangan kenanganmu sama suami kamu disini, kita beli aja rumah ini non..gimana?"
" beli mas? uang darimana?"
" nanti aku ngepet dulu lah non.."
ucapnya sambil tertawa dan mengusap usap kepala nona. Sejurus kemudian Vigra menarik nona dalam pelukannya.
" kamu kalo mau cerita, cerita aja non..sekarang kamu enggak sendirian kan.." ucapnya sembari mengelus elus pundak nona dalam pelukannya.
"mas..maaf..apa aku boleh mengunjungi makam mas Freza? tapi sama kamu mas.."
pintanya lirih.
Vigra tersenyum,menangkupkan kedua tangannya di pipi lembut Nona
" tentu boleh sayangkuu..aku akan mengantar kamu kesana dengan senang hati..sekalian aku kenalan deh..frenzy juga belum pernah kesana kan?"
Vigra mencium kening Nona lalu membawanya kedalam pelukannya, menunggu Frenzy bangun sambil berpelukan di sofa ternyata nikmat. Belum halal, jadi jangan lebih dari pelukan ya.