Arini, I'M In Love

Arini, I'M In Love
Bab 34 ~ Harus Bertemu



Pesawat telepon di meja Arini berdering, membuyarkan fokusnya yang sedang membuat laporan mengenai beberapa kasus pendampingan yang ditangani.


“Ya,” ujar Arini.


“Maaf Bu, ada tamu tapi tidak ada dalam daftar janji,” ujar star resepsionis.


Arini menoleh pada jam dinding, sudah cukup sore dan lewat jam pulang.


“Siapa dan apa keperluannya?”


“Dokter Iqbal, katanya penting tentang kondisi kejiwaan dan keselamatan seseorang.”


Arini memijat dahinya, belum mengenal pria yang dimaksud dan tujuannya sungguh aneh. Bagaimana bisa keselamatan seseorang karena masalah bertemu dengan dirinya atau tidak.


“Ya sudah, antar ke ruanganku. Kamu sudah boleh pulang,” titah Arini.


Arini berniat pulang lebih lambat karena keluar dari kantor saat ini hanya akan terjebak dalam kepadatan jalan raya.


Tidak lama pria yang ingin bertemu dengan Arini sudah berdiri di depan pintu ruangan wanita itu, mengetuk pintu dan menyapa. Arini dan pria bernama Iqbal sudah duduk berhadapan di sofa ruang tersebut.


Iqbal menghela nafasnya, menatap wanita di hadapannya.  Arini merasa tidak nyaman ditatap oleh pria yang belum dia kenal.


“Dokter Iqbal, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Arini.


Iqbal terkekeh mendengar pertanyaan wanita itu.


“Mungkin Ibu lupa tapi saya juga yang lain masih ingat walaupun Ibu terlihat lebih dewasa dan cantik tentunya,” sahut Iqbal membuat Arini semakin bingung.


“Jadi kita pernah kenal atau pernah bertemu? Maaf, tapi saya tidak ingat lalu masalah keselamatan seseorang yang dokter maksud itu, bagaimana?”


“Iqbal, panggil saja Iqbal. Ibu biasa panggil saya begitu.”


Arini menghela nafasnya, masih belum mengenali pria di hadapannya. Berusaha mengingat pun nihil, wanita itu masih tidak ada gambaran siapa pria di hadapannya.


“Aku Iqbal, Ucup, Kama dan Cakra. Masih tidak ingat?”


“Iqbal, serius kamu Iqbal?” tanya Arini dengan wajah berbinar. Tidak percaya jika salah satu bocah nakal yang pernah dia kenal ternyata saat ini sudah menjadi seorang dokter.


“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Iqbal sambil tersenyum.


“Seperti yang kamu lihat. Wah, aku tidak menduga kalau kamu sudah menjadi dokter sekarang. Bagaimana kabar yang lain?”


“Ucup sekarang menjadi pengajar di SMA Angkasa, bahkan dia menjadi bagian kesiswaan,” jelas Iqbal.


Arini kembali bergumam tidak percaya dengan profesi rekan-rekan Cakra.


“Kama, ingat Kama ‘kan? Yang sering menggoda Ibu tapi ditikung oleh Cakra, dia ikut jejak orang tuanya menjadi pengusaha.”


“Ya Tuhan, ternyata kalian bisa berubah dan bisa berperan di masyarakat.”


“Waktu ternyata merubah kami semua,” sahut Iqbal. “Kalau Cakra ibu sudah tahu bukan, profesi dia sekarang?”


“Ya, aku tahu. Sudah beberapa kali aku bertemu dengannya. Ah iya, tadi kamu bilang harus bertemu denganku karena ada urusan dengan kondisi kejiwaan dan keselamatan seseorang. Siapa yang kamu maksud?”


Wajah Iqbal berubah serius, dia akan menjelaskan kondisi Cakra mewakili pria itu menyampaikan isi hatinya.


“Bu Arini, sebenarnya saya menemui Ibu karena masalah Cakra. Kondisinya sedang tidak baik.”


“Tunggu, apa maksudmu? Beberapa hari lalu aku bertemu dengannya di persidangan dan tidak terlihat baik-baik saja. Walaupun tidak seperti biasanya,” tutur Arini dengan wajah sendu. Bertemu lagi dengan Cakra sungguh sebuah anugerah apalagi ketika pria itu mengatakan akan memperjuangkannya selama dia belum menikah tapi semakin ke sini Cakra malah acuh.


