
Satu bulan sejak kematian sang suami, Nona menyandang status janda muda. Ibu panti sudah meminta nona untuk tinggal di panti lagi. Akan tetapi Nona menolak, dia ingin tinggal dirumah kontrakannya. Karna meski sebentar dirumah itu penuh kenangan bersama suaminya.
Sebulan penuh dia hanya menangis meratapi nasib yang teramat buruk, kini saatnya dia bangkit kembali. Nona kembali bekerja di toko roti, kembali beraktifitas menghabiskan waktu untuk bekerja, mencoba mengkreasikan resep resep yang sudah dia pelajari. Sang majikan membiarkannya dan selalu mensuport, karna dia tau kesulitan apa yang sedang di alami oleh pegawai yang disayanginya itu.
Pagi ini, bangun tidur tiba-tiba dia merasa tidak enak badan. Rasanya mual sekali, dia turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi,muntah-muntah.
ahh..apa karna seharian kemarin aku cuman makan sekali ya.gumamnya.
Nona membuat teh hangat untuk meredakan mualnya. Lalu bersiap berangkat bekerja.
Sesampainya di toko, sang majikan menyambutnya, melihat wajahnya yang pucat,
"kamu sakit non?" tanya wanita paruh baya itu
"agak gak enak badan nyonya..tadi pagi muntah, mungkin karna kemarin telat makan "
" yasudah, kamu istirahat dulu..mau minum obat?" tawarnya
" gak usah nyonya..saya makan aja, abis ini pasti semangat lagi!!!"
sang majikan mengacungkan dua jempolnya.
Selesai makan siang, nona kembali kedapur bermaksud membuat satu pesanan kue lagi.
Akan tetapi ketika mencium bau roti selesai dipanggang, tiba tiba dia menutup mulutnya, perutnya terasa d aduk-aduk. Dia menutup mulut dan berlari ke kamar mandi. Muntah lagi. Habis deh yang tadi di makan.
Keluar dari kamar mandi, dia kaget ketika sang majikan sudah berdiri di belakangnya.
"kamu gak papa non?" tanyanya khawatir.
Nona menggeleng.
" ayo..ikut saya sebentar"
nona mengikuti sang majikan bernama nyonya diana memasuki ruang pribadinya.
"kapan kamu terakhir menstruasi?"
Nona mengernyitkan dahi tidak paham. Lalu mencoba mengingat-ingat
"hmmm..sharusnya sudah minggu lalu sih nyonya...memang kenapa?"
Nyonya diana mengeluarkan sesuatu dari dalam laci lalu menyerahkan kepada nona.
"saya barusan membelinya, coba di cek.."
"apa ini nyonya...tespeck?" tanyanya sembari membaca tulisan di benda tersebut.
Wajahnya tampak bertambah pucat.
**
Dan kini, Nona sedang duduk menangis di dalam ruangan nyonya diana yang masih setia mengelus elus punggungnya
"bagaimana ini nyonya..suami saya baru saja meninggal..apa saya bisa menjadi seorang ibu..huhuhu...anak ini akan menjadi anak yatim sama seperti saya.." terisak isak dia menangisi meratapi nasibnya.
" sudah..jangan begini...ada benih freza disini..dia tidak meninggalkan kamu sepenuhnya..justru kamu harus semangat..jangan merasa sendiri..ada saya..anggap saya ibu kamu nona...saya akan bantu kamu..kamu harus yakin itu.."
ucapnya sembari memeluk tubuh kecil pegawainya.
" harusnya ini menjadi kabar bahagia, tapi kenapa saya malah menangis...semua terjadi begitu cepat.. menikah, jadi janda dan sebentar lagi jadi ibu..apa saya bisa melewati ini semua nyonya.." ratapnya
" bisa!! pasti bisa!! kamu harus semangat!!"
Nona hanya mengangguk sambil terus memeluk nyonya diana. Hanya dia satu-satunya tempatnya bersandar, dan nantinya dia harus bisa berdiri sendiri tanpa sandaran siapapun. Dia harus bisa!!
Ini terakhir kalinya dia akan menangisi meratapi nasibnya,karna setelah ini dia tidak akan pernah meneteskan air mata lagi, demi buah hati yang sebentar lagi akan lahir menemaninya di dunia ini.