Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 26 ~ Terluka



Sudah seminggu lebih kepergian Arini dan hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah. Cakra bergegas pulang untuk menemui Papinya yang pulang dari luar kota. Dia perlu memastikan sesuatu sebelum bertindak, apalagi kalau bukan mengenai Arini.


Meskipun dalam mood yang kacau, Cakra tetap fokus dan menjalankan ujian dengan baik. Semua itu dia lakukan sesuai dengan arahan dan nasihat Arini saat masih menjadi pembimbingnya.


“Jangan sampai kamu menyesal, karena penyesalan selalu datang terlambat.”


“Hidup kamu itu enak, fasilitas mewah sudah tersedia sejak kamu lahir. Tidak seperti orang lain yang harus berusaha dulu untuk menikmati atau mendapatkan sesuatu.”


Berbagai nasihat Arini seakan terdengar di telinganya, membuat Cakra begitu merindukan gadis itu.


“Kamu di mana Arini,” gumam Cakra.


“Langsung pulang?” tanya Iqbal.


“Hm.” Cakra sudah mengenakan jaket dan helmnya. Dua sahabat lainnya hanya menatap kepergian Cakra karena tahu sifat laki-laki itu.


“Dia bener mau pulang atau ke tempat lain?” Ucup berkata sambil menaiki motornya. “Ternyata cinta benar bisa buat orang buta ya, contohnya si Cakra. Udah buta, mungkin yang dia lihat nggak ada perempuan lain selain Bu Arini.”


“Bukannya lo juga gitu sama si Imas. Cinta buta bahkan lain di mulut lain di hati,” ejek Kama yang langsung mendapatkan makian dari Ucup.


“Eh, kalian ikut nggak?” tanya siswa lain pada ketiga rekan Cakra.


“Ikut ke mana?” Ucup yang tidak mengingat ada agenda apapun. Walaupun ujian sudah berakhir mereka tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan corat coret.


“SMA X, mau serang kita sore ini dan kita sepakat bertemu di satu lokasi jadi nggak nyerang sekolah.”


Kama, Iqbal dan Ucup saling pandang bergantian, kalau sebelumnya mereka pasti akan semangat menerima ajukan itu tapi ini mereka sudah siap lulus apa iya harus terlibat juga kegiatan yang menurut istilah Bu Arini tidak ada manfaatnya bahkan hanya menghabiskan waktu dan tenaga.


 "Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Tanti menyambut kedatangan putranya. 


Cakra hanya berdeham dan mengabaikan wanita yang sudah melahirkannya. Beberapa hari ini baik Mami atau Papinya, memang tidak terlihat karena kembali larut dengan kesibukan mereka. 


Mendengar orangtuanya kembali ke rumah, Cakra bergegas untuk menemui Papinya.


"Di mana Papi?"


"Di ruang kerjanya, kamu mau makan siang? Biar Mami minta Bibi siapkan," ujar Tanti penuh semangat. Berharap setelah kepergian Bik Elah, hubungannya dengan Cakra akan membaik. 


Cakra terdiam, lalu menoleh. "Aku ingin makan sup jamur rempah buatan Bik Elah, apa Mami bisa kabulkan untukku atau buat dengan rasa yang sama?" 


Tanti menatap wajah putranya, Cakra jelas mengejeknya yang tidak bisa memasak, mana mungkin bisa membuat masakan dengan rasa yang sama seperti Bik Elah buat. 


"Cakra, Mami berharap hubungan kita akan membaik setelah wanita itu pergi. Nyatanya ...." 


"Mami yang buat hubungan kita seperti ini. Kalian yang menjauhkan aku dari hidup kalian. Aku bukan hanya butuh kemewahan tapi aku butuh juga perhatian."


"Cakra, pelankan suaramu." Bagas sudah berada di antara Cakra dan Tanti. 


"Kebetulan Papi ada di sini. Aku harap Papi tidak terlibat dengan kepergian Arini dan Bik Elah, walaupun apa yang aku tahu dan informasi yang aku dapatkan mendukung hal itu."


 Bagas melipat kedua tangannya di dada dan menatap lekat wajah putranya. 


"Papi lakukan itu demi kebaikan kamu, tidak pantas kamu bersanding dengan gadis yang ibunya seorang pembantu rumah tangga."


"Bagian mana yang tidak patas?" tanya Cakra dengan intonasi cukup tinggi. 


