Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 9 ~ Dunia Itu Sempit



“Ini rumah Bik Elah, jadi Ibu Arini?” tunjuk Cakra pada Airini dan menatap Bik Elah.


“Putri Bibi,” jawab Bik Elah.


Cakra terkekeh mendengar jawaban dan mengetahui kebenaran hubungan mereka bertiga.


“Ternyata dunia itu sempit, tiap hari Bik Elah mengurus aku di rumah ternyata putrinya juga menjadi pembimbing aku di sekolah,” tutur Cakra.


“Sudah sore, sebaiknya Den Cakra pulang. Tuan dan Nyonya akan kembali sore ini,” titah Bik Elah.


“Biarkan saja,” elak Cakra yang kemudian meminta masuk ke rumah. Bik Elah melarang dan mengatakan sudah memasak kesukaan Cakra di rumahnya.


Akhirnya Cakra pun pergi, Bik Elah segera mengajak Arini masuk.


“Kamu magang di sekolah Cakra?”


Arini menganggukkan kepalanya. Benar kata Cakra kalau dunia ini sempit, karena mereka bertiga ternyata saling terkait. Bik Elah sudah bekerja di rumah Cakra dari laki-laki itu masih di berumur lima tahun bahkan sampai sekarang sudah SMA.


Kalau Cakra merespon pertemuan mereka dengan terkejut lalu tertawa, berbeda dengan Arini yang khawatir kalau sampai didengar sekolah kalau dia hanya putri dari seorang asisten rumah tangga. Arini bukan malu tapi takut dihentikan magangnya, mengingat sekolah itu adalah sekolah elite.


“Padahal tadi siang aku mengunjungi rumah Cakra tapi hanya sampai pintu gerbang,” ujar Arini.


“Memang susah masuk ke rumah mereka kecuali kamu ada orang yang dikenal dan sudah janji. Kenapa kamu bisa diantar Cakra? Jangan bilang kalau kalian ….”


“Kalian apa?” tanya Arini. “Cakra siswa bimbingan aku Bu. Dia sering berulah dan sering dipanggil lalu BK menyerahkan tanggung jawab Cakra di bawah bimbingan aku.”


“Hm, dia bukan nakal tapi hanya cari perhatian. Orang tuanya terlalu sibuk, makanya dia seperti itu. Malah lebih tahu asisten rumah tangga kalau kamu mau tanya mengenai Cakra dibandingkan orangtuanya.”


“Ah, kebetulan sekali. Jadi aku tidak perlu bertemu orangtuanya. Kita ngobrol tentang Cakra ya Bu,” ajak Arini.


“Nanti saja, sekarang kamu mandi dan istirahat. Rambut kamu lepek dan wajah kamu lelah sekali.”


Bagaimana nggak lelah, orang diajak lari menjauh dari tawuran oleh Cakra, batin Arini.


“Baru pulang kamu?” tanya Bagas Candra Yuda yang melihat putranya datang. saat ini orangtua Cakra sedang menikmati sore di beranda rumah.


“Hm,” jawab Cakra.


“Duduk!” titah Bagas menunjuk sofa di depannya. Cakra yang akan langsung ke kamar pun urung dan menuruti permintaan Papinya.


Laki-laki itu menatap Papi dan Maminya yang biasa saja ketika melihatnya padahal sudah lebih dari satu minggu mereka tidak bertemu. Kadang Cakra berpikir apakah dia bukan anak kandung orang tuanya karena sering diabaikan.


Sebenarnya bukan hanya Cakra yang merasa diabaikan, putra pertama keluarga tersebut pun mengalami apa yang dirasakan Cakra dan saat ini sudah berkeluarga dan menetap di luar negri.


“Waktu itu ada yang menghubungi Papi, katanya pembimbing kamu di sekolah. Kamu berulah apalagi sampai gurumu mengatakan agar Papi memberikan perhatian dan memastikan kamu tidak berulah?”


Cakra bergeming, seharusnya tanpa bertanya sang Papi tahu apa yang diinginkan oleh Cakra.


“Kamu jangan aneh-aneh Cakra, kami sibuk untuk kamu juga. Memang dari mana kamu menikmati kemewahan ini kalau bukan karena usaha kami,” ungkap Tanti Sukma, Mami Cakra.


“Tapi aku memang butuh perhatian dari kalian, bukan hanya dari asisten rumah tangga yang lebih peduli denganku,” sahut Cakra. “Aku tanya sama Mami, aku punya tanda lahir di mana dari tubuhku dan tubuhku ini intoleran terhadap makanan apa?”


Tanti hanya diam, karena yang ditanyakan Cakra memang dia tidak tahu menahu. Sejak Cakra lahir lebih banyak diurus oleh baby sitter dan setelah dua bilan dia langsung aktif kembali dengan bisnis dan usahanya.


“Kenapa diam? Mami nggak tahu semua itu bukan?”


“Cakra, jaga bicaramu.”


Cakra pun beranjak dari duduknya dan menuju kamar. Bagas sempat memanggil Cakra agar kembali tapi Tanti menghentikannya.


“Sudahlah Pih, yang dikatakan Cakra ada benarnya. Kita memang tidak begitu mengenal Cakra karena terlalu sibuk. Apa Cakra kita pindahkan saja sekolahnya ke luar, jadi kita bisa mudah mengawasinya.”


Sedangkan di kamar, Cakra melempar asal tas sekolahnya lalu dia merebahkan diri di ranjang dengan tumpuan kedua tangan yang di bawah kepala dan menatap langit-langit kamarnya. Laki-laki itu sempat mengirimkan pesan pada ketiga temannya kalau malam ini tidak jadi ke tempat biasa, moodnya sedang buruk.


Cakra bahkan melewati makan malam. Setelah membersihkan diri dia memilih tidur, bahkan tadi sempat mengirimkan pesan pada Arini yang belum mendapatkan balasan.