“Sebelumnya dia memang terlihat ceria seperti Cakra yang dulu tapi … entahlah.”


“Kami hanya khawatir, kalau Cakra akan mengalami apa yang pernah terjadi sebelumnya. Dia hampir kehilangan nyawanya,” jelas Iqbal.


“Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan Cakra?”


Iqbal terdiam sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.


“Dia bercerita dengan percaya diri dan bahagia sudah bertemu dengan Ibu tapi saya sempat sangsi apakah kalian bisa bersama lagi. Waktu bisa merubah segalanya dan ini sudah saya sampaikan pada Cakra. Bisa saja perasaan kalian sudah berubah. Ternyata Tante Tanti melihat perubahan pada diri Cakra, sebagai dokter saya sudah menyadari itu.”


“A-apa yang terjadi?”


“Sepertinya Cakra kembali patah hati, dia sengaja larut dalam kesibukan untuk melupakan perasaan dan cintanya. Saya hanya khawatir, dia akan kembali nekat seperti dulu bahkan membahayakan nyawanya.”


“Tunggu dulu, patah hati dan nekat? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Cakra.”


Iqbal memposisikan tubuhnya lebih tegak dan menatap serius wanita di hadapannya.


“Bagaimana perasaan Ibu pada Cakra, saat ini?”


“Hahh, perasaan aku?” Arini bertanya balik.


Iqbal hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan raut wajah serius menatap Arini.


Arini menunduk dan menghela nafasnya, wanita itu tidak bisa mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya masih ada Cakra dan rasa itu kembali menguat ketika bertemu lagi dengan bocah nakal yang sudah berubah menjadi pria dewasa dan lebih bertanggung jawab.


“Bu ….”


“Aku ….” Arini menjeda kalimatnya. “Bertemu dengan Cakra, apalagi dia sempat memberikan perhatian cukup membuat rasa itu kembali hadir tapi aku sadar dengan diriku. Status kami akan menjadi penghalang dan kepergianku sebelumnya karena hal itu. Aku tidak ingin kembali kecewa dan sakit hati tapi melihat Cakra yang kembali acuh, aku pikir dia sudah bisa membuka hatinya untuk wanita lain.”


Iqbal mengusap kasar wajahnya mendengar penjelasan Arini.


“Ibu tahu, kenapa dia bersikap acuh belakangan ini?”


“Karena dia sudah menemukan cintanya,” jawab Arini asal.


“Karena dia tidak percaya diri. Dia begitu gembira mengetahui Ibu belum menikah tapi berakhir dengan tidak percaya diri karena dengan kondisinya sekarang dan yang aku juga orangtuanya khawatirkan Cakra nekat seperti dulu saat kalian berpisah.”


“Aku tidak permasalahkan kondisi fisiknya, memang Cakra pernah berbuat apa?”


Arini mulai curiga dan menduga hal-hal negatif yang pernah dilakukan oleh Cakra seperti yang dimaksud oleh Iqbal.


“Cakra akhirnya tahu kalau kepergian Ibu karena ulah orangtuanya. Setelah ujian kami menerima ajakan tawuran dan dia paling berani dan berada paling depan. Seakan memiliki banyak nyawa tapi sayang Cakra terluka parah. Nyawanya bahkan hampir melayang dan berkali-kali menjalani operasi dan menunda kelanjutan pendidikannya. Fisiknya saat ini tidak sempurna karena kejadian itu,” tutur Iqbal.


“Apa? Cakra bilang dia kecelakaan bukan karena ….”


Arini tidak dapat melanjutkan ucapannya. Tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Cakra sampai dia nekat dan membahayakan nyawanya sendiri. Entah bagaimana kondisi Cakra saat itu yang hampir meregang nyawa.


Tanpa terasa wajah Arini sudah basah dengan air matanya, apalagi Iqbal mengatakan kalau selama ini Cakra tidak membuka hatinya untuk wanita manapun dan saat bertemu dengan dirinya Cakra malah tidak percaya diri sedangkan Arini masih mempersoalkan masalah status dan restu dari orangtua Cakra.


“Di mana dia sekarang? Aku harus bertemu dengannya, dia harus dengan penjelasanku. Cakra tidak boleh melakukan hal bodoh lagi,” tutur Arini sambil mengusap air matanya.