
Arini tidak mengerti apa yang terjadi dengan Cakra, pria itu benar-benar terlihat tidak baik-baik saja. Hampir satu jam pria itu berbaring sambil terpejam dan akhirnya membuka mata dan beranjak duduk.
“Aku tidak apa-apa,” ujar Cakra saat melihat Arini yang sedang menatapnya dengan dahi berkerut.
“Tapi kamu ….”
Cakra tersenyum dan menepuk ranjang di sebelah dia duduk. “Kemarilah!”
Arini ragu untuk mendekat, berdua di dalam kamar saja sudah salah karena mereka bukan muhrim dan sekarang Cakra mengajaknya naik ke ranjang.
“Hanya duduk saja, aku akan ceritakan apa yang membuatmu bertanya-tanya,” jelas pria itu yang akhirnya membuat Arini mengerti lalu menghampirinya.
Arini dan Cakra saling tatap, duduk bersandar headboard.
“Aku hanya kelelahan, semalaman mempelajari dua kasus baru dan tadi aku berjalan lumayan jauh,” jelas Cakra.
Arini menghela lega, setidaknya kondisi Cakra bukan yang seperti dia pikirkan tapi dirinya masih bertanya-tanya dengan kondisi kaki pria itu.
“Kenapa? Tanya saja apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Ehm, apa yang terjadi dengan ….” Arini tidak bisa melanjutkan pertanyaannya, dia takut menyinggung Cakra.
“Aku kecelakaan jadi ya begini ini.” Cakra sengaja tidak menyampaikan kebenaran di balik kondisi fisiknya. Tidak ingin membuat Arini merasa bersalah, baginya bisa bertemu lagi dengan wanita itu sudah anugrah luar biasa.
“Kenapa tidak meninggalkan pesan? Aku sangat merindukanmu.”
Arini menunduk sambil memilin jemarinya, ingin menjawab kalau dia pun sangat rindu. Bahkan tidak menduga kalau perasaannya pada Cakra kala itu cukup dalam, entah karena rasa cinta yang begitu besar atau rasa bersalah karena pergi begitu saja.
“Tidak perlu merasa bersalah, aku tahu kepergianmu karena Papi.”
“Kamu tahu?”
“Hm. Semua ada hikmahnya karena setelah itu aku kecelakaan, Papi dan Mami akhirnya selalu ada untukku.”
“Benarkah?” tanya Arini.
Cakra menganggukan kepalanya. “Aku merasa seperti remaja, bahkan ketika pulang telat Mami akan mencecar dengan banyak pertanyaan termasuk mengingatkan untuk makan.”
Arini tersenyum mendengar Cakra sudah mendapatkan kebahagian dan kehangatan keluarga. Pernah berulah dan nakal hanya untuk mendapatkan perhatian ternyata bukan solusi tapi Tuhan punya rencana lain untuk memperbaiki hubungannya dengan orangtua.
“Kamu seorang psikolog?”
“Iya, aku mendirikan lembaga bersama beberapa rekan seprofesi. Untuk membantu korban seperti Sasa. Selain itu aku ada kesibukan lain yang lumayan bisa membiayai hidupku.”
“Ah, iya di mana Bik Elah? Aku merindukannya juga.”
“Dia juga merindukanmu. Bahkan saat itu Ibu lebih sering memikirkanmu dibandingkan peduli denganku. Mungkin karena dia lebih mengenal kamu, jadi sangat khawatir kalau kamu akan merasa kesepian."
Cakra menghela nafasnya.
“Mau menginap?”
Arini terkekeh. “Tidak, kita pernah tidur di ruang tamu rumahku tapi saat itu pikiran kita tidak macam-macam. Kalau sekarang, aku tidak yakin. Aku harus kembali, masih ada tugas lain sore ini. Kamu butuh sesuatu, aku bisa ….”
“Aku hanya butuh kamu,” sahut Cakra. “Berikan ponselmu,” titah pria itu.
Alih-alih memberikan ponselnya, Arini beranjak menuju kursi di mana tadi dia duduk. membuka tasnya dan mengeluarkan satu lembar kartu nama. “Ini saja, ada nomor ponselku di sini.”
“Hahh, dasar licik,” ejek Cakra lalu mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu nama miliknya.
“Hubungi aku, kalau sudah sampai.”
Arini hanya tersenyum.
“Pertemuanku dengan Sasa, masih minggu depan. Pastikan kita segera bertemu di pengadilan.”
Cakra melipat kedua tangan di dada sambil menatap wanita yang masih berdiri di hadapannya.
“Apa kamu tidak ingin bertemu denganku lagi? Kenapa harus menunggu saat sidang?”
Arini tersenyum dan mengedikan bahunya, “Selamat sore Pak Kananta. Istirahatlah,” tutur Arini lalu meninggalkan kamar itu.
“Hei, aku masih merindukanmu,” teriak Cakra saat Arini menutup pintu.