"Cakra, pelankan suaramu," tegur Tanti.


"Kebaikan mana yang menurut kalian terbaik untukku, sedangkan kalian tidak pernah ada untukku." 


"Jangan mengacau, cukup lanjutkan hidupmu dengan ikuti perintah papi. Gadis itu tidak pantas berada di tengah keluarga kita." 


"Kalau menurut kalian Arini tidak pantas untukku, kalian pun tidak pantas menjadi orangtuaku,” ujar Cakra lalu pergi meninggalkan orangtuanya.


“Cakra!” teriak Bagas.


Cakra sudah berada di atas motor lalu membuka ponselnya dan membaca pesan grup chat yang mengajak untuk sollidaritas atas nama sekolah dalam kegiatan tawuran.


“Halo, Cak. Lo di mana?” tanya Iqba di ujung telepon.


“Gue otw ke lokasi. Kita ketemu di sana.”


“Lo serius kita ikut tawuran?”


“Hm.”


Cakra mengakhiri panggilan telepon dan melaju motornya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah disepakati. Seperti biasa, Cakra dan rekan-kannya memarkirakan motor mereka di tempat rahasia lalu mempersiapkan alat yang digunakan untuk membela diri dan menyerang.


“Udah nggak sabar gue,” cetus Ucup.


Cakra menatap garang ke arah di mana lawan mereka akan datang.


“Cak, masih ada waktu untuk berubah pikiran,” ujar Iqbal.


“Nggak, gue udah yakin. Untuk kali ini, gue akan berjuang mati-matian.”


Iqbal dan Kama saling pandang, menduga ada yang salah dengan Cakra. Ini bukan lagi persoalan Arini yang pergi tanpa jejak.


“Mereka datang,” teriak teman Cakra.


Cakra dengan mistar baja panjang di tangan kanannya, menatap garang ke arah di mana remaja seusianya berlarian sambil menghunus senjata mereka.


“Serbuuuuuu!” entah siapa yang berteriak membuat Cakra langsung berlari diikuti oleh yang lainnya.


Kejadiannya cukup cepat dan sungguh crawded, masyarakat yang ada di loaksi tidak berani menghalangi atau melerai karena takut terkena senjata yang dibawa oleh para remaja tersebut.


“Aaaaa,” teriak Cakra mengarahkan sabetan mistar baja yang dia pegang tidak tentu arah. Entah mengapa dia seakan mendengar suara Arini.


“Cakra, berhenti.”


Sesaat Cakra terdiam lalu ….


Bugh.


“Cakra, awas,” teriak Kama.


Seseorang yang sudah terkena sabetan dari Cakra membalas dengan melukai perut laki-laki itu. Cakra memegang perutnya yang tiba-tiba terasa perih dan warna kemeja yang dia kenakan sudah berubah berwarna merah.


“Seret dia.”


Cakra masih lengah lalu mendepatkan pukulan dan tendangan. Kama serta yang lain tidak bisa menjangkau Cakra karena sudah dikelilingi oleh lawan sampai akhirnya terdengar sirine mobil polisi, membuat lawan mereka kocar kacir.


“Cakra,” ujar Iqbal. Ketiga laki-laki itu mematung menyaksikan tubuh Cakra tergeletak di jalan dengan bersimbah darah.


“Hubungi ambulance,” teriak Iqbal yang tersadar dan segera berlari menghampiri Cakra. “Cak, sadar Cak.” Iqbal membalik tubuh Cakra. Wajah laki-laki itu lebam dan luka di sana sini. perut Cakra sudah koyak dan kaki yang sepertinya luka parah.


“Ambulance!” teriak Iqbal lagi.


Kama menyugar rambutnya menyaksikan tubuh Cakra sudah tidak berdaya sedangkan Ucup sedang melakukan panggilan telepon dengan ponselnya.


“Cakra, lo nggak boleh mati. Ingat lo nggak boleh matiii.”


Kama menjatuhkan dirinya melihat Iqbal yang meraung dengan tubuh Cakra di pangkuannya. “Cak, jangan begini,” gumam Kama. “KIta janji akan sukses sama-sama, seharusnya gue bisa tolak perintah lo untuk gabung.”


Kama hanya bisa memgusap kasar wajahnya saat mobil polisi datang dan membawa pelajar dan remaja yang masih tersisa.


“Cakra.”